Saudi Tuduh UEA Ancam Keamanan, Perang Saudara Yaman Selatan Di Depan Mata

Kamis, 1 Januari 2026 - 11:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Aliansi Teluk retak! Saudi bom kargo senjata UEA di Yaman, Abu Dhabi tarik sisa pasukan. Dok: Human Right Watch.

Aliansi Teluk retak! Saudi bom kargo senjata UEA di Yaman, Abu Dhabi tarik sisa pasukan. Dok: Human Right Watch.

ABU DHABI, POSNEWS.CO.ID – Dua raksasa Teluk yang dulu bersahabat kini saling todong senjata. Arab Saudi secara efektif menuduh Uni Emirat Arab (UEA) mengancam keamanan masa depannya.

Perselisihan ini berpusat pada nasib Yaman dan kemungkinan deklarasi negara selatan yang merdeka dalam waktu dekat. Seketika, situasi ini berpotensi memicu perang saudara baru di wilayah selatan Yaman.

Lebih jauh lagi, konflik ini bisa meluber ke sengketa lain, termasuk di Sudan dan Tanduk Afrika. Faktanya, Yaman kini menjadi panggung utama di mana dua negara kaya minyak ini berebut pengaruh politik dan kontrol jalur pelayaran strategis.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Garis Merah” dan Serangan Mukalla

Puncak ketegangan terjadi bulan lalu. UEA melanggar banyak “garis merah” yang diasumsikan Riyadh. Akibatnya, Arab Saudi membom kendaraan yang baru saja berlabuh di pelabuhan Mukalla, Yaman.

Riyadh secara tajam menyebut kendaraan tersebut dikirim dari pelabuhan Emirat untuk digunakan oleh Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang didukung UEA.

Baca Juga :  Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

“Kerajaan menekankan bahwa setiap ancaman terhadap keamanan nasionalnya adalah garis merah,” tegas pernyataan resmi Saudi.

Riyadh bersumpah tidak akan ragu mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menetralkan ancaman tersebut.

Ambisi UEA dan Kartu STC

Di balik layar, UEA telah lama melirik peluang komersial di Yaman. Mereka memanfaatkan keinginan tulus rakyat selatan untuk memulihkan kemerdekaan yang hilang sejak penyatuan 1990.

UEA memilih STC sebagai kendaraan politiknya. Langkah ini terbukti cerdik. STC berhasil mendapatkan pengakuan internasional dan kursi di Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) pada 2019.

Namun, STC tidak puas hanya dengan otonomi. Bulan ini, mereka melancarkan ekspansi militer agresif ke Hadramaut, provinsi terbesar di selatan.

Hasilnya, STC kini menguasai hampir seluruh wilayah bekas negara Yaman Selatan, termasuk ladang minyak paling produktif. Keberhasilan ini menjadi guncangan hebat bagi Arab Saudi yang selama ini menganggap Yaman sebagai halaman belakangnya.

UEA Menolak Mundur

Riyadh mencoba mengisolasi UEA dan STC secara diplomatik. Akan tetapi, Abu Dhabi tidak gentar.

Baca Juga :  Istri Pegawai Pajak Manokwari Diculik dan Dibunuh, Jasad Ditemukan di Septic Tank

Penarikan pasukan kontraterorisme UEA yang diumumkan Selasa lalu dinilai tidak signifikan. Pasalnya, dukungan UEA terhadap STC tetap utuh.

Abdulkhaleq Abdulla, ilmuwan politik Emirat, menggambarkan sikap negaranya sebagai ujian karakter. “UEA tidak mengecewakan atau meninggalkan sekutunya,” tulisnya di media sosial X.

Bayang-Bayang Krisis Qatar 2017

Farea al-Muslimi, peneliti dari Chatham House, memperingatkan bahaya eskalasi ini. Menurutnya, perselisihan ini bergerak dari kompetisi proksi menuju konfrontasi langsung.

“Konflik ini mencerminkan ketidaksepakatan mendasar antara Riyadh dan Abu Dhabi mengenai struktur politik masa depan Yaman,” jelas al-Muslimi.

Ia juga melihat paralelisasi yang meresahkan dengan krisis Teluk 2017 yang melibatkan Qatar. Kala itu, Saudi dan UEA memutus hubungan diplomatik yang mengguncang kawasan selama bertahun-tahun.

Ironisnya, pihak yang paling diuntungkan dari perpecahan ini mungkin adalah pemberontak Houthi. Mereka kini bisa menonton dua musuh utamanya saling serang, sementara negara-negara Barat cenderung diam dan memihak Saudi demi mempertahankan kesatuan negara Yaman.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal
Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot
Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen
Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran
Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar
Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran
Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal
Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:18 WIB

Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar

Berita Terbaru

Lini tayangan terlengkap bulan Agustus. Disney+ menyajikan konten bervariasi mulai dari Pokemon, tayangan spin-off Star Wars, hingga siaran langsung e-sports. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Disney+ Merilis Lini Konten Agustus 2026 Mulai Pokemon

Minggu, 2 Agu 2026 - 11:00 WIB

Siasat baru pertahanan udara Ukraina. Zelenskyy mendesak Trump memediasi izin penggunaan jaringan Starlink untuk menggempur target di dalam wilayah Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agu 2026 - 10:00 WIB

Eskalasi gempuran udara di ibu kota. Rusia menembakkan gelombang rudal balistik dan drone ke Kyiv, menewaskan tiga warga serta memicu ketidakpastian lisensi Patriot dari AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agu 2026 - 09:00 WIB

Krisis imigrasi terbesar Afrika-Eropa. Spanyol berhasil memulangkan puluhan ribu migran dari Ceuta di tengah ketegangan diplomatik Uni Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agu 2026 - 08:00 WIB