Trump Timbang Serangan Militer ke Iran: Target Non-Militer

Minggu, 11 Januari 2026 - 16:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Inflasi tembus 52%, Teheran coba redam amarah rakyat dengan ubah subsidi. Namun, kepala peradilan tegaskan masa

Inflasi tembus 52%, Teheran coba redam amarah rakyat dengan ubah subsidi. Namun, kepala peradilan tegaskan masa "basa-basi" sudah habis. Dok: Istimewa.

WASHINGTON/TEHRAN, POSNEWS.CO.ID – Suhu geopolitik Timur Tengah kembali mendidih. Berdasarkan laporan The New York Times yang mengutip pejabat tinggi AS, Presiden Donald Trump baru saja menerima brefing mengenai opsi serangan militer potensial terhadap Iran.

Saat ini, Trump dikabarkan sedang menimbang dengan sangat serius untuk mengotorisasi serangan tersebut. Meskipun keputusan final belum ketuk palu, para pejabat menyebutkan bahwa opsi yang tersaji di meja presiden mencakup serangan terhadap target non-militer di jantung kota Teheran.

Seiring dengan perkembangan ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bergerak cepat melakukan koordinasi. Ia berbicara via telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Sabtu. Menurut sumber AS yang dikutip jurnalis Barak Ravid, kedua tokoh tersebut membahas situasi terkini di Iran serta perkembangan di Gaza dan Suriah.

Israel Siaga Penuh

Di Tel Aviv, militer Israel (IDF) memasang mata dan telinga lebar-lebar. Kepala Staf IDF Eyal Zamir telah mengadakan serangkaian pertemuan penilaian keamanan maraton antara 9 hingga 10 Januari.

Baca Juga :  Aktor Anrez Adelio Terseret Kekerasan Seksual, Korban Ungkap Ancaman Video Intim

Pejabat keamanan Israel menegaskan bahwa saat ini mereka “tidak berniat meluncurkan serangan” ke Iran. Namun, mereka telah memperkuat kesiapan defensif dan bersiap menghadapi “segala kemungkinan” (any contingency).

Gejolak Domestik dan “Tembok Api” Internet

Ancaman eksternal ini datang saat Teheran sedang “sakit” di dalam. Sejak 28 Desember, protes akibat kenaikan harga dan depresiasi mata uang telah mengguncang negara itu.

Kendati demikian, koresponden China Media Group (CMG) di Teheran melaporkan situasi nasional relatif tenang pada Sabtu malam. Aparat keamanan berhasil membubarkan sekitar 370 orang yang mencoba berkumpul di ibu kota.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gangguan internet masih menjadi masalah pelik. Hingga Sabtu sore, Teheran sebagian besar offline. Menariknya, warga lokal masih bisa mengakses situs berita domestik dan layanan esensial seperti pesan-antar makanan, menandakan adanya kontrol selektif atau “intranet” nasional yang aktif.

Baca Juga :  Mengapa Masalah Dunia Berlari Lebih Cepat dari Solusi Kita?

Pezeshkian: “Mereka Ingin Memecah Belah Kita”

Menghadapi tekanan ganda dari dalam dan luar, para pemimpin Iran bergerak cepat menunjukkan persatuan. Presiden Masoud Pezeshkian, dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Oman, melontarkan tuduhan keras.

“Amerika Serikat dan Israel berusaha memperpanjang konflik regional dan merusak persatuan negara-negara Islam,” tuding Pezeshkian. Ia menegaskan rakyat Iran akan berdiri lebih teguh dari sebelumnya.

Sementara itu, dalam rapat terpisah dengan Dewan Penentu Kebijakan Negara, Pezeshkian berjanji mengintensifkan upaya perbaikan ekonomi dengan memberantas suap dan korupsi.

Di markas besar PBB, Perwakilan Tetap Iran Amir-Saeid Iravani telah mengirimkan surat protes ke Dewan Keamanan. Ia mengutuk apa yang ia sebut sebagai “kolusi AS dengan Israel” untuk memprovokasi kekerasan dan mengganggu stabilitas negaranya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mesin Mati di Perlintasan, Mobil Antar Calon Haji Dihantam Kereta, 4 Orang Tewas
Satgas PHK Resmi Jalan, Dasco: Buruh Bisa Laporkan Upah hingga Ancaman PHK
Libur Panjang May Day, Contraflow Tol Jakarta-Cikampek Diperpanjang hingga KM 47–65
Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green
AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz
Review MacBook Pro M5, Laptop Workstation Paling Bertenaga di Tahun 2026
Jerome Powell Bertahan di Dewan Setelah Jabatan Berakhir guna Melawan Tekanan Trump
AS Tuding China Langgar Kedaulatan, Beijing Sebut Trump Munafik

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:10 WIB

Mesin Mati di Perlintasan, Mobil Antar Calon Haji Dihantam Kereta, 4 Orang Tewas

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:30 WIB

Satgas PHK Resmi Jalan, Dasco: Buruh Bisa Laporkan Upah hingga Ancaman PHK

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:15 WIB

Libur Panjang May Day, Contraflow Tol Jakarta-Cikampek Diperpanjang hingga KM 47–65

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:19 WIB

Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:58 WIB

AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz

Berita Terbaru

Inggris dalam siaga tinggi. PM Keir Starmer menjanjikan tindakan tegas terhadap ekstremisme dan pendanaan keamanan tambahan sebesar £25 juta setelah serangan penikaman brutal yang menargetkan komunitas Yahudi di London Utara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:19 WIB

Ketegangan di jalur nadi dunia. Amerika Serikat menggalang kekuatan internasional melalui Maritime Freedom Construct (MFC) untuk membuka kembali Selat Hormuz yang tersumbat, sementara harga minyak Brent melonjak hingga USD 126 per barel. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:58 WIB