Salib Merah Politik, Jangan Ulangi Sejarah Gelap ‘Perang Salib’: Kalian Jahat Betul !!!

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana aksi demonstrasi di ruang publik yang menyoroti pentingnya menjaga kesucian simbol agama. (Ist)

Suasana aksi demonstrasi di ruang publik yang menyoroti pentingnya menjaga kesucian simbol agama. (Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernah ada masa gereja Katolik menenteng salib di ruang publik politik antara abad ke -11 hingga abad 13 di Timur Tengah dan Eropa.

Saat itu salib dipakai sebagai legitimasi menyerang dan membunuh orang sekaligus alat propaganda politik kekuasaan. Paus Yohanes Paulus II tahun 2000 yang disebut sebagai tahun Yobel (Tahun Pembebeasan) meminta maaf kejadian di masa lalu tersebut.

Di depan basilika St Petrus dia meminta maaf atas dosa-dosa yang dilakukan umat Katolik termasuk kekerasan dalam perang salib. Dia menyebutnya Purifikasi Memori.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jumat 28 Oktober 2026, sebuah salib merah besar muncul di kerumunan aksi massa demonstrasi di Jakarta. Tampaknya gagah secara visual sebagai sebuah festivalisasi simbol agama.

Dibungkus pula dengan narasi yang seakan tulus dan mulia. Salib lambang penderitaan, pengorbanan, dan suara rakyat yang menuntut keadilan.

Itu tafsir! Tapi sesungguhnya kita patut juga curiga: salib merah; sekali lagi SALIB MERAH diarak di tengah kerumunan massa, saat menyampaikan aspirasi politik.

Apalagi di tengah tuduhan mobilisasi kekuatan politik untuk mendowndgrade pemerintah apalagi untuk menggulingkan pemerintahan yang ada.

Wajar memori salib itu kembali ke masa gelap di masa lalu yang jelas menjadi kesalahan gereja di masa lalu. Salib jadi alat legitimasi kekuatan politik tertentu, jelas Bukan Ajaran Yesus, tapi Keputusan Politik.

Maka mengarak salib di muka publik dalam suatu aksi massa adalah sebuah keputusan politik yang tidak bisa dianggap remeh dan boleh dibilang JAHAT.

Saat Paus Urbanus II menyerukan Perang Salib pertama, persis salib diarak tinggi-tinggi. Pedang untuk membunuh pun berebentuk salib. Dan itu adalah masa-masa gelap Gereja Katolik.

Baca Juga :  Mentan Amran Mengamuk dan Beri Ultimatum Pecat Koruptor Bantuan Banjir 1x24 Jam

Gereja kian menyadari keterlibatan sosial politiknya tidak perlu lagi mengangkat salib tinggi-tinggi tetapi melalui aksi nyata sebagaimana ajaran bapa gereja melalui ajaran sosial gereja-nya.

Bukan Pesan Ajaran Sosial Gereja

Mengangkat salib tinggi-tinggi di ruang publik jelas bukan pesan ajaran sosial gereja. Itu tak lebih dari unjuk kekuatan yang muda ditafsir sebagai legitimasi dan alat kekuatan politik yang tentu amat sangat berbahaya.

Apalagi ada buzzer parpol atau tepatnya penumpang gelap partai politik menyandingkannya dengan aksi sholat berjamaah dibungkus narasi persatuan yang sesungguhnya kalian sedang memakai agama untuk propaganda politik.

Haruskah kita mengulang lagi kesalahan masa lalu di Jakarta ketika agama menjadi alat politik kekuasaan????? Berhentilah!! Bertobatlah!!!

Itulah juga kenapa Paus Yohanes Paulus II memberi pesan tentang “Perang Salib” yang baru: perang melawan kemiskinan, perang melawan ketidakpedulian, dan perang melawan kebencian, pernah melawan kerusakan lingkungan hidup. Bukan salib untuk propaganda politik partisan.

Saat salib dibawa masuk ke panggung politik, saat itu juga salib berhenti sebagai simbol keselamatan dan berubah menjadi simbol kekuasaan dan unjuk kekuatan. Dan begitu salib berubah menjadi simbol kekuasaan, orang akan langsung teringat luka lama: Perang Salib.

Kehilangan Maknanya

Kenapa itu sangat berbahaya? Salib telah Kehilangan Maknanya. Di hadapan Salib kita sesungguhnya harus menyampaikan credo: “Aku anak yang berdosa, ampunilah Aku.” Tapi di panggung politik, salib bisa dipelintir menjadi: “Kami benar, Anda pemerintah salah, kami yang berkuasa.” Ini jelas bertentangan dengan nilai salib yang rendah hati, mengampuni, menyayangi, welas asih dan mencintai.

