Revolusi Transportasi: Kereta Api Menyelamatkan Kota dari Kotoran Kuda

Kamis, 25 Desember 2025 - 20:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kota modern hampir tenggelam dalam kotoran kuda! Simak sejarah unik bagaimana kereta api dan truk bukan hanya mempercepat perjalanan, tapi menyelamatkan kita dari wabah penyakit dan kelaparan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Kota modern hampir tenggelam dalam kotoran kuda! Simak sejarah unik bagaimana kereta api dan truk bukan hanya mempercepat perjalanan, tapi menyelamatkan kita dari wabah penyakit dan kelaparan. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Pada tahun 1898, para delegasi dunia berkumpul di New York City untuk konferensi perencanaan kota internasional pertama. Topik utama mereka bukan perumahan atau kemacetan lalu lintas. Melainkan, mereka panik menghadapi satu masalah besar: kotoran kuda.

Populasi kota meledak, akibatnya, jumlah kuda pekerja pun meningkat tajam. Di New York saja, kuda-kuda ini memproduksi hampir dua juta kilogram kotoran setiap hari.

Para ahli saat itu membuat prediksi yang mengerikan. Jika tren ini berlanjut, pada 1950 setiap jalan di London akan terkubur kotoran kuda sedalam tiga meter. Seketika, mereka menyimpulkan bahwa kehidupan kota tidak berkelanjutan.

Namun, solusi datang dari arah yang tak terduga. Revolusi transportasi bermesin uap dan bensin menyelamatkan peradaban urban dari “tsunami” limbah organik tersebut.

Krisis Sanitasi dan Wabah Penyakit

Dampak kuda pekerja di kota sangatlah brutal. Tumpukan kotoran bukan hanya merusak pemandangan dan baunya menyengat. Lebih parah lagi, tumpukan itu menjadi sarang perkembangbiakan lalat.

Miliaran lalat menetas setiap hari, membawa wabah penyakit mematikan seperti tipus, kolera, dan difteri. Selain itu, bangkai kuda yang mati di jalan sering kali menjadi penghalang lalu lintas yang sulit dipindahkan.

Baca Juga :  Cuaca Jabodetabek 14–15 November 2025, BMKG: Hujan Sedang–Lebat, Jaksel dan Depok Paling Rawan

Paradoksnya, kereta api justru menjadi solusi awal. Kemampuan kereta mengangkut barang dari jauh membuat banyak peternakan di pinggir kota gulung tikar. Lantas, permintaan pupuk kandang dari kuda kota menurun, memperparah penumpukan limbah karena tidak ada yang mau mengambilnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengakhiri “Musim Lapar”

Jauh sebelum krisis kotoran, transportasi yang buruk juga menjadi biang keladi kelaparan. Novelis Laura Ingalls Wilder menggambarkan bagaimana penduduk kota kecil De Smet nyaris mati kelaparan saat musim dingin 1880 karena kereta api terhenti oleh salju.

Zaman dulu, petani subsisten harus menghadapi “musim paceklik” atau hungry gap. Pasalnya, memindahkan makanan sangat mahal dan sulit. Mengangkut barang sejauh 50 km di darat biayanya setara dengan mengirimnya melintasi Samudra Atlantik.

Kemudian, kereta api dan kapal uap mengubah segalanya. Petani kini bisa melakukan spesialisasi tanaman. Hasilnya, surplus panen dari wilayah subur bisa dikirim ke daerah yang gagal panen. Kelaparan massal akibat isolasi geografis pun perlahan menghilang.

Hutan Kembali Hijau

Dampak lingkungan dari revolusi ini sering kali luput dari perhatian. Dulu, untuk memberi makan kuda, manusia harus membuka lahan hutan yang luas guna menanam gandum dan jerami.

Baca Juga :  Banjir Genangi Tol Jakarta–Tangerang, Pengendara Diminta Waspada di KM 23 hingga KM 26

Kini, mesin menggantikan otot hewan. Lahan pertanian yang tidak efisien pun ditinggalkan. Akibatnya, alam mengambil alih kembali.

Prancis menjadi contoh sukses “transisi hutan”. Antara 1830 dan 1960, luas hutan di sana bertambah sepertiga. Hal ini terjadi justru saat populasi manusia meningkat dua kali lipat. Transportasi modern memungkinkan produksi pangan terkonsentrasi di lahan terbaik, membiarkan lahan marjinal kembali menjadi hutan liar.

Kota Beton Lebih Ramah Lingkungan?

Ekonom Ed Glaser memberikan pandangan provokatif. Menurutnya, tinggal di hutan beton kota sebenarnya lebih ramah lingkungan daripada tinggal di desa.

Kota yang padat memungkinkan efisiensi energi dan sumber daya. Oleh karena itu, Glaser berpesan: “Jika Anda mencintai alam, menjauhlah darinya.”

Pada akhirnya, meskipun mobil dan kereta api sering kita tuduh sebagai sumber polusi, sejarah membuktikan sebaliknya. Teknologi ini telah mengangkat kita dari lumpur kemiskinan, membersihkan jalanan dari wabah penyakit, dan memberikan ruang bagi alam untuk bernapas kembali.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri
Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap
Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS
Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok
Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi
Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam
BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026
Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:20 WIB

Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap

Minggu, 3 Mei 2026 - 14:17 WIB

Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:29 WIB

Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:15 WIB

Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi

Berita Terbaru

Inggris dalam siaga

INTERNASIONAL

Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:15 WIB