Lupakan Pestisida, Petani China Gunakan Semut Sejak Abad ke-4

Sabtu, 3 Januari 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lebih dari sekadar wisata. Agrowisata kini menjadi strategi diversifikasi ekonomi krusial bagi petani kecil di Amerika Serikat dan Eropa guna menghadapi anjloknya harga komoditas dan ketatnya persaingan teknologi. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Lebih dari sekadar wisata. Agrowisata kini menjadi strategi diversifikasi ekonomi krusial bagi petani kecil di Amerika Serikat dan Eropa guna menghadapi anjloknya harga komoditas dan ketatnya persaingan teknologi. Dok: Istimewa.

GUANGZHOU, POSNEWS.CO.ID – Pada tahun 1476, petani di Berne, Swiss, punya cara unik mengusir ulat tanah: mereka menyeret hama itu ke pengadilan. Uskup agung lantas menjatuhkan vonis “ekskomunikasi” pada cacing-cacing malang tersebut. Namun, ribuan kilometer di timur, petani China memilih pendekatan yang jauh lebih praktis dan mematikan.

Alih-alih berharap pada intervensi ilahi, mereka merekrut aliansi dari alam: katak, bebek, dan yang paling revolusioner, semut. Kisah ini bermula setidaknya 1.700 tahun silam dengan semut jeruk kuning (Oecophylla smaragdina), predator ganas yang telah menjaga kebun jeruk di China selatan selama berabad-abad.

“Mesin Pembunuh” Penjaga Jeruk

Semut jeruk kuning bukanlah serangga biasa. Ukurannya besar, larinya cepat, dan gigitannya menyakitkan bagi manusia namun mematikan bagi serangga hama. Petani jeruk China dengan cerdik memanfaatkan agresi alami semut ini untuk melindungi tanaman mandarin—buah paling manis yang ironisnya juga magnet bagi hama seperti ulat dan kutu.

Catatan sejarah paling awal tentang praktik ini muncul dalam buku botani karya His Han pada tahun 304 Masehi. Ia melukiskan pasar-pasar di Chiao-Chih yang menjual kantong anyaman berisi sarang semut. “Tanpa semut jenis ini, buah-buahan akan rusak oleh banyak serangga berbahaya, dan tak satu pun buah akan sempurna,” tulisnya.

Dari Hutan ke Perdagangan Canggih

Awalnya, petani hanya memindahkan sarang liar. Namun, pada abad ke-10, praktik ini berkembang menjadi industri canggih. Penduduk desa mulai menjebak semut menggunakan kantung kemih babi yang diisi lemak sebagai umpan.

Inovasi terus berlanjut. Pada abad ke-17, petani membangun jembatan bambu antarpohon. Tujuannya mempercepat kolonisasi “pasukan” semut di seluruh kebun. Hasilnya, ratusan ribu sarang semut terbentuk, menciptakan benteng pertahanan biologis yang masif.

Barat baru menyadari rahasia ini pada awal abad ke-20. Walter Swingle, fisiolog tanaman dari AS yang sedang mencari solusi wabah citrus canker di Florida, terperangah saat menemukan perdagangan sarang semut di Guangzhou pada tahun 1915.

Baca Juga :  Bangun Peradaban HAM dari Desa, Kementerian HAM Siapkan 200 Penggerak

Kebangkitan Kembali Biokontrol

Sempat tergeser oleh gelombang insektisida kimia pada 1950-an dan 60-an, metode kuno ini kembali naik daun. Petani yang beralih ke bahan kimia segera kecewa karena biaya melonjak dan hama menjadi kebal (resisten).

Riset modern membuktikan kearifan leluhur ini. Pohon yang dijaga semut kuning memproduksi 20 persen lebih banyak daun sehat dibanding yang tidak. Bahkan, hasil panennya setara dengan kebun yang menggunakan semprotan kimia mahal.

Satu keraguan ilmuwan Barat dahulu adalah simbiosis semut dengan kutu putih (mealy bugs). Semut memang melindungi kutu ini demi mendapatkan embun madu manis. Namun, riset tahun 1980-an mematahkan kekhawatiran itu. Kutu putih di bawah perlindungan semut ternyata sering kali terinfeksi parasit alami lain, sehingga kerusakan yang mereka timbulkan tetap minim.

Dalam jangka panjang, semut terbukti jauh lebih efektif, murah, dan ramah lingkungan daripada racun kimia—dan tentu saja, lebih berguna daripada sekadar mengucilkan hama di pengadilan gereja.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Drone dan Rudal Tewaskan 19 Orang di Rusia-Ukraina
Panglima AS Puji USS Lincoln, Kushner Gelar Pertemuan
Impor Minyak Nabati India Capai Level Tertinggi 10 Bulan
Trump Tuduh Vandal Rusak Rumput National Mall
Erin Patterson Ajukan Banding atas Vonis Kasus Pembunuhan
Gempa 7,7 SR Guncang Indonesia Timur, 20 Orang Tewas
Trump Tepis Kekhawatiran soal Kondisi Kesehatan Mental
Trump Ancam Jadikan Selat Hormuz sebagai Wilayah AS

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 09:15 WIB

Serangan Drone dan Rudal Tewaskan 19 Orang di Rusia-Ukraina

Selasa, 18 Agustus 2026 - 08:38 WIB

Panglima AS Puji USS Lincoln, Kushner Gelar Pertemuan

Selasa, 18 Agustus 2026 - 07:32 WIB

Trump Tuduh Vandal Rusak Rumput National Mall

Selasa, 18 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Erin Patterson Ajukan Banding atas Vonis Kasus Pembunuhan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Gempa 7,7 SR Guncang Indonesia Timur, 20 Orang Tewas

Berita Terbaru

Gelombang drone dan rudal menghantam infrastruktur sipil di Rusia dan Ukraina, menewaskan total 19 orang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Drone dan Rudal Tewaskan 19 Orang di Rusia-Ukraina

Selasa, 18 Agu 2026 - 09:15 WIB

Komandan militer AS di Timur Tengah memuji kepemimpinan awak USS Lincoln, sementara utusan AS Jared Kushner menggelar pertemuan langka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Panglima AS Puji USS Lincoln, Kushner Gelar Pertemuan

Selasa, 18 Agu 2026 - 08:38 WIB