BERLIN, POSNEWS.CO.ID – Pada tahun 1924, sutradara Jerman Fritz Lang berdiri di geladak kapal laut, menatap takjub pada cakrawala malam New York. Saat itu, ia tidak hanya melihat lampu-lampu kota, melainkan sebuah inspirasi yang kelak melahirkan film fiksi ilmiah paling berpengaruh sepanjang masa: Metropolis.
Film ini menawarkan visi awal abad ke-21 yang sekaligus memukau dan mengerikan. Di satu sisi, Metropolis adalah keajaiban teknologi dengan gedung pencakar langit, rel kereta layang, dan kapal udara. Namun, di balik kemegahan itu, tersembunyi dunia ketimpangan ekstrem dan perpecahan sosial yang brutal.
Para elit menikmati hidup mewah di awan, sementara para pekerja hidup di bawah tanah. Mereka bekerja layaknya mesin dalam rutinitas 10 jam yang mematikan pikiran. Di puncak piramida kekuasaan ini duduk John Fredersen, “Tuan Metropolis”, yang kepuasan utamanya hanyalah memegang kendali mutlak.
Manusia yang Ditelan Mesin
Lang menggambarkan masa depan dalam istilah yang sangat abstrak. Fungsi mesin-mesin individual tidak pernah ia definisikan. Sebaliknya, tumpukan tuas dan pengukur itu secara simbolis mewakili seluruh industri yang memperbudak manusia.
Dalam adegan pergantian shift yang ikonik, para pekerja berjalan dalam barisan geometris seperti zombie. Mereka mengenakan seragam gelap yang sama, menundukkan kepala, dan menatap kosong. Bahkan, sebuah adegan fantasi memperlihatkan mesin berubah menjadi patung rahang terbuka yang secara harfiah menelan para pekerja hidup-hidup.
Kota ini mengonsumsi manusia dan tenaga kerja mereka. Akibatnya, Metropolis bermetamorfosis menjadi parodi kehidupan yang sesat dan kejam.
Ramalan Ekonomi Global
Mengerikannya, visi Lang terasa sangat relevan jika kita kaitkan dengan ekonomi global modern. Korporasi multinasional kini rutin menutup pabrik di satu benua demi mengejar tenaga kerja murah di benua lain.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seperti industri di Metropolis, tujuan korporasi ini sering kali tidak berkaitan dengan kesejahteraan karyawan. Tujuannya semata-mata adalah efisiensi dan keuntungan bagi segelintir elit eksekutif dan pemegang saham. Fredersen adalah esensi dari bos perusahaan besar; tokoh seperti Rupert Murdoch mungkin akan merasa sangat betah di kantor pencakar langit Fredersen.
Penting dicatat, tidak ada penyebutan pemerintah dalam film ini. Konsep negara seolah usang. Kekuasaan mutlak hanya milik industrialis tertinggi dan ilmuwan kepercayaannya.
Solusi Sentimental vs Realitas Politik
Meskipun visualnya tajam, film ini memiliki sisi sentimental yang kontroversial. Freder, putra Fredersen, jatuh cinta pada Maria, pemimpin gerakan bawah tanah. Maria mengajarkan bahwa pekerja tidak boleh memberontak, melainkan harus menunggu “Mediator”.
Mediator itu adalah “Hati” yang menjembatani “Kepala” (modal) dan “Tangan” (buruh). Faktanya, naskah ini ditulis Lang bersama istrinya saat itu, Thea von Harbou. Ada ketegangan nyata antara naskah Harbou yang rapi dan imajinasi Lang yang kaustik. Lang kemudian melarikan diri dari Nazi pada 1933, sementara Harbou tetap tinggal dan membuat film untuk rezim Hitler.
Pada akhirnya, pelajaran sesungguhnya mungkin bukan tentang mediator cinta. “Tangan” (pekerja) perlu mengembangkan “Kepala” (kesadaran politik) mereka sendiri. Mereka harus bertindak melalui kotak suara dan daya beli untuk melawan fantasi materialistis para Fredersen di dunia nyata.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















