Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz dan Kecam Sekutu NATO-Asia

Selasa, 7 April 2026 - 11:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pecah kongsi di Capitol Hill. Kelompok senator bipartisan mendesak Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk segera menyalurkan bantuan keamanan senilai $600 juta bagi Ukraina dan negara Baltik yang tertahan. Dok: Istimewa.

Pecah kongsi di Capitol Hill. Kelompok senator bipartisan mendesak Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk segera menyalurkan bantuan keamanan senilai $600 juta bagi Ukraina dan negara Baltik yang tertahan. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Dunia kini bersiap menghadapi potensi eskalasi militer terbesar di Timur Tengah. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa militer Amerika Serikat siap meratakan infrastruktur utama Iran jika blokade Selat Hormuz tidak segera berakhir.

Dalam konteks ini, Trump memberikan ultimatum sangat spesifik dalam konferensi pers di Gedung Putih pada hari Senin. Ia menegaskan bahwa AS telah memenangkan perang secara militer dan kini hanya menunggu kepatuhan Teheran.

Ancaman Penghancuran Total dalam Empat Jam

Trump memperingatkan bahwa Washington memiliki rencana militer untuk melumpuhkan Iran secara instan. Jika Teheran gagal membuka Selat Hormuz hingga Selasa pukul 20.00 waktu Eastern, militer AS akan segera memulai serangan besar-besaran.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Militer kami akan menghancurkan setiap jembatan di Iran sebelum tengah malam besok. Pembangkit listrik di sana akan meledak dan tidak bisa berfungsi lagi,” tegas Trump. Oleh karena itu, ia mendesak para pemimpin Iran untuk segera mengambil keputusan sebelum militer AS mengeksekusi rencana penghancuran tersebut.

Baca Juga :  Inovasi Rumah Kaca Air Laut Charlie Paton Hijaukan Gurun

Kecaman terhadap Sekutu Asia dan NATO

Ketegangan diplomatik juga merembet ke internal aliansi Barat. Trump kembali melabeli NATO sebagai “macan kertas” karena ia menganggap aliansi itu tidak memberikan dukungan memadai. Bahkan, ia menuntut timbal balik dari negara-negara Asia yang selama ini menikmati perlindungan keamanan Amerika.

Secara khusus, Trump menyinggung keberadaan 50.000 tentara AS di Jepang dan 45.000 tentara di Korea Selatan. Ia merasa jaminan perlindungan terhadap ancaman Korea Utara seharusnya menghasilkan dukungan nyata di medan perang Iran. Meskipun demikian, Trump memberikan pujian bagi Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi yang ia nilai telah membantu AS sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Iran Tuntut Akhir Perang, Bukan Gencatan Senjata

Respon dari Teheran datang melalui kantor berita resmi IRNA. Iran secara tegas menolak proposal gencatan senjata 15 poin yang Washington kirimkan melalui Pakistan. Sebagai hasilnya, Teheran mengajukan rencana tandingan sebanyak 10 poin.

Baca Juga :  Jasad Pria dengan Luka Tembak di Kepala Ditemukan di Jaksel, Polisi Selidiki Senjata Api

Dalam hal ini, Iran menekankan keinginan mereka untuk mengakhiri perang secara permanen, bukan sekadar jeda pertempuran sementara. Rencana tersebut mencakup kerangka kerja untuk menghentikan permusuhan regional dan menjamin keamanan navigasi di Selat Hormuz tanpa campur tangan militer asing. Oleh sebab itu, jurang perbedaan antara kedua belah pihak di meja perundingan masih sangat lebar.

Menanti Kepastian pada Selasa Malam

Masa depan ekonomi dan keamanan dunia kini bergantung pada hasil dari jam-jam kritis ini. Pada akhirnya, kehancuran infrastruktur energi dan logistik Iran akan memicu dampak lingkungan serta kemanusiaan yang mengerikan.

Dengan demikian, dunia internasional memantau dengan cemas apakah diplomasi menit terakhir mampu meredam amarah Washington. Tanpa adanya konsensus, pengamat memprediksi Rabu pagi akan menjadi awal dari babak baru yang jauh lebih gelap dalam sejarah Timur Tengah di tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia
Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang
Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik
Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel
WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global
Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas
Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita
SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:00 WIB

Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Berita Terbaru

Misi merajut kembali aliansi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi India untuk memulihkan hubungan yang sempat retak akibat sengketa tarif dan perbedaan pandangan strategis terkait kawasan Asia Selatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Sanksi diplomatik Paris. Pemerintah Prancis resmi melarang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memasuki wilayahnya sebagai respons atas sikap kontroversialnya terhadap aktivis bantuan Gaza. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat internasional. Dok: (AP Photo/Moses Sawasawa)

KESEHATAN

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB