Rezim Toll Booth Hormuz: Iran Legalkan Pungutan Liar

Jumat, 27 Maret 2026 - 09:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Blokade dalam kedok regulasi. Garda Revolusi Iran (IRGC) memberlakukan sistem

Blokade dalam kedok regulasi. Garda Revolusi Iran (IRGC) memberlakukan sistem "pos penjagaan" di Selat Hormuz, memaksa kapal asing membayar biaya lintas menggunakan mata uang Yuan di tengah anjloknya lalu lintas maritim sebesar 90 persen. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Republik Islam Iran kini secara efektif bertindak sebagai penjaga gerbang tunggal bagi Selat Hormuz, arteri pengiriman minyak terpenting di dunia. Teheran mulai meresmikan penguasaan jalur tersebut melalui mekanisme “pos penjagaan” yang mewajibkan setiap kapal menjalani pemeriksaan ketat oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Dalam konteks ini, langkah tersebut memperkuat cengkeraman Iran atas jalur air krusial ini. Akibatnya, Iran dapat memastikan aliran minyaknya menuju Tiongkok tetap berjalan lancar di tengah blokade total terhadap kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya.

Kelumpuhan Lalu Lintas dan Ekspor ke Tiongkok

Arus lalu lintas melalui Selat Hormuz telah jatuh sebesar 90 persen sejak awal perang Iran. Oleh karena itu, harga minyak global melonjak tajam dan memicu kelangkaan energi yang mengkhawatirkan di negara-negara Asia. Firma intelijen maritim, Lloyd’s List Intelligence, melaporkan bahwa hanya sekitar 150 kapal yang melintas sejak 1 Maret lalu.

Meskipun demikian, terminal Pulau Kharg milik Iran tetap memuat sekitar 1,6 juta barel minyak sepanjang Maret. Jumlah ini hampir tidak berubah dibandingkan rata-rata bulanan sebelum perang. Bahkan, sebagian besar pembelinya adalah kilang swasta kecil di Tiongkok yang mengabaikan sanksi Amerika Serikat. Strategi ini memungkinkan Teheran mempertahankan pendapatan negara meskipun situasi kawasan sedang membara.

Baca Juga :  BNN Desak Regulasi Ketat Vape dan Gas N2O, 100 Persen Sampel Positif Narkoba

Mekanisme “Toll Booth” dan Pembayaran dalam Yuan

Iran kini memaksa kapal-kapal untuk memasuki perairan teritorial mereka melalui rute utara di sekitar Pulau Larak. Selanjutnya, entitas pelayaran wajib menyerahkan detail kargo, daftar awak, dan tujuan kepada perantara resmi IRGC. Kapal yang mendapatkan persetujuan akan menerima kode khusus dan pengawalan militer langsung.

Terlebih lagi, laporan menyebutkan bahwa setidaknya dua kapal telah melakukan pembayaran langsung untuk mendapatkan izin lintas. Menariknya, transaksi tersebut diselesaikan menggunakan mata uang Yuan, bukan dolar. Oleh sebab itu, Iran berupaya membangun sistem ekonomi tandingan yang kebal terhadap tekanan finansial Barat di tahun 2026.

Kecaman Dunia: “Terorisme Ekonomi”

Tindakan Iran ini memicu kemarahan dari negara-negara tetangga dan badan internasional. Sultan al-Jaber, pemimpin Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC), melontarkan kritik pedas dalam pidatonya di Washington. Ia menyebut penyanderaan Selat Hormuz sebagai bentuk “terorisme ekonomi” terhadap setiap konsumen di dunia.

“Ketika Iran menyandera Hormuz, setiap bangsa membayar tebusannya di pompa bensin dan toko kelontong,” tegas al-Jaber. Selain itu, Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed al-Budaiwi, menyatakan bahwa pungutan biaya lintas ini merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum laut PBB. Komunitas internasional kini mendesak adanya langkah terkoordinasi guna memulihkan prinsip “lintas damai” yang telah Iran abaikan.

Risiko Maut di Jalur Maritim

Kekhawatiran para pelaut semakin meningkat karena risiko serangan fisik yang sangat nyata. Setidaknya 18 kapal telah terkena serangan dan tujuh awak kapal tewas dalam satu bulan terakhir. Akibatnya, separuh dari kapal yang melintas memilih untuk mematikan sistem identifikasi radio (AIS) mereka guna menghindari deteksi radar.

Pihak parlemen Iran saat ini dikabarkan sedang menyusun rancangan undang-undang untuk melegalkan pungutan biaya lintas tersebut secara formal. Jika berhasil, langkah ini akan semakin memperumit upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Dunia kini menghadapi tantangan hukum dan militer yang berat dalam menjaga kebebasan navigasi di salah satu titik paling berbahaya di bumi pada tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Beirut Terbelah: Boikot Kabinet dan Protes Massa Warnai Eskalasi Berdarah
DPO Narkoba Diburu! Rendy Hermawan, Tangan Kanan “Andre The Doctor” Terendus di Malaysia
Iran Izinkan 10 Tanker Minyak Lintasi Selat Hormuz
Gencatan Senjata Buntu: Trump Ulur Ultimatum Selat Hormuz
Kebakaran Hutan Riau Kian Parah, BNPB Catat 2.713 Hektare Lahan Terbakar Sejak 2026
Karyawati Pokemon Center Tewas Ditikam Penguntit di Hadapan Publik
Polisi Bongkar Peredaran Senpi Ilegal, Revolver dan Peluru Diselundupkan via Merak
Polisi Tangkap 2 WNA Liberia di Jakbar, Modus Black Dollar Kembali Terbongkar

Berita Terkait

Jumat, 27 Maret 2026 - 10:38 WIB

Beirut Terbelah: Boikot Kabinet dan Protes Massa Warnai Eskalasi Berdarah

Jumat, 27 Maret 2026 - 09:35 WIB

Rezim Toll Booth Hormuz: Iran Legalkan Pungutan Liar

Jumat, 27 Maret 2026 - 08:49 WIB

DPO Narkoba Diburu! Rendy Hermawan, Tangan Kanan “Andre The Doctor” Terendus di Malaysia

Jumat, 27 Maret 2026 - 08:31 WIB

Iran Izinkan 10 Tanker Minyak Lintasi Selat Hormuz

Jumat, 27 Maret 2026 - 07:27 WIB

Gencatan Senjata Buntu: Trump Ulur Ultimatum Selat Hormuz

Berita Terbaru

Blokade dalam kedok regulasi. Garda Revolusi Iran (IRGC) memberlakukan sistem

INTERNASIONAL

Rezim Toll Booth Hormuz: Iran Legalkan Pungutan Liar

Jumat, 27 Mar 2026 - 09:35 WIB

Blokade dalam kedok regulasi. Garda Revolusi Iran (IRGC) memberlakukan sistem

INTERNASIONAL

Iran Izinkan 10 Tanker Minyak Lintasi Selat Hormuz

Jumat, 27 Mar 2026 - 08:31 WIB

Hitungan mundur yang tertunda. Presiden Donald Trump memperpanjang tenggat waktu pembukaan Selat Hormuz hingga 6 April 2026, sementara ribuan pasukan lintas udara Amerika Serikat mulai memasuki zona tempur. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gencatan Senjata Buntu: Trump Ulur Ultimatum Selat Hormuz

Jumat, 27 Mar 2026 - 07:27 WIB