TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Suhu politik di Tokyo mendidih. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, melempar pertaruhan terbesar dalam karier politiknya pada hari Senin (26/1). Ia menyatakan secara terbuka bahwa ia akan mundur segera. Langkah ini akan ia ambil jika blok penguasa gagal mengamankan mayoritas dalam pemilihan umum Majelis Rendah mendatang.
Takaichi menyampaikan pernyataan dramatis ini dalam debat pemimpin partai yang panas. Sebagai presiden Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa, ia menegaskan satu hal. Baginya, kekalahan elektoral akan melumpuhkan legitimasinya.
“Kekalahan elektoral akan membuat saya tidak dapat melanjutkan sebagai perdana menteri,” tegasnya di hadapan lawan-lawan politiknya. “Saya juga tidak akan bisa mendorong agenda kebijakan saya.”
Definisi “Kekalahan” Takaichi
Selanjutnya, panelis mendesaknya untuk mengklarifikasi maksud dari “kekalahan”. Takaichi tidak berkelit. Ia menetapkan garis merah yang jelas. Ia berjanji akan mengundurkan diri seketika jika aliansi penguasa gagal memenangkan lebih dari setengah kursi di majelis rendah. Aliansi ini terdiri dari LDP dan Partai Inovasi Jepang (Japan Innovation Party).
Debat tersebut mempertemukan para petinggi politik Jepang. Fumitake Fujita, perwakilan bersama Partai Inovasi Jepang, turut hadir di sana. Selain itu, tokoh oposisi utama seperti Yoshihiko Noda juga menampakkan diri. Noda adalah pemimpin bersama Aliansi Reformasi Sentris. Yuichiro Tamaki, kepala Partai Demokrat untuk Rakyat, juga ikut serta dalam debat.
Kampanye Kilat 16 Hari
Pertaruhan ini terjadi dalam konteks waktu yang sangat sempit. Sebelumnya, Majelis Rendah telah resmi bubar pada 23 Januari. Pembubaran ini terjadi tepat di awal sesi parlemen biasa. Akibatnya, pemerintah menjadwalkan pemilihan umum pada 8 Februari.
Sementara itu, kampanye resmi baru akan bermula pada hari Selasa (27/1). Jadwal yang sangat padat ini menciptakan periode kampanye singkat. Kampanye hanya akan berlangsung selama 16 hari. Catatan sejarah menunjukkan ini sebagai periode kampanye terpendek di Jepang pasca-perang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Oleh karena itu, bagi Takaichi, ini adalah lari sprint yang menentukan nasib. Di sisi lain, oposisi mulai bersatu di bawah bendera “Aliansi Reformasi Sentris”. Janji pengunduran diri ini bisa menjadi motivasi kuat bagi basis pendukungnya. Namun, langkah ini juga bisa menjadi senjata makan tuan jika publik Jepang menginginkan perubahan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















