AUCKLAND, POSNEWS.CO.ID – Pada tahun 1909, Robert Laidlaw, seorang imigran Skotlandia, mendirikan perusahaan pesanan pos bernama Laidlaw Leeds di Fort Street, Auckland. Saat itu, ia mungkin tidak menyadari bahwa ia sedang menulis naskah untuk standar ritel modern.
Laidlaw menawarkan janji yang terdengar asing di telinga konsumen masa itu: “Kepuasan, atau uang Anda kembali.” Sejarawan bisnis Ian Hunter menyebut ini sebagai jaminan uang kembali pertama yang pernah ada di Selandia Baru, bahkan pernyataan misinya mungkin adalah yang kedua di dunia.
Tujuannya sederhana namun ambisius: membangun bisnis terbesar di Selandia Baru dengan menghilangkan segala penundaan dan hanya menjual barang yang layak dibeli pelanggan.
Lebih dari Sekadar Toko
Seiring berjalannya waktu, Farmers bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup Kiwi. Pada tahun 1960, satu dari setiap 10 orang di negara itu memiliki akun di perusahaan tersebut.
Bagi warga Selandia Baru, Farmers adalah tempat kenangan tercipta. Di sinilah remaja putri membeli bra pertama mereka, pengantin baru mencicil perabot rumah, dan anak-anak menyaksikan parade Santa setiap Natal. Bahkan, toko ini pernah memiliki maskot legendaris, Hector si Burung Beo, yang mati pada usia 131 tahun di tahun 1970-an.
Gary Blumenthal, seorang warga Rotorua, mengenang momen romantisnya di sana. Ia melamar tunangannya di menara pandang gedung Farmers di Auckland, sebuah memori yang ia rayakan hingga ulang tahun pernikahan ke-50.
Masa Kelam dan Krisis Korporasi
Namun, perjalanan satu abad ini tidak selalu mulus. Perusahaan nyaris runtuh dalam satu krisis ekonomi besar. Pada pertengahan 1980-an, meskipun penjualan menembus $375 juta, Farmers diambil alih oleh Chase Corporation.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lincoln Laidlaw, putra pendiri perusahaan yang kini berusia 88 tahun, mengingat hari-hari gelap pasca-keruntuhan pasar saham dan jatuhnya Chase. “Saya pikir, dulu Farmers seperti sebuah keluarga besar… kemudian bisnis itu terpecah-pecah dan situasi kekeluargaan itu hilang,” kenangnya.
Selama beberapa tahun yang penuh gejolak, kendali toko berpindah-pindah tangan, mulai dari konsorsium bank Australia, Deka, hingga Foodland Associated Ltd.
Kebangkitan Kembali Sang Ikon
Titik balik terjadi pada tahun 2003. Farmers kembali ke kepemilikan “keluarga” setelah James Pascoe Group membelinya. Pemilik barunya, David dan Anne Norman, memiliki darah ritel yang kental; Anne adalah cicit dari James Pascoe.
Di bawah kepemimpinan baru, Farmers berbenah. Sebelumnya, toko ini sempat mengalami masa sulit di mana banyak merek enggan bekerja sama. Kini, CEO Rod McDermott menegaskan bahwa kekuatan merek telah menarik Farmers keluar dari krisis.
“Ini seperti kelahiran kembali sebuah ikon,” ujar McDermott.
Untuk merayakan seratus tahunnya, Farmers tidak hanya bernostalgia. Sebanyak 58 gerai di seluruh negeri akan menggalang dana bagi badan amal lokal, mulai dari anjing pemandu hingga pemadam kebakaran sukarela. Perusahaan berjanji akan menyamai setiap dolar yang masyarakat sumbangkan, menutup abad pertama mereka dengan semangat memberi yang sama seperti visi awal Laidlaw.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















