KYIV, POSNEWS.CO.ID – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tidak membuang waktu. Pada hari Rabu, ia secara terbuka menyatakan keinginannya untuk segera bertemu kembali dengan Presiden AS Donald Trump. Langkah ini ia ambil saat para pejabat kedua negara meninjau ulang dua “batu sandungan” utama dalam pembicaraan damai Rusia-Ukraina.
Kyiv kini berada di bawah tekanan berat Washington untuk mengamankan perdamaian. Namun, Zelenskyy tetap memegang kartu tawar. Ia menginginkan jaminan keamanan konkret dari sekutu dan menolak keras tuntutan Rusia untuk menyerahkan wilayah timur Donetsk serta kendali atas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia.
Berbicara kepada wartawan melalui WhatsApp, Zelenskyy mengungkapkan tujuannya. Ia ingin mengukur keterbukaan Trump terhadap proposal Ukraina: Washington harus menjamin keamanan bagi Kyiv selama lebih dari 15 tahun jika gencatan senjata terjadi.
“Mereka punya alatnya, dan mereka tahu cara menggunakannya,” ujar Zelenskyy, mendesak Trump meningkatkan tekanan pada Rusia.
Inspirasi dari Operasi Maduro
Menariknya, Zelenskyy melontarkan saran provokatif. Ia mengutip operasi militer AS baru-baru ini yang secara paksa menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Menurutnya, Washington bisa melakukan langkah serupa terhadap pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov, yang merupakan sekutu dekat Vladimir Putin.
“Mungkin dengan begitu Putin akan melihatnya dan berpikir dua kali,” cetus Zelenskyy. Pernyataan ini menyiratkan bahwa Kyiv melihat tindakan tegas AS di belahan bumi lain sebagai model yang bisa diterapkan untuk mengguncang kepercayaan diri Kremlin.
Kebuntuan Wilayah dan Nuklir
Zelenskyy berbicara saat pejabat AS dan Ukraina di Paris sedang mendiskusikan masalah wilayah dan nasib PLTN Zaporizhzhia, fasilitas nuklir terbesar di Eropa. Ia menggambarkan dua hal ini sebagai isu paling berduri dalam pembicaraan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kyiv menolak menarik diri dari kawasan industri Donetsk. Meskipun Rusia menduduki sebagian besar wilayah itu, Moskow gagal merebutnya sepenuhnya. Zelenskyy menyebut AS sempat melontarkan gagasan “zona ekonomi bebas” di sana jika Ukraina bersedia mundur dari bagian yang masih mereka kuasai.
Pada hari Selasa, utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff mengakui bahwa “opsi tanah” telah mereka diskusikan. Ia berharap kompromi dapat segera tercapai.
Dari “Kehendak Politik” ke Janji Mengikat
Pembicaraan di Paris minggu ini memang menghasilkan komitmen dari sekutu Kyiv untuk mendukung gencatan senjata, termasuk jaminan kehadiran pasukan multinasional.
Akan tetapi, Zelenskyy tetap skeptis. Ia menilai ekspresi “kehendak politik” tersebut belum diterjemahkan menjadi janji yang mengikat secara hukum yang didukung oleh parlemen nasional negara-negara sekutu. Tanpa ratifikasi parlemen, jaminan keamanan hanyalah kertas kosong yang bisa robek kapan saja jika angin politik berubah.
Hingga berita ini turun, Gedung Putih belum memberikan komentar resmi mengenai usulan pertemuan baru antara Zelenskyy dan Trump.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency


















