WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump mungkin sering tidak terduga. Namun, satu hal tampaknya pasti: pendekatan “ekonomi-pertama” (economic-first) terhadap Asia akan terus berlanjut hingga 2026.
Menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) yang kurang dari setahun lagi, Trump mengubah fokusnya secara tajam. Ia kini lebih peduli pada kekhawatiran domestik soal keterjangkauan harga daripada isu geopolitik yang rumit.
Pasalnya, jajak pendapat menunjukkan rakyat Amerika semakin frustrasi dengan kenaikan biaya hidup. Akibatnya, Trump mempercepat poros kebijakan ini sekembalinya dari perjalanan Asia akhir Oktober lalu.
Tarif dan Kesepakatan Busan
Dalam setiap diskusi luar negeri, Trump konsisten menyoroti aspek ekonomi. Ia sering mengklaim bahwa ancaman tarifnya telah menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan bagi AS.
Kecenderungan ini terlihat jelas dalam hubungan AS-China. Berbeda dengan pendahulunya, pemerintahan Trump lebih melihat China lewat lensa kompetisi ekonomi, bukan ideologis.
Trump jarang mengkritik Beijing dari sudut pandang hak asasi manusia. Bahkan, ia menghindari topik sensitif seperti Taiwan.
“Lintasan tingkat tinggi secara keseluruhan lebih berfokus pada isu ekonomi, dengan kedua pihak memenuhi apa yang mereka sepakati di Busan,” jelas Bonny Lin, pakar China dari CSIS.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Busan, Korea Selatan, Trump dan Presiden Xi Jinping menyepakati gencatan senjata perang dagang selama satu tahun. Hasilnya, China menangguhkan kontrol ekspor logam tanah jarang dan kembali membeli kedelai AS, sementara AS menurunkan tarif impor.
Kunjungan April dan Ketidakpastian
Rencana besar berikutnya adalah kunjungan Trump ke China pada April 2026. Kunjungan kenegaraan ini diprediksi menjadi peristiwa diplomatik utama tahun depan.
Meskipun peluang kesepakatan besar tipis, Trump mungkin tetap pergi. Ia ingin menampilkan dirinya sebagai inisiator yang memegang kendali hubungan bilateral.
“Dia mungkin tidak melihat hasil kesepakatan (deliverables) sebagai prasyarat wajib,” kata Lin. Namun, ketidakpastian masih tinggi. Perilaku agresif China terhadap sekutu AS seperti Jepang bisa menjadi pengganggu.
“Ada risiko faktor-faktor tersebut masuk dan memengaruhi arah yang telah ditetapkan Presiden Trump,” tambahnya.
Tensi Jepang-China Jadi Ganjalan
Di sisi lain, Jeffrey Hornung dari Rand Corporation menyoroti dilema keamanan. Keretakan diplomatik yang membesar antara Tokyo dan Beijing sejak November bisa mempersulit strategi Trump.
Perselisihan ini dipicu oleh komentar PM Jepang Sanae Takaichi soal kontingensi Taiwan. Trump sadar ini adalah situasi yang “halus”. Ia harus menyeimbangkan dua hubungan yang sangat penting.
Hornung memperingatkan bahwa China bisa “menggali lubang sendiri” jika terlalu menekan Jepang.
Sebaliknya, jika AS membuka diri untuk keterlibatan ekonomi tetapi China justru memanfaatkannya, hal itu akan menyulitkan langkah Washington ke depan. Pada akhirnya, bagi Trump, nasib pemilu 2026 mungkin lebih bergantung pada harga barang di Walmart daripada siapa yang menguasai Laut China Selatan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















