Uni Eropa Melunak: Target Nol Emisi 2035 Direvisi

Minggu, 21 Desember 2025 - 16:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kabar gembira bagi pecinta mesin bensin! EU izinkan mobil hybrid tetap jalan pasca-2035. Simak alasan di balik

Ilustrasi, Kabar gembira bagi pecinta mesin bensin! EU izinkan mobil hybrid tetap jalan pasca-2035. Simak alasan di balik "U-turn" kebijakan hijau Eropa ini. Dok: Istimewa.

BRUSSELS, POSNEWS.CO.ID – Ambisi hijau Eropa akhirnya berbenturan dengan tembok realitas ekonomi. Komisi Eropa resmi mengajukan proposal untuk melonggarkan target “nol emisi” kendaraan pada tahun 2035, Selasa lalu.

Langkah ini menandai kemunduran signifikan dari kebijakan iklim ketat yang mereka canangkan lima tahun terakhir. Awalnya, Uni Eropa (EU) berencana melarang total penjualan mobil bermesin pembakaran internal.

Namun, draf aturan baru mengubah skenario tersebut. Pabrikan mobil kini “hanya” wajib memangkas emisi knalpot sebesar 90 persen pada 2035 dari level 2021. Artinya, larangan total 100 persen batal terlaksana.

Hybrid dan E-Fuel Selamat

Perubahan ini memberikan napas lega bagi teknologi transisi. Mobil jenis plug-in hybrid dan range-extender masih boleh beredar di pasar.

Tentu saja, ada syarat ketat yang menyertainya. Produsen harus mengimbangi sisa 10 persen emisi tersebut melalui tindakan industri. Contohnya, mereka wajib menggunakan baja rendah karbon buatan EU serta bahan bakar sintetis (e-fuels) atau biofuel.

Wopke Hoekstra, Komisaris Iklim Eropa, menyebut rencana ini sebagai solusi “menang-menang” (win-win). Menurutnya, proposal ini menjaga jalur elektrifikasi Eropa tetap berjalan, tetapi dengan insentif dan penalti yang lebih seimbang.

Baca Juga :  Pengungsi Afghanistan di Qatar Tolak Relokasi ke Kongo

Tekanan Jerman dan Italia

Mengapa Brussel berubah pikiran? Jawabannya terletak pada lobi kuat negara produsen mobil seperti Jerman dan Italia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka berargumen bahwa fokus tunggal pada kendaraan listrik (EV) sangat berisiko. Pasalnya, infrastruktur pengisian daya masih belum merata. Selain itu, persaingan harga dengan rival dari China dan Amerika Serikat semakin mencekik industri lokal.

Data pasar mendukung kekhawatiran mereka. Adopsi EV di Eropa melambat drastis. Tercatat, EV hanya menyumbang 16,4 persen dari registrasi mobil baru tahun ini.

Dampaknya, badai PHK menghantam sektor ini. Industri otomotif Jerman bahkan telah memangkas sekitar 51.500 pekerjaan dalam satu tahun terakhir. Kebangkrutan produsen baterai Northvolt semakin memperburuk suasana.

Industri Senang, Aktivis Berang

Reaksi terhadap proposal ini terbelah tajam. Raksasa otomotif seperti Volkswagen, BMW, dan Mercedes-Benz menyambut gembira. Mereka menilai langkah ini pragmatis dan mengakui viabilitas masa depan mesin pembakaran.

Baca Juga :  Menunggak Iuran dan Tarik Diri, AS Terancam Jadi Penonton Bisu

Sebaliknya, kelompok lingkungan bereaksi keras. Terry Reintke dari Partai Hijau di Parlemen Eropa menyebut langkah ini sebagai “bencana”.

Ia memperingatkan bahwa berpegang pada teknologi masa lalu justru akan menghancurkan daya saing masa depan. “Ini waktu yang salah bagi Eropa untuk membuang angin dari layarnya sendiri,” kritik Chris Heron dari asosiasi E-Mobility Europe.

Insentif Mobil Murah

Meskipun demikian, Komisi Eropa tetap berusaha memacu pasar EV. Proposal ini memperkenalkan dukungan khusus bagi mobil listrik kecil.

Kendaraan buatan EU dengan harga di bawah 20.000 euro (sekitar Rp330 juta) akan mendapatkan keistimewaan. Nantinya, mobil-mobil ini berhak atas diskon tol dan biaya pengisian daya yang lebih murah.

Pada akhirnya, Eropa sedang mencoba menyeimbangkan dua hal yang sulit: ambisi iklim dan keselamatan ekonomi industri utamanya. Jalan menuju 2035 kini tidak lagi lurus, melainkan berliku demi mengakomodasi realitas pasar yang keras.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Xinhua News Agency

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam
Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon
Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri
Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap
Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS
Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok
Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi
Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:35 WIB

Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:20 WIB

Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap

Minggu, 3 Mei 2026 - 14:17 WIB

Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS

Berita Terbaru

Menjaga stabilitas kawasan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan evolusi strategi Indo-Pasifik di Hanoi. Ia menjanjikan dukungan finansial besar untuk ketahanan energi dan keamanan maritim guna menghadapi agresivitas China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB