KOTA VATIKAN, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Takhta Suci kini memasuki fase pemulihan yang krusial. Paus Leo XIV dan Sekretaris Negara AS Marco Rubio secara resmi berkomitmen untuk memperbaiki hubungan bilateral yang sempat memanas dalam beberapa pekan terakhir.
“Kedua pemimpin memperbarui komitmen bersama untuk membina hubungan bilateral yang baik,” tulis pernyataan resmi Vatikan setelah pertemuan tersebut berakhir. Pertemuan ini berlangsung dalam atmosfer yang penuh tekanan, mengingat serangkaian serangan verbal Presiden Donald Trump terhadap pemimpin tertinggi umat Katolik tersebut.
Kritik Perang Iran dan Kebijakan Imigrasi
Paus Leo XIV merupakan Paus pertama asal Amerika Serikat dalam sejarah. Ia mulai mengundang kemarahan Gedung Putih setelah secara vokal mengkritik perang AS-Israel di Iran. Selain itu, Paus Leo juga mengecam kebijakan imigrasi garis keras yang administrasi Trump terapkan di perbatasan selatan.
Sebagai dampaknya, Presiden Trump melancarkan serangan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap sang Pontifex. Pada hari Senin lalu, Trump secara keliru menyebut Paus mendukung kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Namun, Paus Leo XIV dengan tegas menepis tuduhan tersebut. Ia menyatakan bahwa misinya adalah menyebarkan pesan perdamaian Kristen dan menegaskan bahwa Gereja Katolik memandang senjata nuklir sebagai hal yang amoral.
Dialog 2,5 Jam: Dari Kuba hingga Kebebasan Beragama
Misi diplomatik Marco Rubio di Vatikan berlangsung cukup intensif selama dua setengah jam. Rubio, yang merupakan seorang penganut Katolik taat, juga bertemu dengan diplomat senior Vatikan, Kardinal Pietro Parolin.
Kedutaan Besar AS untuk Takhta Suci mengonfirmasi bahwa kedua pihak mendiskusikan topik kepentingan bersama di Belahan Bumi Barat. Secara spesifik, Rubio sebelumnya menyatakan akan membahas situasi di Kuba serta kekhawatiran mengenai kebebasan beragama di seluruh dunia. “Pertemuan ini menunjukkan hubungan yang tetap kuat antara Vatikan dan Amerika Serikat,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri, Tommy Pigott.
Simbolisme Hadiah: Sepak Bola vs Pena Zaitun
Momen menarik terjadi saat kedua tokoh tersebut bertukar kenang-kenangan. Rubio memberikan sebuah bola sepak kristal kecil kepada Paus Leo. Ia berseloroh bahwa ia tahu sang Paus, yang berasal dari Chicago, sebenarnya merupakan penggemar berat bisbol dan klub White Sox.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai balasan, Paus Leo XIV memberikan sebuah pena yang terbuat dari kayu pohon zaitun. Paus menyebutnya sebagai “tanaman perdamaian.” Dialog di balik pintu tertutup tersebut dilaporkan berjalan sangat jujur dan berlangsung 40 menit lebih lama dari jadwal semula, hingga membuat agenda Paus berikutnya sedikit tertunda.
Dukungan Pemimpin Eropa dan Masa Depan Aliansi
Sebelum kedatangan Rubio, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk juga baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan Paus Leo. Tusk menekankan pentingnya persatuan orang-orang berkehendak baik agar dunia tidak jatuh ke dalam kekacauan.
Di samping itu, Rubio dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni pada hari Jumat. Meloni selama ini dikenal sebagai sekutu yang membela Paus dari kritik Trump. Singkatnya, kunjungan Rubio ini merupakan upaya Washington untuk menyeimbangkan retorika agresif presiden dengan diplomasi tradisional yang lebih halus.
Menakar Ketahanan Diplomasi Suci
Tahun 2026 menandai satu tahun kepemimpinan Paus Leo XIV di Vatikan. Keberaniannya berbicara mengenai “tirani” global telah menjadikannya sosok yang sangat berpengaruh di panggung dunia. Oleh karena itu, keberhasilan Rubio dalam menjaga jalur komunikasi dengan Takhta Suci akan menjadi faktor penentu bagi kredibilitas kepemimpinan Amerika Serikat di mata komunitas internasional yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












