WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump menutup pintu bagi usulan diplomasi nuklir Presiden Rusia Vladimir Putin minggu ini. Media AS, Axios, melaporkan bahwa Trump menolak rencana pemindahan stok uranium Iran ke Rusia sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Dalam konteks ini, Putin mengajukan ide tersebut melalui sambungan telepon pada hari Senin guna mengakhiri eskalasi perang di Timur Tengah. Namun, Trump tetap pada pendiriannya bahwa otoritas keamanan harus benar-benar menjaga materi nuklir tersebut secara permanen. Oleh karena itu, Amerika Serikat memandang pemindahan ke Rusia bukan sebagai solusi jangka panjang yang memuaskan.
Ketidakpastian Sikap Teheran dan Sejarah Negosiasi
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah Iran akan menerima usulan tersebut jika Trump menyetujuinya. Bahkan, dalam putaran perundingan terakhir sebelum perang pecah, Iran secara tegas menolak ide pengiriman uranium ke luar negeri. Sebaliknya, Teheran lebih memilih proses pengenceran uranium di dalam fasilitas mereka sendiri dengan pengawasan ketat IAEA.
Oleh sebab itu, posisi Iran yang kaku ini memperumit upaya diplomatik Moskow untuk menjadi penengah. Pejabat Amerika Serikat menegaskan bahwa ini bukan pertama kalinya tawaran serupa muncul ke permukaan. “Posisi kami sangat jelas, kami perlu melihat pihak berwenang mengamankan uranium tersebut sepenuhnya,” ujar seorang pejabat senior AS sebagaimana kutipan media.
Sinyal Operasi Khusus dan Penyitaan Paksa
Lebih jauh lagi, situasi semakin memanas karena munculnya laporan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan opsi militer rahasia. Laporan menyebutkan Gedung Putih tengah mengkaji rencana pengiriman pasukan operasi khusus ke dalam wilayah Iran. Tujuan utamanya adalah untuk menyita atau menghancurkan stok uranium hasil pengayaan tersebut secara langsung.
Meskipun demikian, Trump memberikan jawaban yang diplomatis saat media menanyakan hal tersebut dalam wawancara dengan Fox News pada hari Jumat. “Kami tidak sedang fokus pada hal itu saat ini. Namun, pada titik tertentu, mungkin saja kami akan melakukannya,” tegas Trump. Pernyataan ini memberikan sinyal kuat bahwa opsi kekuatan fisik tetap berada di atas meja kerja Pentagon.
Masa Depan Keamanan Energi dan Risiko Nuklir
Penolakan Trump terhadap tawaran Putin menunjukkan bahwa Washington lebih mempercayai kekuatan militernya sendiri daripada jaminan diplomatik dari pihak Rusia. Sebagai hasilnya, ketegangan di kawasan Teluk kemungkinan besar akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan. Pada akhirnya, dunia kini menanti apakah Trump akan benar-benar meluncurkan operasi komando untuk merebut “jantung” program nuklir Iran tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara simultan, krisis ini terus mendorong ketidakpastian di pasar energi global. Jika AS benar-benar melakukan operasi penyitaan uranium di dalam wilayah kedaulatan Iran, maka potensi serangan balasan terhadap infrastruktur minyak dunia akan menjadi ancaman yang nyata. Dengan demikian, diplomasi nuklir kini telah berubah menjadi perlombaan kekuatan militer yang sangat berbahaya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















