JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Masih ingatkah Anda pada masa indah sekitar satu dekade lalu? Kala itu, kita merasa sangat cerdas saat memutuskan langganan TV kabel yang mahal (cord-cutting). Kita beralih ke Netflix yang menawarkan ribuan film dengan harga setara dua gelas kopi.
Namun, hari ini realitasnya berubah 180 derajat. Coba periksa kembali mutasi rekening atau tagihan kartu kredit Anda bulan ini.
Kemungkinan besar, Anda tidak hanya membayar satu layanan. Ada Disney+, Amazon Prime, HBO Go, Spotify, YouTube Premium, hingga layanan olahraga khusus. Tanpa sadar, kita telah terjebak dalam jaring laba-laba tagihan digital yang rumit. Selamat datang di era “Subscription Fatigue” atau kelelahan berlangganan.
Fragmentasi Konten yang Memusingkan
Masalah utamanya bukan sekadar uang, melainkan fragmentasi konten yang gila-gilaan. Studio-studio besar serakah menarik konten mereka dari agregator untuk membuat platform sendiri.
Akibatnya, tontonan favorit kita tersebar di pulau-pulau digital yang terpisah. Mau nonton superhero Marvel? Harus buka aplikasi A. Mau nonton drama naga? Pindah ke aplikasi B. Mau nonton liga Inggris? Bayar lagi di aplikasi C.
Konsumen menjadi bingung dan boros waktu. Faktanya, kita sering menghabiskan waktu lebih lama untuk mencari-cari aplikasi dan memikirkan password daripada benar-benar menikmati filmnya.
Lebih Mahal dari TV Kabel Jadul
Dampak ekonominya pun mulai terasa mencekik leher. Jika kita menjumlahkan seluruh biaya langganan tersebut, angkanya sering kali jauh lebih mahal daripada paket TV kabel premium zaman dulu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Janji penghematan era digital ternyata hanyalah ilusi semata. Justru, model bisnis ini memaksa konsumen membayar berkali-kali lipat untuk mendapatkan akses hiburan yang sama. Lantas, inflasi kebutuhan pokok membuat anggaran hiburan menjadi beban yang memberatkan bagi kelas menengah.
Bendera Bajak Laut Berkibar Lagi
Apa yang terjadi saat konsumen merasa lelah, bingung, dan diperas? Tentu saja, mereka mencari jalan pintas. Fenomena ini memicu kebangkitan kembali era pembajakan digital.
Data lalu lintas internet menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bagi industri. Kunjungan ke situs streaming ilegal dan unduhan torrent mengalami lonjakan signifikan.
Alasannya sangat pragmatis. Konsumen enggan menambah langganan baru seharga ratusan ribu rupiah hanya untuk menonton satu film spesifik yang sedang hype. Bagi mereka, situs bajakan menawarkan “agregator” terlengkap yang gagal disediakan oleh pasar legal.
Masa Depan: TV Kabel 2.0?
Pada akhirnya, industri media sedang menuju titik jenuh. Model bisnis yang terfragmentasi ini tidak akan bertahan selamanya.
Prediksi masa depan mengarah pada konsolidasi besar-besaran. Raksasa media akan mulai melakukan bundling atau penggabungan layanan. Ironisnya, kita mungkin akan kembali ke titik awal.
Kita akan berlangganan satu paket besar yang berisi banyak saluran. Singkatnya, kita sedang menciptakan kembali “TV Kabel”, hanya saja kali ini kabelnya tidak terlihat karena dikirim melalui internet.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















