Perjalanan Panjang dari Instruksi Moral ke Dunia Imajinasi

Jumat, 15 Mei 2026 - 10:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Menjelajahi dunia kata. Sejarah sastra anak mencatat transformasi radikal dari sekadar alat pendidikan moral menjadi media hiburan dan refleksi sosial yang kompleks bagi generasi muda. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Menjelajahi dunia kata. Sejarah sastra anak mencatat transformasi radikal dari sekadar alat pendidikan moral menjadi media hiburan dan refleksi sosial yang kompleks bagi generasi muda. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Cerita dan puisi untuk anak-anak memiliki sejarah yang sangat panjang. Tradisi ini berakar dari lagu pengantar tidur pada zaman Romawi. Selain itu, beberapa permainan dan rima anak-anak kuno masih bertahan hingga saat ini. Namun, sejarah literatur anak dalam bentuk cetak baru benar-benar berkembang secara spesifik beberapa abad kemudian.

Sebelum tahun 1700, penerbit jarang memproduksi buku khusus untuk kaum muda. Anak-anak biasanya membaca literatur dewasa yang tersedia di rumah. Mereka menyukai fabel Aesop, cerita peri, atau balada populer. Pada masa itu, hanya sedikit buku instruksional yang membantu kemampuan membaca atau menanamkan moralitas tertentu bagi anak-anak.

Abad ke-18: Kelahiran Buku untuk Kesenangan

Keadaan mulai berubah drastis pada pertengahan abad ke-18. Saat itu, banyak orang tua mulai mendukung minat baca anak-anak mereka. Oleh karena itu, penerbit mulai menspesialisasikan diri pada buku yang bertujuan memberikan kesenangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Thomas Boreham memproduksi Cajanus pada tahun 1742 di London. Selanjutnya, John Newbery merilis A Little Pretty Pocket Book yang sangat fenomenal pada tahun 1744. Buku ini berisi rima, cerita, dan permainan anak-anak. Menariknya, Newbery juga memberikan hadiah gratis berupa bola atau bantalan jarum. Formula kemenangan ini segera menyebar luas bahkan hingga dipiratkan di Amerika.

Baca Juga :  Hari Ke-8 Longsor Cisarua, 70 Jenazah Ditemukan - Pencarian 10 Korban Terus Dikebut

Pertarungan Antara Kesenangan dan Pendidikan Moral

Namun, keceriaan tersebut tidak bertahan selamanya. Pemikiran Rousseau dalam Emile (1762) sangat memengaruhi para kritikus saat itu. Rousseau menganggap buku anak-anak selain Robinson Crusoe sebagai pengalihan yang berbahaya. Akibatnya, sastra anak kembali menjadi sarana instruksional yang kaku.

Ibu Sarah Trimmer muncul sebagai suara vokal yang mengecam cerita peri karena dianggap absurd. Melalui majalah The Guardian of Education, ia mendesak agar buku anak selalu memberikan teladan kesopanan. Meskipun demikian, anak-anak sering kali tetap menemukan cara untuk mendapatkan hiburan dari teks-teks moralis yang paling keras sekalipun.

Abad ke-19 dan Kebangkitan Cerita Rakyat

Pukulan telak bagi genre “buku yang memperbaiki moral” datang dari minat pada cerita rakyat. Grimm Bersaudara menerbitkan kumpulan cerita peri yang segera populer setelah terjemahan bahasa Inggris muncul pada tahun 1823. Selain itu, James Orchard Halliwell menerbitkan rima anak-anak untuk masyarakat cerita rakyat pada tahun 1842.

Karya-karya ini memicu gelombang edisi baru yang lebih berpusat pada kebutuhan anak-anak. Penulis mulai menyesuaikan cerita dengan keterbatasan pengalaman hidup pembaca muda. Selanjutnya, akses terhadap buku dengan karakter yang mudah membuat anak berempati menjadi faktor penentu minat baca mereka.

Baca Juga :  Lansia Amerika Kini Lebih Sehat, Mandiri, dan Hemat Anggaran

Pasca-Perang: Dari Dunia Mimpi ke Realitas Sosial

Era 1930-an mencatat puncak sastra anak yang bersifat protektif. Penulis seperti Enid Blyton dan Richmal Crompton menggambarkan petualangan yang aman bagi anak-anak. Dalam dunia mereka, hal buruk tidak akan pernah terjadi pada karakter utama. Bahkan, pecahnya perang besar tidak memengaruhi narasi tertutup tersebut.

Reaksi terhadap “dunia mimpi” ini tidak terelakkan setelah Perang Dunia II berakhir. Penulis mulai mengeksplorasi area minat baru seiring berkembangnya perpustakaan anak. Mereka memindahkan latar cerita dari dunia kelas menengah ke lingkungan yang lebih beragam. Singkatnya, para penulis modern kini berupaya menghapus prasangka sosial dalam literatur mereka.

Berbagi Sastra Lintas Generasi

Sastra anak kini tidak lagi menjadi penghalang antara masa kecil dan kedewasaan. Sebaliknya, karya-karya kontemporer sering kali mendapatkan rekomendasi untuk dibaca oleh orang dewasa maupun anak-anak.

Dengan demikian, sastra anak telah kembali pada keyakinan abad ke-19 bahwa cerita yang baik dapat dinikmati oleh semua generasi. Di tahun 2026 ini, fokus utama penerbitan tetap pada pencapaian positif literatur yang mampu mencerminkan realitas dunia tanpa menghilangkan keajaiban imajinasi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Rabu, 9 September 2026 - 06:00 WIB

Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terbaru

Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta H. Tri Waluyo SH. (Posnews/MR)

JABODETABEK

Tri Waluyo Desak Pemprov DKI Evaluasi Data Desil Penerima Bansos

Jumat, 11 Sep 2026 - 15:35 WIB