TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Lapangan Enghelab di jantung ibu kota Iran berubah menjadi lautan duka sekaligus simbol perlawanan pada hari Rabu. Ribuan warga berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Alireza Tangsiri, komandan angkatan laut Garda Revolusi yang tewas dalam serangan udara Israel.
Dalam konteks ini, prosesi pemakaman berlangsung tepat pada peringatan 47 tahun proklamasi Republik Islam Iran. Hari libur nasional yang biasanya penuh perayaan kini membawa beban emosional yang jauh lebih berat. Rakyat Iran kini berjuang untuk bertahan hidup di bawah bombardir rutin Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung selama satu bulan penuh.
Tangsiri: Sang Arsitek Blokade Selat Hormuz
Peti mati Alireza Tangsiri bergerak perlahan menembus kerumunan massa yang meneriakkan slogan perlawanan. Tangsiri merupakan salah satu tokoh paling senior dan berpengaruh di jajaran Garda Revolusi. Bahkan, dunia internasional mengenalnya sebagai arsitek utama di balik penutupan efektif Selat Hormuz yang melumpuhkan ekonomi global.
“Perang ini telah berlangsung sebulan. Berapa pun lamanya, kami akan terus maju,” tegas Moussa Nowruzi, seorang pensiunan yang hadir di lokasi. Kehadiran massa di pusat kota membuktikan bahwa moral pendukung pemerintah tetap terjaga meski militer AS-Israel menargetkan infrastruktur pertahanan secara masif.
Duel Klaim: Gencatan Senjata atau Perang Berlanjut
Sebelum menyampaikan pidato nasional, Presiden Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial. Trump mengeklaim bahwa Presiden Iran telah meminta gencatan senjata kepada Washington. Namun, pemerintah Teheran segera membantah keras klaim tersebut.
Trump menegaskan bahwa ia hanya akan mempertimbangkan perdamaian jika Selat Hormuz dibuka sepenuhnya bagi pelayaran internasional. Oleh karena itu, ancaman bombardir tetap membayangi warga Iran. Menanggapi gertakan tersebut, para pelayat di Teheran justru menunjukkan sikap tak acuh. Mereka menganggap pernyataan Trump sebagai omong kosong yang tidak konsisten.
Ketangguhan Sistem di Tengah Kehilangan Pemimpin
Meskipun serangan udara telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan banyak pejabat senior lainnya, sistem pemerintahan Iran terbukti masih berfungsi. Secara simultan, Iran tetap mempertahankan kemampuannya untuk meluncurkan rudal dan drone ke wilayah sekitar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Potret mendiang pemimpin dan putranya, Mojtaba Khamenei—yang kini mengambil alih kekuasaan namun belum muncul di depan publik—terpampang di seluruh sudut kota. Para pendukung pemerintah meyakini bahwa musuh memiliki ide yang salah jika menganggap Iran akan melemah hanya dengan membunuh para komandan militer mereka.
Realitas Domestik: Antara Kesetiaan dan Kekecewaan
Di balik narasi perlawanan resmi, terdapat lapisan sentimen publik yang lebih kompleks. Beberapa warga yang sempat mengikuti demonstrasi anti-pemerintah pada Januari lalu masih memendam harapan akan adanya perubahan politik. Meskipun demikian, muncul rasa pengkhianatan yang mendalam terhadap Donald Trump.
“Dia [Trump] mengkhianati orang-orang Iran,” ujar seorang wanita berusia 30-an yang meminta anonimitas. Ia kini tidak lagi mengharapkan perubahan rezim melalui intervensi asing. Baginya, stabilitas dan pemberian kebebasan sipil yang lebih luas sudah cukup untuk diterima di tengah situasi perang yang mencekam di tahun 2026 ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















