Quiet Quitting: Bekerja Secukupnya Sebagai Protes Senyap Gen Z

Jumat, 14 November 2025 - 19:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Gen Z dan milenial memicu fenomena

Ilustrasi, Gen Z dan milenial memicu fenomena "Quiet Quitting"—sebuah protes senyap di mana mereka menolak hustle culture dan bekerja hanya sesuai job description. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Sebuah frasa baru telah mendominasi percakapan tentang dunia kerja baru-baru ini: “Quiet Quitting” (Berhenti dalam Senyap).

Namun, nama ini sedikit keliru. Quiet quitting bukan berarti karyawan benar-benar mengajukan surat pengunduran diri. Sebaliknya, fenomena ini menggambarkan pergeseran mentalitas fundamental. Para pekerja menolak ideologi “hustle culture” yang menuntut mereka bekerja melampaui jam kerja normal.

Secara praktis, pelaku quiet quitting tetap melakukan pekerjaan mereka. Akan tetapi, mereka hanya mengerjakan apa yang tertera dalam job description mereka. Lebih lanjut, mereka datang tepat waktu, pulang tepat waktu, menolak lembur tanpa bayaran, dan berhenti melakukan tugas-tugas ekstra “demi perusahaan” yang sebelumnya sering mereka terima begitu saja.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengapa Muncul Sekarang?

Tentu saja, fenomena ini tidak muncul dari ruang hampa. Ia meledak pasca-pandemi karena beberapa alasan kuat:

  1. Burnout Massal: Akibat pandemi, batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan mengabur total, terutama bagi pekerja remote. Hal ini memicu kelelahan mental (burnout) dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
  2. Kekecewaan Generasional: Gen Z dan Milenial menyaksikan generasi sebelumnya (orang tua mereka) mengorbankan hidup mereka untuk perusahaan, namun seringkali berakhir dengan PHK atau pensiun yang tidak seberapa. Mereka pun kehilangan kepercayaan pada janji loyalitas perusahaan.
  3. Penolakan Hustle Culture: Kini, ada penolakan yang semakin vokal terhadap narasi “gila kerja” atau hustle culture. Para pekerja muda mulai mempertanyakan: “Mengapa saya harus mengorbankan kesehatan mental saya untuk pekerjaan yang bahkan tidak membayar saya dengan layak?”
  4. Fokus pada Work-Life Balance: Pada akhirnya, prioritas telah bergeser. Banyak pekerja sekarang lebih menghargai work-life balance dan kesehatan mental daripada sekadar mengejar promosi dengan mengorbankan segalanya.
Baca Juga :  Fokus AS ke Asia: Ujian Relevansi bagi Eropa

Malas, Melawan, atau Sehat?

Fenomena ini menimbulkan perdebatan sengit tentang etos kerja:

  • Pandangan Manajer (Kemalasan): Di satu sisi, beberapa manajer generasi lama melihat quiet quitting sebagai bentuk kemalasan, kurangnya ambisi, atau bahkan pembangkangan. Mereka terbiasa dengan karyawan yang “memberikan 110%”.
  • Pandangan Pekerja (Perlawanan): Di sisi lain, bagi banyak pekerja, ini adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang mereka miliki. Ketika gaji tidak naik sesuai inflasi dan beban kerja terus bertambah, maka mengurangi “upaya ekstra” adalah cara untuk mengambil kembali kendali.
  • Pandangan Psikolog (Batas Sehat): Namun, banyak ahli melihat fenomena ini sebagai langkah yang sangat sehat. Ini bukanlah soal “bekerja lebih sedikit”, melainkan soal “bekerja sesuai bayaran”. Ini adalah penetapan batas (boundaries) yang tegas terhadap eksploitasi kerja tak terbayar.
Baca Juga :  Ambisi BRICS+: Membangun Tatanan Dunia di Luar Kendali Barat

Pergeseran Ekspektasi Kerja

Tentu saja, tren quiet quitting memberikan dampak nyata bagi perusahaan. Mungkin ada penurunan produktivitas jangka pendek, terutama jika perusahaan sebelumnya sangat bergantung pada kerja lembur gratis dari karyawannya.

Akan tetapi, dampak terbesarnya adalah pergeseran ekspektasi. Kini, perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan “loyalitas buta” atau memotivasi karyawan dengan iming-iming pizza party.

Perusahaan harus menawarkan proposisi nilai yang jelas:

  1. Gaji yang adil dan kompetitif.
  2. Job description yang jelas dan beban kerja yang realistis.
  3. Penghargaan yang tulus terhadap waktu pribadi karyawan (tidak ada email/WA di luar jam kerja).
  4. Jalur karier yang transparan.

Adaptasi di Era Baru Etos Kerja

Pada akhirnya, quiet quitting bukanlah tren sesaat. Ia menandakan evolusi mendalam dalam etos kerja dan definisi ulang “kontrak sosial” antara karyawan dan pemberi kerja, terutama oleh Gen Z.

Mereka tidak anti-kerja; mereka anti-eksploitasi dan anti-burnout.

Maka, perusahaan yang mengabaikan sinyal ini dan terus mendorong hustle culture akan kesulitan menarik dan mempertahankan talenta terbaik. Sebaliknya, perusahaan yang mendengarkan dan beradaptasi—dengan membangun lingkungan kerja yang lebih sehat, transparan, dan menghargai batas—adalah perusahaan yang akan berkembang di era baru ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Kepolisian Twin Falls mengonfirmasi insiden penembakan di restoran In-N-Out Burger, Idaho. Akibatnya, tiga orang tewas dan tujuh warga mengalami luka-luka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas

Selasa, 4 Agu 2026 - 11:49 WIB

Tom Holland mengonfirmasi pengetahuan tentang jadwal debut Miles Morales di MCU saat mempromosikan film Spider-Man: Brand New Day yang mencetak rekor pendapatan box office. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Tom Holland Tahu Jadwal Debut Miles Morales di MCU

Selasa, 4 Agu 2026 - 10:00 WIB

Tabrakan dua helikopter pemadam kebakaran di Yunani menewaskan dua kru di tengah krisis kebakaran hutan hebat dan gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai negara Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Dua Helikopter Pemadam Tabrakan di Yunani

Selasa, 4 Agu 2026 - 09:18 WIB