BRUSSELS, POSNEWS.CO.ID – Perang urat saraf dan diplomasi finansial semakin memanas di Eropa Timur. Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan ultimatum keras kepada Kyiv terkait wilayah Donbas, Kamis (05/12/2025).
Dalam sebuah wawancara menjelang kunjungannya ke New Delhi, Putin memberikan dua pilihan pahit bagi Ukraina. Entah pasukan Ukraina mundur sukarela dari wilayah Donbas, atau Rusia akan merebutnya dengan kekuatan senjata.
“Kami membebaskan wilayah ini dengan kekuatan senjata, atau pasukan Ukraina meninggalkan wilayah ini,” tegas Putin dalam klip yang tayang di televisi pemerintah Rusia.
Pernyataan ini menegaskan ambisi Moskow untuk menguasai penuh wilayah Donetsk dan Luhansk. Saat ini, Rusia telah mengendalikan sekitar 80 persen Donetsk dan seluruh Luhansk. Namun, sekitar 5.000 kilometer persegi wilayah Donetsk masih berada di bawah kendali Ukraina yang menolak menyerah.
Ukraina Menolak “Hadiah” Wilayah
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy merespons dengan penolakan tegas. Ia menyatakan tidak akan memberikan hadiah wilayah kepada Moskow. Baginya, Rusia tidak pantas mendapatkan imbalan atas konflik yang mereka mulai sendiri.
Kyiv bersikeras bahwa mereka tidak akan mundur sejengkal pun. Sebaliknya, mereka siap mempertahankan sisa wilayah Donbas mati-matian di tengah gempuran pasukan Putin yang telah berlangsung sejak Februari 2022.
EU Siapkan €90 Miliar dari Dompet Musuh
Sementara itu, langkah berani datang dari Brussel. Komisi Eropa mengajukan proposal yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Rabu (04/12/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Presiden Komisi Ursula von der Leyen mengusulkan penggunaan aset negara Rusia yang membeku untuk membantu Ukraina. Rencananya, Uni Eropa (EU) akan menggalang dana sebesar 90 miliar euro (sekitar $105 miliar).
Dana raksasa ini akan mereka kemas dalam bentuk “pinjaman reparasi”. Artinya, Ukraina mendapatkan dana segar untuk militer dan layanan dasar, dengan jaminan aset Rusia yang tertahan di Eropa.
“Kami mengusulkan untuk menutupi dua pertiga kebutuhan pembiayaan Ukraina. Sisanya akan ditanggung oleh mitra internasional,” jelas von der Leyen.
Belgia Ragu, Rusia Mengamuk
Meskipun terdengar menjanjikan, rencana ini menghadapi rintangan internal. Belgia, negara tempat lembaga keuangan Euroclear menyimpan sebagian besar aset tersebut, menyuarakan kekhawatiran hukum.
Pemerintah Belgia merasa keberatan jika harus menanggung risiko hukum sendirian. Pasalnya, Rusia telah memperingatkan bahwa penggunaan aset tersebut adalah tindakan pencurian. Moskow siap menuntut siapa pun yang menyentuh uang mereka.
“Belgia tidak dapat menerima jika diminta menanggung risiko operasi semacam itu sendirian,” ungkap seorang pejabat senior Belgia.
Oleh karena itu, Brussel menuntut jaminan dari negara anggota EU lainnya. Mereka meminta perlindungan biaya hukum jika Rusia menggugat di masa depan.
Kini, nasib proposal ini akan ditentukan dalam KTT pemimpin EU pada 18 Desember mendatang. Jika lolos, ini akan menjadi preseden sejarah di mana aset agresor digunakan untuk membiayai pertahanan korbannya secara langsung.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















