Tri Waluyo Desak Pemprov DKI Evaluasi Data Desil Penerima Bansos

Jumat, 11 September 2026 - 15:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta H. Tri Waluyo SH. (Posnews/MR)

Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta H. Tri Waluyo SH. (Posnews/MR)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Data desil penerima bantuan sosial (bansos) kembali menjadi sorotan di Jakarta.

Sejumlah warga yang secara faktual masih membutuhkan bantuan justru tercatat dalam kategori mampu sehingga akses terhadap bantuan berpotensi terhenti.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius Komisi C DPRD DKI Jakarta. Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Tri Waluyo meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI mengevaluasi indikator penetapan desil agar lebih mencerminkan kondisi nyata masyarakat Ibu Kota.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Tri, ketidaksesuaian data tidak hanya berdampak pada bansos. Persoalan serupa juga merembet ke sektor kesehatan dan pendidikan.

“Saya mendapatkan beberapa keluhan warga terkait bansos untuk lansia terhenti karena desilnya kategori orang yang mampu. Padahal, ibu itu tidak mempunyai pekerjaan dan tinggal bersama anaknya yang juga berpenghasilan pas-pasan,” ujar Tri kepada Posnews, Jumat (11/9/2026).

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak antara data administratif dengan kehidupan warga sehari-hari.

Lansia Kehilangan Bantuan karena Desil

Tri mencontohkan warga lanjut usia yang kehilangan bantuan karena sistem menempatkannya dalam kategori kesejahteraan lebih tinggi.

Padahal, kata dia, warga tersebut tidak memiliki pekerjaan dan masih bergantung pada anggota keluarga dengan penghasilan terbatas.

Karena itu, Tri meminta Pemprov DKI tidak hanya mengandalkan indikator administratif. Pemerintah juga perlu memastikan data menggambarkan kemampuan ekonomi warga secara lebih utuh.

“Indikator ini harus disesuaikan dengan kriteria nyata warga Jakarta,” tegasnya.

Sorotan terhadap desil bukan persoalan baru. DPRD DKI sebelumnya juga menilai perubahan data desil berjalan lambat dan dapat menghambat program sosial, pendidikan hingga bansos.

Bahkan, muncul dorongan agar warga memiliki mekanisme pengajuan sanggah secara manual sebagai alternatif ketika perubahan melalui sistem daring berjalan lambat.

Baca Juga :  Polairud Polda Metro Kembangkan Tambak Pesisir Bekasi, 300 Ribu Benih Udang Ditebar

Rumah Keramik Tak Berarti Warga Mampu

Tri juga mempertanyakan sejumlah indikator fisik yang digunakan dalam menentukan kategori kesejahteraan.

Ia mencontohkan kondisi rumah dengan lantai keramik atau dinding permanen. Menurutnya, indikator tersebut belum tentu menggambarkan kemampuan ekonomi penghuni rumah secara keseluruhan.

“Faktanya warga Jakarta rata-rata tinggal di rumah dengan fisik bangunan lantai keramik, berdinding full dan menggunakan air siap minum,” jelasnya.

Dengan kondisi harga kebutuhan pokok dan biaya hidup Jakarta yang tinggi, Tri menilai indikator kemiskinan perlu mempertimbangkan karakteristik khusus masyarakat perkotaan.

Artinya, pemerintah tidak cukup melihat kondisi fisik rumah. Penghasilan, jumlah anggota keluarga, beban pengeluaran, pekerjaan, tanggungan kesehatan dan kebutuhan pendidikan juga perlu dibaca secara menyeluruh.

BPJS Ketenagakerjaan Ikut Jadi Sorotan

Persoalan lain muncul dari kepemilikan BPJS Ketenagakerjaan.

Tri menyebut sejumlah warga, termasuk pengurus RT, RW dan kader kemasyarakatan, diwajibkan mengikuti program tersebut.

Namun, kepesertaan itu menurut dia justru dapat memunculkan persoalan ketika sistem desil membaca status warga sebagai tanda kemampuan ekonomi.

“Di satu sisi RT, RW, dan kader diwajibkan punya BPJS Ketenagakerjaan, tetapi di sistem desil mereka dianggap orang mampu. Ini kan blunder antara aturan desil dengan kebijakan Pemprov sendiri,” ujarnya.

Tri meminta pemerintah menyelaraskan kebijakan agar kepesertaan jaminan sosial tidak otomatis menimbulkan kesimpulan bahwa seseorang memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik.

Pendidikan Anak Ikut Terdampak

Dampak persoalan desil juga disoroti Tri dalam sektor pendidikan.

Ia mengklaim terdapat sekitar 94.000 anak di Jakarta yang putus sekolah.

Angka tersebut menurutnya menjadi alarm bagi pemerintah karena akses pendidikan seharusnya tidak terhambat persoalan administrasi data kesejahteraan.

“Ini miris. Sementara undang-undang mewajibkan belajar 12 tahun. Artinya, regulasi dan kebijakan di lapangan bertentangan,” tutur Tri.

Namun, angka tersebut merupakan klaim yang disampaikan Tri dan perlu dikonfirmasi melalui data resmi terbaru pemerintah sebelum digunakan sebagai angka definitif dalam kebijakan.

Di sisi lain, Pemprov DKI memang menempatkan akurasi data kesejahteraan sebagai bagian penting dalam penyaluran bantuan.

