WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Dunia kini bersiap menghadapi potensi eskalasi militer terbesar di Timur Tengah. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa militer Amerika Serikat siap meratakan infrastruktur utama Iran jika blokade Selat Hormuz tidak segera berakhir.
Dalam konteks ini, Trump memberikan ultimatum sangat spesifik dalam konferensi pers di Gedung Putih pada hari Senin. Ia menegaskan bahwa AS telah memenangkan perang secara militer dan kini hanya menunggu kepatuhan Teheran.
Ancaman Penghancuran Total dalam Empat Jam
Trump memperingatkan bahwa Washington memiliki rencana militer untuk melumpuhkan Iran secara instan. Jika Teheran gagal membuka Selat Hormuz hingga Selasa pukul 20.00 waktu Eastern, militer AS akan segera memulai serangan besar-besaran.
“Militer kami akan menghancurkan setiap jembatan di Iran sebelum tengah malam besok. Pembangkit listrik di sana akan meledak dan tidak bisa berfungsi lagi,” tegas Trump. Oleh karena itu, ia mendesak para pemimpin Iran untuk segera mengambil keputusan sebelum militer AS mengeksekusi rencana penghancuran tersebut.
Kecaman terhadap Sekutu Asia dan NATO
Ketegangan diplomatik juga merembet ke internal aliansi Barat. Trump kembali melabeli NATO sebagai “macan kertas” karena ia menganggap aliansi itu tidak memberikan dukungan memadai. Bahkan, ia menuntut timbal balik dari negara-negara Asia yang selama ini menikmati perlindungan keamanan Amerika.
Secara khusus, Trump menyinggung keberadaan 50.000 tentara AS di Jepang dan 45.000 tentara di Korea Selatan. Ia merasa jaminan perlindungan terhadap ancaman Korea Utara seharusnya menghasilkan dukungan nyata di medan perang Iran. Meskipun demikian, Trump memberikan pujian bagi Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi yang ia nilai telah membantu AS sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.
Iran Tuntut Akhir Perang, Bukan Gencatan Senjata
Respon dari Teheran datang melalui kantor berita resmi IRNA. Iran secara tegas menolak proposal gencatan senjata 15 poin yang Washington kirimkan melalui Pakistan. Sebagai hasilnya, Teheran mengajukan rencana tandingan sebanyak 10 poin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam hal ini, Iran menekankan keinginan mereka untuk mengakhiri perang secara permanen, bukan sekadar jeda pertempuran sementara. Rencana tersebut mencakup kerangka kerja untuk menghentikan permusuhan regional dan menjamin keamanan navigasi di Selat Hormuz tanpa campur tangan militer asing. Oleh sebab itu, jurang perbedaan antara kedua belah pihak di meja perundingan masih sangat lebar.
Menanti Kepastian pada Selasa Malam
Masa depan ekonomi dan keamanan dunia kini bergantung pada hasil dari jam-jam kritis ini. Pada akhirnya, kehancuran infrastruktur energi dan logistik Iran akan memicu dampak lingkungan serta kemanusiaan yang mengerikan.
Dengan demikian, dunia internasional memantau dengan cemas apakah diplomasi menit terakhir mampu meredam amarah Washington. Tanpa adanya konsensus, pengamat memprediksi Rabu pagi akan menjadi awal dari babak baru yang jauh lebih gelap dalam sejarah Timur Tengah di tahun 2026 ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















