Zelenskyy Tuntut Jaminan Keamanan 20 Tahun dan Tolak Konsesi Wilayah

Minggu, 15 Februari 2026 - 14:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lompatan jarak serang terjauh. Pasukan Ukraina meluncurkan pesawat tanpa awak yang sukses menghantam kilang minyak utama Siberia di Tyumen. Dok: Istimewa.

Lompatan jarak serang terjauh. Pasukan Ukraina meluncurkan pesawat tanpa awak yang sukses menghantam kilang minyak utama Siberia di Tyumen. Dok: Istimewa.

MUNICH, POSNEWS.CO.ID – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengirimkan sinyal keras kepada komunitas internasional pada Sabtu (14/2/2026). Ia menegaskan bahwa Ukraina hanya akan menandatangani kesepakatan damai yang “bermartabat” jika mendapatkan jaminan keamanan selama 20 tahun dari Amerika Serikat.

Zelenskyy menyampaikan tuntutan ini di tengah persiapan perundingan trilateral dengan Rusia dan AS di Jenewa pekan depan. Ia mengungkapkan kekecewaannya karena pihak Barat sering kali hanya membahas konsesi dari sisi Ukraina, bukan dari pihak Rusia. “Jaminan keamanan ini harus bersifat mengikat secara hukum dan mengatur bantuan spesifik bagi pasukan Reasuransi Eropa di Ukraina,” tegas Zelenskyy.

Penolakan Konsesi Donbas dan Jadwal Pemilu

Zelenskyy merespons desakan Amerika Serikat yang meminta Ukraina menarik diri dari wilayah Donbas guna mempercepat perdamaian. Ia menegaskan bahwa konsesi tersebut mustahil terlaksana karena warga Ukraina masih menetap di sana.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, ia menanggapi tekanan Washington mengenai penyelenggaraan pemilu pada 15 Mei mendatang. Zelenskyy menyatakan bahwa pemungutan suara hanya dapat berlangsung setidaknya dua bulan setelah deklarasi gencatan senjata. Langkah ini bertujuan untuk menjamin keamanan para pemilih di lapangan. Hingga saat ini, belum ada rincian mengenai “Rencana Kemakmuran” terkait akses AS ke sumber daya mineral Ukraina yang ditukar dengan jaminan keamanan tersebut.

Baca Juga :  Malaysia Resmi Tingkatkan Mandatori Biodiesel Sawit

Tawaran Bersyarat Menlu AS Marco Rubio

Suasana konferensi sempat mencair saat Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memberikan pidato yang menyerukan persatuan antara Eropa dan Amerika Serikat. Rubio menggunakan nada diplomatik yang lebih halus dibandingkan pidato JD Vance setahun lalu, dengan menyatakan bahwa “Eropa dan AS memiliki tempat yang sama”.

Namun demikian, Rubio menekankan bahwa kemitraan tersebut sangat bergantung pada kepatuhan Eropa terhadap kebijakan administrasi Trump mengenai tarif perdagangan, manajemen migrasi, dan isu iklim. Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat siap untuk membangun kembali tatanan dunia secara sepihak.

Kritik terhadap Iran dan Absensi Eropa

Dalam pidato yang berapi-api, Zelenskyy meluncurkan serangan verbal terhadap rezim Iran. Ia menuduh drone Shahed buatan Iran telah menghancurkan seluruh infrastruktur energi Ukraina tanpa terkecuali. “Rezim seperti di Iran tidak boleh diberikan waktu. Ketika mereka punya waktu, mereka hanya akan membunuh lebih banyak orang,” ujar Zelenskyy di hadapan massa yang juga memprotes rezim Ayatollah di Munich.

Baca Juga :  Wang Yi dan Viktor Orban Pertegas Kemitraan Jangka Panjang

Zelenskyy juga mengeluhkan absennya peran aktif pemimpin Eropa dalam meja perundingan inti. Pandangan ini ternyata sejalan dengan pendapat Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi. Para pemimpin Eropa sendiri tampak pesimis mengenai terobosan diplomatik jangka pendek, mengingat kekuatan ekonomi dan militer Vladimir Putin yang belum sepenuhnya terkuras.

Target Militer dan Masa Depan Konflik

Meskipun diplomasi sedang berjalan, Zelenskyy tetap memperkuat posisi militernya. Ia menargetkan untuk meningkatkan jumlah korban di pihak Rusia menjadi 50.000 orang per bulan guna menekan Moskow agar lebih serius di meja perundingan.

Salah satu pemimpin Eropa memprediksi perang masih akan berlanjut selama dua tahun lagi. Ia menjamin bahwa Eropa memiliki sumber daya yang cukup untuk mendukung Kiev dalam jangka waktu tersebut. Kini, mata dunia tertuju pada Jenewa untuk melihat apakah jaminan keamanan 20 tahun yang Zelenskyy tuntut dapat melunakkan kebuntuan antara Washington, Kyiv, dan Moskow.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan
Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir
Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah
Observatorium Chilbolton Pantau Sampah Antariksa
Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:00 WIB

Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah

Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Observatorium Chilbolton Pantau Sampah Antariksa

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Berita Terbaru

Ukraina dan Rusia saling tuduh melancarkan serangan mematikan pada Minggu, sementara Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut Moskow mengancam. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan

Selasa, 11 Agu 2026 - 15:08 WIB

Presiden AS Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi atas korban jiwa akibat perang, serangan, dan aksi protes, langkah yang berpotensi mempersulit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir

Selasa, 11 Agu 2026 - 14:00 WIB

Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanas yang pernah tercatat akibat perubahan iklim, memicu gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah

Selasa, 11 Agu 2026 - 13:48 WIB