Trump Tolak Proposal Damai Iran Saat Krisis Energi Global Memburuk

Selasa, 12 Mei 2026 - 09:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan di Senat. Anggota parlemen dari Partai Republik menunda proposal dana keamanan $1 miliar untuk Gedung Putih, sementara faksi Demokrat berupaya menjegal rencana kompensasi bagi sekutu politik Presiden Donald Trump. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

Ketegangan di Senat. Anggota parlemen dari Partai Republik menunda proposal dana keamanan $1 miliar untuk Gedung Putih, sementara faksi Demokrat berupaya menjegal rencana kompensasi bagi sekutu politik Presiden Donald Trump. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Harapan untuk mengakhiri perang besar di Timur Tengah kembali meredup. Presiden Donald Trump secara resmi menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran berada di titik terlemah. Hal ini terjadi setelah Washington menolak mentah-mentah proposal tandingan dari pihak Teheran.

Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat mengajukan draf pembukaan kembali negosiasi. Namun, tanggapan Iran pada hari Minggu justru mempertegas perbedaan posisi kedua belah pihak. Isu utamanya mencakup kompensasi kerusakan perang dan kendali jalur maritim.

Penolakan Keras Terhadap “Sampah” Diplomatik

Presiden Trump memberikan penilaian tajam terhadap dokumen kiriman Teheran saat berbicara di depan wartawan pada Senin pagi. “Saya akan menyebutnya sebagai yang paling lemah saat ini. Potongan sampah yang mereka kirimkan sungguh keterlaluan,” ujar Trump dengan nada gusar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya bahkan tidak menyelesaikan membacanya,” tambah Trump. Dalam tanggapannya, Teheran mengajukan serangkaian syarat berat:

  • Pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat perang.
  • Pengakuan kedaulatan penuh Iran atas Selat Hormuz.
  • Penghentian blokade laut dan jaminan keamanan dari AS.
  • Pencabutan sanksi ekonomi dan penghapusan larangan penjualan minyak.
Baca Juga :  Venezuela Tolak Blokade Laut Trump, Tuding AS Ingin Curi Minyak

Sebaliknya, Washington menuntut penghentian pertempuran secara total. Langkah ini harus terjadi sebelum memulai pembicaraan mengenai program nuklir Iran yang sensitif.

Kelumpuhan Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak

Kebuntuan diplomatik ini memberikan dampak instan pada pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent naik 2,7% hingga mencapai kisaran USD 104 per barel pada Senin sore. Selat Hormuz kini hampir sepenuhnya menutup jalur lalu lintas komersial. Padahal jalur ini menangani seperlima pasokan energi dunia sebelum perang pecah.

Data pengiriman menunjukkan bahwa arus kapal tanker kini hanya berupa tetesan kecil. Pekan lalu, hanya tiga tanker minyak yang berhasil keluar dari selat. Kapal-kapal tersebut mematikan alat pelacak guna menghindari serangan Iran. Meskipun kapal LNG Qatar mencoba melintas melalui mediasi Pakistan, stabilitas pasokan tetap berada dalam ancaman serius.

Tekanan Politik Domestik bagi Trump

Perang ini mulai kehilangan dukungan dari konstituen Amerika Serikat di dalam negeri. Para pemilih menghadapi lonjakan harga bensin yang sangat tajam. Kondisi ini terjadi kurang dari enam bulan menjelang pemilihan umum nasional. Hasil pemilu tersebut akan menentukan kendali Partai Republik di Kongres.

Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan bagi Gedung Putih. Dua dari tiga warga Amerika menganggap Presiden Trump gagal menjelaskan alasan negara terlibat perang. Selain itu, sekutu NATO tetap enggan mengirimkan kapal militer. Mereka menuntut adanya kesepakatan damai menyeluruh dan mandat internasional yang jelas.

Baca Juga :  Insentif Guru Honorer Naik Rp400 Ribu per Bulan, Mendikdasmen Pastikan Cair Mulai 2026

Misi Beijing: Harapan Terakhir Diplomasi?

Trump kini fokus pada kunjungan strategis ke China yang dimulai pada hari Rabu. Presiden AS berencana menjadikan isu Iran sebagai topik utama pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping. Trump berupaya menekan China agar menggunakan pengaruh ekonomi guna memaksa Teheran menyetujui kesepakatan.

Meskipun demikian, Iran justru memberikan sinyal perlawanan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyarankan China agar memperingatkan Amerika Serikat. Ia menyoroti konsekuensi dari tindakan ilegal dan perundungan Washington di kawasan Teluk.

Bayang-Bayang Perang Total

Hingga saat ini, pertempuran sporadis tetap terjadi di Lebanon Selatan. Israel dan milisi Hezbollah terus bertikai meski AS mengumumkan gencatan senjata sejak 16 April. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa perang belum berakhir. Ia menuntut Iran mengeluarkan seluruh cadangan uranium hasil pengayaan dari wilayahnya.

Singkatnya, stabilitas global tahun 2026 kini bergantung pada hasil dialog di Beijing. Masyarakat internasional menanti dampak tekanan diplomatik China terhadap Teheran. Kegagalan negosiasi ini berisiko memicu eskalasi militer dahsyat di pusat pasokan energi dunia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23
Militer Amerika Serikat Tembak Mati Gembong Kriminal
BIGBANG Resmi Umumkan Jadwal Tur Dunia

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:56 WIB

Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:52 WIB

Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok

Berita Terbaru