Salib juga bisa Membuat Lawan Politik Seolah-Olah Menjadi Musuh Allah. Ini yang paling fatal.

Dalam politik, lawanmu adalah sesama warga negara yang beda pendapat dan pilihan politik. Itu Wajar. Hari ini lawan, besok bisa menjadi kawan koalisi.

Baca Juga :  Sea World dan Samudra Ancol Hadirkan BioKids Color Day pada 16-17 Mei 2026

Tapi sekali kamu membawa salib ke arena politik, lawan politikmu otomatis kamu ubah menjadi “musuh iman” atau “musuh Kristus”. Padahal dia cuma berbeda pilihan. Dari sini lahir kebencian yang tidak bisa didamaikan. Karena kalau musuh politik bisa diajak ngopi dan ngeteh bareng, musuh Allah kalian anggap harus diperangi.

Salib Kristus itu kuat justru karena dia tidak punya tentara, tidak punya partai, tidak punya kursi.
Kekuatannya ada pada pengorbanan dan kebenaran moralnya.

Begitu salib ditempel ke bendera partai, ke spanduk calon, ke gerakan politik praktis – salib itu menjadi kecil dan kerdil. Jadi sekadar alat kampanye yang nilainya habis setelah masa kekuasaan selesai.

Rasul Paulus sudah mengingatkan:

“Salib Kristus adalah kebodohan bagi dunia, tapi kekuatan Allah bagi kita yang diselamatkan.” (1 Korintus 1:18). Dunia tidak akan pernah mengerti salib lewat kekuasaan. Dunia hanya akan mengerti salib lewat kasih.

Jadi kalau kita benar-benar menghormati salib, kita justru harus menjaganya agar tetap suci. Biarkan salib tetap di hati, di gereja, dan di dalam cara hidup kita yang jujur dan mengasihi.

Biarkan politik tetap menjadi politik: adu gagasan, adu program, adu karya untuk rakyat. Jangan pernah membawa salib ke area perjuangan politik. Bawalah nilai-nilai salib – kejujuran, keadilan, pengampunan, keberpihakan pada yang lemah – ke dalam politik. Itu baru murid Kristus!

Berhentilah Dan bertobatlah! Atau kalian hanya akan membangkitkan luka lama Gereja Katolik yang sudah dikuburnya dalam-dalam. Never again!!!! Katolik itu KASIH, CINTA BUKAN FESTIVALISASI SALIB DI RUANG PUBLIK POLTIINYANG KENTAL DENGAN AROMA POLITIK KEKUASAAN.

Thomas H. Suwarta
PP Pemuda Katolik 2006-2009
Alumni STF Driyarkara Jakarta 

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keren! Model Moderasi Beragama Indonesia Pikat Inggris, Australia, hingga Pakistan
Aset Pelaku Kejahatan Siber Disikat, Kapolri Pastikan Miskinkan Bandar TPPO & Scam
KPK Gali Aliran Suap Lahan Bogor, Dirut Anak Usaha Summarecon Dipanggil
Awas Cuaca Ekstrem! Bibit Siklon 91B Ancam Sejumlah Wilayah, Cek Daerahmu
Cegah Judol dan Narkoba, Polri Gandeng Muhammadiyah Masuk Sekolah
20 Korporasi Terseret Kasus Karhutla, Lahan Terbakar Capai 29 Ribu Hektare
Komnas HAM Ingatkan Polisi, Pengamanan Aksi Mahasiswa Harus Humanis
Ribuan Mahasiswa Siap Aksi di Bundaran HI Besok, Bawa 5 Tuntutan

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:10 WIB

Keren! Model Moderasi Beragama Indonesia Pikat Inggris, Australia, hingga Pakistan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:50 WIB

Aset Pelaku Kejahatan Siber Disikat, Kapolri Pastikan Miskinkan Bandar TPPO & Scam

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:32 WIB

Salib Merah Politik, Jangan Ulangi Sejarah Gelap ‘Perang Salib’: Kalian Jahat Betul !!!

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:06 WIB

KPK Gali Aliran Suap Lahan Bogor, Dirut Anak Usaha Summarecon Dipanggil

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:39 WIB

Cegah Judol dan Narkoba, Polri Gandeng Muhammadiyah Masuk Sekolah

Berita Terbaru