USS Abraham Lincoln Tiba di Timur Tengah, Iran Siapkan Respon

Selasa, 27 Januari 2026 - 13:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Catur kekuatan di Pasifik. Melalui lensa Neo-Realisme, pembentukan aliansi AUKUS dan Quad bukan sekadar kerja sama diplomatik, melainkan mekanisme pertahanan sistemik guna menjaga keseimbangan kekuatan global. Dok: Wikipedia.

Catur kekuatan di Pasifik. Melalui lensa Neo-Realisme, pembentukan aliansi AUKUS dan Quad bukan sekadar kerja sama diplomatik, melainkan mekanisme pertahanan sistemik guna menjaga keseimbangan kekuatan global. Dok: Wikipedia.

TEHERAN/ABU DHABI, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan di perairan Timur Tengah memasuki babak baru yang krusial. Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command) secara resmi mengonfirmasi pengerahan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln ke wilayah tersebut.

Kapal induk bertenaga nuklir ini, beserta armada kapal perusak peluru kendali, mulai bergerak dari wilayah Asia-Pasifik awal bulan ini. Pengerahan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan pasca-tindakan keras terhadap protes di Iran. Selain itu, ancaman berulang dari Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan aksi militer turut memicu langkah ini.

Militer AS tidak hanya mengirim kapal. Pentagon juga memindahkan jet tempur dan sistem pertahanan udara tambahan. Wilayah cakupannya membentang dari Afrika Timur Laut hingga Asia Tengah dan Selatan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, pada akhir pekan, AS mengumumkan latihan militer. Tujuannya adalah “mendemonstrasikan kemampuan menyebarkan, memecah, dan mempertahankan kekuatan tempur udara.”

Baca Juga :  Tiga DPO KKB Yahukimo Diterbangkan ke Jayapura, Polda Papua Dalami Jaringan

Teheran: “Kami Hadapi Perang Hibrida”

Di Teheran, atmosfer perlawanan kian terasa. Pihak berwenang memasang sebuah spanduk raksasa yang menggambarkan kapal induk AS dan bendera Amerika di Lapangan Enqelab (Revolusi) pada Minggu (25/1).

Menanggapi hal itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memberikan respons dingin namun tajam dalam konferensi pers mingguan, Senin (26/1). Ia menegaskan Iran akan memberikan respons “komprehensif dan memicu penyesalan” (regret-inducing) terhadap agresi apa pun.

“Kami telah dan masih menghadapi perang hibrida,” kata Baghaei. “Pasca-agresi militer Israel terhadap Iran pada bulan Juni, kami menghadapi klaim dan ancaman baru dari Amerika Serikat dan Israel setiap hari.”

Baghaei memperingatkan negara-negara tetangga bahwa ketidakamanan bersifat menular. “Ketidakamanan itu menular… oleh karena itu, negara mana pun yang menghormati perdamaian harus mengambil sikap jelas terhadap ancaman AS,” ujarnya.

Hezbollah: “Kami Tidak Akan Netral”

Sementara itu, sekutu utamanya di Lebanon mendukung peringatan Iran. Saluran TV al-Manar mengutip pernyataan Pemimpin Hezbollah, Sheikh Naim Qassem. Ia menyatakan kesiapan kelompoknya untuk terjun ke medan tempur.

Baca Juga :  Motor Mio Dibawa Kabur di Koja Terekam CCTV, Polisi Bergerak Cepat

“Jika Israel dan Amerika Serikat meluncurkan agresi terhadap Iran, kami akan memilih cara bertindak pada waktu yang tepat. Akan tetapi, kami tidak akan netral,” tegas Qassem.

UAE: Menolak Jadi Landasan Perang

Di sisi lain, di tengah gemuruh mesin perang, Uni Emirat Arab (UAE) mengambil langkah diplomatik tegas untuk menjaga jarak. Kementerian Luar Negeri UAE pada hari Senin menegaskan kembali komitmennya. Mereka melarang pihak mana pun menggunakan wilayah udara, darat, atau perairannya dalam tindakan militer terhadap Iran.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa UAE tidak akan memberikan dukungan logistik untuk operasi militer bermusuhan.

“Dialog, de-eskalasi, kepatuhan pada hukum internasional, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara merupakan fondasi paling efektif untuk mengatasi krisis saat ini,” bunyi pernyataan resmi UAE. Akibatnya, sikap ini menandakan penolakan halus namun tegas dari sekutu tradisional AS di Teluk. Mereka menolak terseret dalam konflik terbuka dengan tetangga seberang lautan mereka.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara
Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Berita Terbaru

Pasar anime Jepang tembus rekor 4,45 triliun yen pada 2025 didorong lonjakan penjualan luar negeri dan tayangan streaming. Simak ulasan lengkapnya. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Pasar Anime Jepang Cetak 4,45 Triliun Yen, Luar Negeri Dominasi

Selasa, 3 Nov 2026 - 06:33 WIB