Baca Juga :  Rashdul Kiblat 2026 Terjadi 27–28 Mei, Ini Cara Cek Arah Kiblat Akurat

Dinas Sosial DKI menyebut pemutakhiran data dilakukan untuk memastikan penerima bantuan tetap sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Warga Sudah Mengajukan Sanggahan, Tapi Tak Kunjung Jelas

Masalah berikutnya terletak pada proses perbaikan data.

Tri mengatakan banyak warga telah berupaya memperbaiki data melalui mekanisme yang tersedia. Namun, sebagian warga mengaku prosesnya berjalan lama dan tidak memperoleh kepastian.

“Ketika saya minta untuk melakukan perbaikan data melalui online, mereka jawab bahwa perbaikan data itu sudah diurus dan berulang kali menanyakan ke pihak kelurahan, lebih dari setahun belum ada kejelasan,” ungkapnya.

Padahal, data yang keliru bisa berdampak langsung terhadap kehidupan warga.

Ketika seseorang kehilangan status sebagai penerima bantuan, keluarga tersebut harus kembali mencari jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Karena itu, kecepatan memperbaiki data menjadi sama pentingnya dengan ketepatan saat menetapkan data.

Pemprov Diminta Segera Evaluasi Kriteria

Tri mendesak Dinas Sosial DKI Jakarta mengevaluasi kriteria penetapan desil melalui rencana penerbitan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Pendataan Sosial.

Ia berharap regulasi tersebut mampu memperbaiki proses pendataan sekaligus mengurangi kesalahan penetapan kategori warga.

“Harapannya, anak-anak Jakarta tetap bisa sekolah. Tugas Dinas Pendidikan dan Dinsos adalah bagaimana caranya agar anak-anak kita mau dan bisa bersekolah, serta warga tidak lagi terdampak dengan desil yang tidak sesuai,” katanya.

Saat ini, sistem bansos nasional menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis pemeringkatan kesejahteraan atau desil.

Pemprov DKI sebelumnya juga menjelaskan bahwa warga yang merasa desilnya tidak sesuai dengan kondisi faktual dapat menjalani proses pemutakhiran data sesuai mekanisme yang berlaku.

Dinas Sosial DKI juga masih menyalurkan program Pemenuhan Kebutuhan Dasar (PKD), termasuk bantuan bagi lansia, penyandang disabilitas dan anak dari keluarga prasejahtera.

Data penerima menjadi sangat penting agar bantuan benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hujan Petir Mengintai Bogor, Cek Cuaca Jabodetabek Hari Ini
Konser Andrea Bocelli Picu Polemik, Ribuan Aparat Amankan JIExpo
Cuaca Jabodetabek: Cek Suhu & Potensi Hujan di Kotamu Sebelum Bepergian
Sering Jadi Arena Balap Liar, JLNT Antasari Ditutup Setiap Akhir Pekan
Pramono Datangi 44 Kecamatan, Tak Mau Hanya Terima Laporan
Hati-hati Basah! BMKG Rilis Peringatan Cuaca Jabodetabek Hari Ini, Cek Daftarnya
Minggu 1 November, Hujan Ringan Mengintai Jakarta hingga Tangerang
Kronologi Ledakan Tabung Gas Elpiji di Duren Sawit: Warga Panik Evakuasi Korban

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 06:27 WIB

Hujan Petir Mengintai Bogor, Cek Cuaca Jabodetabek Hari Ini

Selasa, 3 November 2026 - 21:40 WIB

Konser Andrea Bocelli Picu Polemik, Ribuan Aparat Amankan JIExpo

Selasa, 3 November 2026 - 05:31 WIB

Cuaca Jabodetabek: Cek Suhu & Potensi Hujan di Kotamu Sebelum Bepergian

Senin, 2 November 2026 - 20:13 WIB

Sering Jadi Arena Balap Liar, JLNT Antasari Ditutup Setiap Akhir Pekan

Senin, 2 November 2026 - 19:12 WIB

Pramono Datangi 44 Kecamatan, Tak Mau Hanya Terima Laporan

Berita Terbaru

Blaze Entertainment resmi merilis konsol genggam retro Evercade Nexus. Konsol ini menyajikan layar besar, stik analog ganda, dan dukungan ratusan kaset fisik. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Blaze Entertainment Rilis Konsol Retro Evercade Nexus

Rabu, 4 Nov 2026 - 12:46 WIB

FromSoftware mendadak matikan peladen Dark Souls Dua dan Tiga akibat masalah teknis. Pemain kaitkan insiden ini dengan gangguan keamanan sebelumnya. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

FromSoftware Matikan Peladen Dark Souls Dua dan Tiga

Rabu, 4 Nov 2026 - 10:35 WIB

Rumor ungkap alasan EA menutup studio BioWare dan membatalkan Mass Effect. Beban utang membuat EA pilih mendanai Star Wars Battlefront Tiga. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Rumor Ungkap Alasan EA Tutup Studio BioWare

Rabu, 4 Nov 2026 - 10:24 WIB

EPOMAKER rilis tetikus bermain EM Tiga seharga tiga puluh enam dolar. Simak spesifikasi sensor, material serat karbon, dan dok pengisian magnetis. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

EPOMAKER Rilis Mouse EM3 Dengan Fitur Serat Karbon

Rabu, 4 Nov 2026 - 09:22 WIB