Quarter-Life Crisis: Mengapa Usia 25 Terasa Seperti Jalan Buntu?

Rabu, 19 November 2025 - 18:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Usia 25 sering menjadi titik balik yang membingungkan. Simak mengapa fase ini terasa berat dan cara menghadapinya. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Usia 25 sering menjadi titik balik yang membingungkan. Simak mengapa fase ini terasa berat dan cara menghadapinya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Usia 25 sering dianggap sebagai gerbang kedewasaan sesungguhnya. Akan tetapi, realitas sering kali berkata lain. Banyak orang justru merasa tersesat di fase ini.

Mereka bangun tidur dengan perasaan cemas. Pasalnya, arah hidup terasa kabur dan tidak menentu. Teman-teman sebaya terlihat sudah berlari jauh di depan. Oleh karena itu, perasaan tertinggal ini menghantui setiap hari. Fenomena inilah yang kita kenal sebagai Quarter-Life Crisis.

Ilusi Kesempurnaan di Media Sosial

Media sosial sering menjadi pemicu utama kecemasan ini. Mulanya, kita membuka LinkedIn dan melihat rentetan promosi jabatan teman. Selanjutnya, kita beralih ke Instagram. Laman di sana penuh dengan foto liburan mewah atau pernikahan megah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Platform digital ini memicu perbandingan sosial yang tidak sehat. Tanpa sadar, kita membandingkan “bab satu” kehidupan kita dengan “bab sepuluh” orang lain. Padahal, kita sering lupa satu fakta penting. Orang hanya menampilkan sorotan terbaik mereka di dunia maya.

Baca Juga :  Amukan Mengerikan di Grobogan, Pria Diduga ODGJ Bacok 6 Warga - Darah Berceceran

Akibatnya, rasa minder perlahan tumbuh. Kita merasa pencapaian diri sendiri tidak ada artinya dibandingkan etalase digital orang lain. Akhirnya, kepercayaan diri pun tergerus habis oleh algoritma.

Guncangan Transisi Identitas

Faktor lain yang tak kalah penting adalah transisi identitas. Kita menghabiskan belasan tahun dalam sistem pendidikan yang sangat terstruktur. Jadwal sekolah dan kuliah selalu jelas. Bahkan, jalur kenaikan kelas pun terprediksi dengan baik.

Sebaliknya, dunia kerja menawarkan realitas yang sangat berbeda. Peta jalan itu tiba-tiba hilang tak berbekas. Kini, tidak ada lagi kurikulum pasti untuk sukses dalam karier.

Ketidakpastian ini menciptakan kekosongan besar bagi mental kita. Mau tidak mau, kita harus mengambil keputusan sendiri tanpa panduan baku. Tanggung jawab penuh atas pilihan hidup ini sering kali terasa melumpuhkan.

Serangan Pertanyaan “Kapan?”

Selain itu, tekanan eksternal turut memperkeruh suasana batin. Pertemuan keluarga sering berubah menjadi “sidang dadakan” yang menakutkan. Tiba-tiba, pertanyaan-pertanyaan klise mulai bermunculan tanpa henti.

Baca Juga :  Tantangan Ekonomi Perempuan dalam Ekonomi Gig

“Kapan nikah?”, “Kerja di mana sekarang?”, atau “Gaji sudah berapa?”. Lingkungan sosial seolah menetapkan batas waktu ketat untuk setiap pencapaian hidup.

Siapa pun yang belum memenuhi standar tersebut sering kali dianggap gagal. Parahnya, standar sosial ini menambah beban mental yang sudah berat. Kita akhirnya merasa harus memuaskan ekspektasi orang lain. Imbasnya, kebahagiaan diri sendiri justru menjadi nomor dua.

Mengubah Krisis Menjadi Titik Balik

Kendati demikian, krisis ini sebenarnya bukan akhir dari segalanya. Perasaan bingung hanyalah sinyal alami. Hal itu menandakan bahwa kita sedang bertumbuh dan berkembang.

Kita perlu menggunakan momen ini untuk mengevaluasi ulang nilai-nilai hidup. Maka, jadikan fase ini sebagai titik balik penemuan jati diri. Gunakan waktu ini untuk mengenal minat dan bakat lebih dalam.

Kita berhak mendefinisikan ulang arti sukses. Sukses tidak harus sama dengan versi orang tua atau standar media sosial. Ingatlah, usia 25 bukanlah jalan buntu. Usia ini justru merupakan persimpangan penting menuju kehidupan yang lebih autentik.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo
Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital
Pasukan Khusus Inggris Sasar Pendanaan Perang Putin
Donald Trump Hubungi Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy
Pengunjuk Rasa Gempur Polisi Jelang Pembukaan KTT G7
Ulang Tahun ke-80: Donald Trump Gelar Pertarungan UFC
Donald Trump Umumkan Kesepakatan Damai Akhir Perang
Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 14:51 WIB

Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:45 WIB

Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:08 WIB

Pasukan Khusus Inggris Sasar Pendanaan Perang Putin

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:37 WIB

Pengunjuk Rasa Gempur Polisi Jelang Pembukaan KTT G7

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:10 WIB

Ulang Tahun ke-80: Donald Trump Gelar Pertarungan UFC

Berita Terbaru

Hambatan di tengah krisis kesehatan. Warga di kamp pengungsian Kpangba mengusir petugas medis yang berupaya melacak kontak erat korban meninggal akibat Ebola. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo

Selasa, 16 Jun 2026 - 14:51 WIB

Peringatan keamanan di Pasifik. Laporan terbaru Lowy Institute memperingatkan lompatan ancaman militer Tiongkok terhadap Australia lewat taktik siber dan potensi pangkalan militer baru. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital

Selasa, 16 Jun 2026 - 13:45 WIB

Penertiban armada bayangan Rusia. Pasukan Komando Marinir Inggris menggelar operasi boarding untuk menahan tanker minyak Smyrtos di Selat Inggris. Dok: UK MOD Crown/LPhot Hutchins/Handout via REUTERS

INTERNASIONAL

Pasukan Khusus Inggris Sasar Pendanaan Perang Putin

Selasa, 16 Jun 2026 - 12:08 WIB