ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Senin, 23 Maret 2026 - 08:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Runtuhnya kepastian hukum imigrasi. Seorang ibu asal Kanada dan putrinya yang menderita autisme kini mendekam di tahanan ICE selama sepekan. Otoritas memaksa mereka melakukan

Runtuhnya kepastian hukum imigrasi. Seorang ibu asal Kanada dan putrinya yang menderita autisme kini mendekam di tahanan ICE selama sepekan. Otoritas memaksa mereka melakukan "deportasi mandiri" meskipun memiliki izin tinggal yang sah. Dok: VCG.

KINGSVILLE, POSNEWS.CO.ID – Operasi penegakan imigrasi yang ilegal kini memecah belah sebuah keluarga di Texas. Petugas Border Patrol menahan Tania Warner dan putrinya yang mengidap autisme, Ayla Luca (7), saat mereka dalam perjalanan pulang dari acara baby shower.

Penahanan ini terjadi di pos pemeriksaan Sarita meskipun Warner memiliki dokumen kependudukan yang lengkap. Suaminya, Edward Warner, mengecam keras tindakan petugas tersebut. “Istri saya memiliki nomor jaminan sosial dan visa fungsional yang berlaku hingga 2030,” tegas Edward kepada media.

Tekanan Psikologis dan Opsi “Deportasi Mandiri”

Kondisi di dalam ruang tahanan memberikan tekanan batin yang besar bagi anak dengan kebutuhan khusus. Tania harus berbisik saat menelepon suaminya agar petugas tidak mendengar pembicaraan mereka. Selain itu, Edward melaporkan bahwa Ayla mulai mengalami ruam kulit akibat kondisi lingkungan penahanan yang tidak higienis.

Pihak ICE memberikan tawaran yang menyulitkan bagi keluarga tersebut. Mereka menjanjikan kebebasan hanya jika Tania menyetujui “deportasi mandiri” kembali ke Kanada. Namun, keluarga Warner menolak mentah-mentah opsi tersebut. Edward menegaskan bahwa hukum Amerika Serikat seharusnya melindungi keluarga sah mereka, bukan mengusir mereka secara paksa.

Baca Juga :  KPK Geledah Rumah Mantan Menag Gus Yaqut, Sita Dokumen dan Barang Bukti Elektronik

Pusat Penahanan Dilley: Sejarah Kelam yang Hidup Kembali

Otoritas memindahkan Warner dan Ayla ke pusat penahanan Dilley pada Jumat pagi setelah sebelumnya mereka harus tidur di lantai pusat pemrosesan Rio Grande Valley. Fasilitas ini memiliki sejarah panjang yang kontroversial. Joe Biden sempat menutup Dilley, namun administrasi saat ini membukanya kembali pada awal 2025.

Lembaga hak asasi manusia sering mengkritik Dilley karena mengabaikan standar kemanusiaan. Laporan menyebutkan adanya wabah penyakit, kurangnya air bersih, hingga layanan medis yang sangat buruk di sana. Oleh karena itu, banyak pihak memandang penahanan anak autis di fasilitas semacam ini sebagai pelanggaran serius terhadap standar kemanusiaan internasional di tahun 2026.

Baca Juga :  Manuver Kilat Trump: Naikkan Tarif Global ke Batas Maksimal

Respon Diplomatik dan Kecaman Kongres

Kasus ini menarik perhatian serius dari pemerintah Kanada. Kementerian Urusan Global Kanada mengonfirmasi bahwa mereka sedang menangani beberapa kasus serupa yang melibatkan warga negaranya di AS. “Kami mengadvokasi warga kami, namun kami tidak dapat membatalkan proses hukum setempat secara sepihak,” ujar juru bicara kementerian tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tingkat domestik, Anggota Kongres Demokrat, Vicente Gonzalez, mendesak otoritas segera membebaskan Warner dan Ayla. Menurutnya, penahanan ini merupakan dampak dari operasi imigrasi administrasi saat ini yang tidak terkendali. Pengacara imigrasi Heather Neufeld memperingatkan bahwa proses pembebasan melalui pengadilan federal bisa memakan waktu bertahun-tahun. Akibatnya, ketidakpastian hukum kini mengancam keutuhan keluarga ini dalam waktu yang sangat lama.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam
Cucu Mpok Nori Tewas di Cipayung, Mantan Suami Siri Emosi Usai Ditolak Rujuk
Dermaga Kali Adem Ramai, Polisi Fokus Pengamanan dan Keselamatan Penumpang
64 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Drone di Rumah Sakit Darfur
Baku Tembak TNI AL vs KKB di Maybrat, 2 Prajurit Gugur – Senjata Dirampas
Cuaca Jakarta 23 Maret 2026: Mayoritas Berawan, Kepulauan Seribu Hujan Ringan
Trump Beri Ultimatum 48 Jam, Iran Ancam Balas Infrastruktur Regional
Banjir Kampung Melayu Surut, Ditpolairud dan Warga Gotong Royong Bersihkan Lumpur

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 09:21 WIB

Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam

Senin, 23 Maret 2026 - 08:15 WIB

ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Senin, 23 Maret 2026 - 07:30 WIB

Cucu Mpok Nori Tewas di Cipayung, Mantan Suami Siri Emosi Usai Ditolak Rujuk

Senin, 23 Maret 2026 - 07:13 WIB

Dermaga Kali Adem Ramai, Polisi Fokus Pengamanan dan Keselamatan Penumpang

Senin, 23 Maret 2026 - 07:11 WIB

64 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Drone di Rumah Sakit Darfur

Berita Terbaru

Ilustrasi, Tren yang mengkhawatirkan di Afrika. Saat dunia mencatat penurunan angka kematian akibat terorisme ke level terendah dalam satu dekade, Nigeria justru mengalami lonjakan fatalitas hingga 46 persen akibat serangan kelompok militan yang kian canggih. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam

Senin, 23 Mar 2026 - 09:21 WIB

Runtuhnya kepastian hukum imigrasi. Seorang ibu asal Kanada dan putrinya yang menderita autisme kini mendekam di tahanan ICE selama sepekan. Otoritas memaksa mereka melakukan

INTERNASIONAL

ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Senin, 23 Mar 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi, Tragedi di zona medis. Serangan drone menghantam Rumah Sakit Pendidikan El-Daein di Darfur Timur, menewaskan puluhan pasien dan anak-anak di tengah krisis kemanusiaan Sudan yang kian memburuk. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

64 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Drone di Rumah Sakit Darfur

Senin, 23 Mar 2026 - 07:11 WIB