NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Pada tahun 1898, para delegasi dunia berkumpul di New York City untuk konferensi perencanaan kota internasional pertama. Topik utama mereka bukan perumahan atau kemacetan lalu lintas. Melainkan, mereka panik menghadapi satu masalah besar: kotoran kuda.
Populasi kota meledak, akibatnya, jumlah kuda pekerja pun meningkat tajam. Di New York saja, kuda-kuda ini memproduksi hampir dua juta kilogram kotoran setiap hari.
Para ahli saat itu membuat prediksi yang mengerikan. Jika tren ini berlanjut, pada 1950 setiap jalan di London akan terkubur kotoran kuda sedalam tiga meter. Seketika, mereka menyimpulkan bahwa kehidupan kota tidak berkelanjutan.
Namun, solusi datang dari arah yang tak terduga. Revolusi transportasi bermesin uap dan bensin menyelamatkan peradaban urban dari “tsunami” limbah organik tersebut.
Krisis Sanitasi dan Wabah Penyakit
Dampak kuda pekerja di kota sangatlah brutal. Tumpukan kotoran bukan hanya merusak pemandangan dan baunya menyengat. Lebih parah lagi, tumpukan itu menjadi sarang perkembangbiakan lalat.
Miliaran lalat menetas setiap hari, membawa wabah penyakit mematikan seperti tipus, kolera, dan difteri. Selain itu, bangkai kuda yang mati di jalan sering kali menjadi penghalang lalu lintas yang sulit dipindahkan.
Paradoksnya, kereta api justru menjadi solusi awal. Kemampuan kereta mengangkut barang dari jauh membuat banyak peternakan di pinggir kota gulung tikar. Lantas, permintaan pupuk kandang dari kuda kota menurun, memperparah penumpukan limbah karena tidak ada yang mau mengambilnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengakhiri “Musim Lapar”
Jauh sebelum krisis kotoran, transportasi yang buruk juga menjadi biang keladi kelaparan. Novelis Laura Ingalls Wilder menggambarkan bagaimana penduduk kota kecil De Smet nyaris mati kelaparan saat musim dingin 1880 karena kereta api terhenti oleh salju.
Zaman dulu, petani subsisten harus menghadapi “musim paceklik” atau hungry gap. Pasalnya, memindahkan makanan sangat mahal dan sulit. Mengangkut barang sejauh 50 km di darat biayanya setara dengan mengirimnya melintasi Samudra Atlantik.
Kemudian, kereta api dan kapal uap mengubah segalanya. Petani kini bisa melakukan spesialisasi tanaman. Hasilnya, surplus panen dari wilayah subur bisa dikirim ke daerah yang gagal panen. Kelaparan massal akibat isolasi geografis pun perlahan menghilang.
Hutan Kembali Hijau
Dampak lingkungan dari revolusi ini sering kali luput dari perhatian. Dulu, untuk memberi makan kuda, manusia harus membuka lahan hutan yang luas guna menanam gandum dan jerami.
Kini, mesin menggantikan otot hewan. Lahan pertanian yang tidak efisien pun ditinggalkan. Akibatnya, alam mengambil alih kembali.
Prancis menjadi contoh sukses “transisi hutan”. Antara 1830 dan 1960, luas hutan di sana bertambah sepertiga. Hal ini terjadi justru saat populasi manusia meningkat dua kali lipat. Transportasi modern memungkinkan produksi pangan terkonsentrasi di lahan terbaik, membiarkan lahan marjinal kembali menjadi hutan liar.
Kota Beton Lebih Ramah Lingkungan?
Ekonom Ed Glaser memberikan pandangan provokatif. Menurutnya, tinggal di hutan beton kota sebenarnya lebih ramah lingkungan daripada tinggal di desa.
Kota yang padat memungkinkan efisiensi energi dan sumber daya. Oleh karena itu, Glaser berpesan: “Jika Anda mencintai alam, menjauhlah darinya.”
Pada akhirnya, meskipun mobil dan kereta api sering kita tuduh sebagai sumber polusi, sejarah membuktikan sebaliknya. Teknologi ini telah mengangkat kita dari lumpur kemiskinan, membersihkan jalanan dari wabah penyakit, dan memberikan ruang bagi alam untuk bernapas kembali.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















