Dunia Gagal Capai Target 2030? China Tawarkan Resep Baru

Kamis, 8 Januari 2026 - 12:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan di ambang pintu. Tiongkok memperkuat narasi unifikasi nasional dengan janji dukungan bagi kelompok pro-Beijing dan ancaman pemusnahan bagi kekuatan militer yang mendukung kemerdekaan Taiwan. Dok: Istimewa.

Ketegangan di ambang pintu. Tiongkok memperkuat narasi unifikasi nasional dengan janji dukungan bagi kelompok pro-Beijing dan ancaman pemusnahan bagi kekuatan militer yang mendukung kemerdekaan Taiwan. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Dunia kini menghadapi badai yang sempurna. Ketegangan geopolitik meningkat, risiko iklim memburuk, dan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) memunculkan kecemasan global. Oleh sebab itu, tekanan-tekanan ini menyingkap “defisit tata kelola global” yang kian menganga, serta menempatkan mekanisme internasional yang ada di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Fakta ini terkonfirmasi oleh laporan PBB yang rilis pada Juli 2025. Sayangnya, laporan tersebut memberikan penilaian yang menyedihkan mengenai Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. Dari 169 target spesifik, hanya sekitar 35 persen yang berada di jalur yang benar. Lebih parah lagi, hampir separuhnya bergerak terlalu lambat, dan 18 persen justru mengalami kemunduran.

Akibatnya, di tengah situasi kritis ini, China mengajukan Inisiatif Tata Kelola Global (GGI) pada September 2025. Beijing menawarkan seperangkat prinsip dan jalan baru untuk mereformasi sistem dunia yang sedang sakit.

Lima Pilar Penyangga Dunia

Secara khusus, inisiatif ini berjangkar pada lima prinsip inti: kesetaraan kedaulatan, kepatuhan pada hukum internasional, multilateralisme, pendekatan yang berpusat pada manusia, dan fokus pada tindakan nyata.

Baca Juga :  Ancaman Sabotase Bawah Laut: Inggris Adang Operasi Rahasia Kapal Selam Rusia

Secara kolektif, prinsip-prinsip ini menguraikan peta jalan praktis untuk mengatasi empat defisit utama era ini: perdamaian, pembangunan, keamanan, dan tata kelola.

Selanjutnya, komunitas internasional merespons dengan cepat. Tercatat, sejak peluncurannya, lebih dari 150 negara dan organisasi internasional menyatakan dukungan. Puncaknya, pada Desember 2025, “Group of Friends of the Global Governance” resmi berdiri di markas PBB, New York, dengan 43 negara bergabung sebagai anggota awal untuk mengoordinasikan reformasi global.

Suara untuk Global South

Terkait hal tersebut, para tokoh internasional menyoroti daya tarik inisiatif ini, terutama bagi negara-negara berkembang. Misalnya, Erik Solheim, mantan Wakil Sekretaris Jenderal PBB, menyebut China sebagai peserta kunci dalam dialog global.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mencatat bahwa prinsip GGI—seperti menghormati kedaulatan nasional dan menolak campur tangan urusan dalam negeri—mendapat pengakuan luas. Faktanya, dukungan datang tidak hanya dari negara besar Global South seperti India, Brazil, Afrika Selatan, dan Indonesia, tetapi juga dari beberapa negara Eropa.

Baca Juga :  Korea Utara Tuduh Tokyo Persiapkan Invasi Ulang

Di sisi lain, Alexander Lomanov dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia menilai inisiatif ini menjawab kebutuhan zaman. Menurutnya, GGI memperkuat otoritas PBB dan memperjuangkan sistem yang lebih melayani kepentingan semua negara, bukan hanya segelintir kekuatan dominan.

Dari Janji ke Aksi Nyata

Akan tetapi, narasi GGI tidak berhenti di atas kertas semata. Sebaliknya, tema yang konsisten muncul dari penilaian internasional adalah fokus China pada penerjemahan prinsip menjadi tindakan nyata.

Contohnya, Mantan Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi, menyoroti peran aktif China dalam memajukan kerja sama melalui kerangka multilateral seperti Shanghai Cooperation Organization (SCO) dan BRICS. Sementara itu, mantan PM Mesir Essam Sharaf memuji langkah konkret Beijing dalam memfasilitasi rekonsiliasi bersejarah antara Arab Saudi dan Iran.

Bahkan, keberhasilan diplomasi Saudi-Iran dan pembentukan Organisasi Internasional untuk Mediasi (IOMed) menjadi bukti nyata. Pada akhirnya, langkah-langkah ini menunjukkan bagaimana mekanisme berbasis dialog yang terlembaga dapat menyelesaikan sengketa dan mempromosikan perdamaian regional secara efektif.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

6 Pelajar Jadi Tersangka Kericuhan May Day Bandung, Polisi Sita Bom Molotov
Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir
Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan
LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar
Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:43 WIB

6 Pelajar Jadi Tersangka Kericuhan May Day Bandung, Polisi Sita Bom Molotov

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:31 WIB

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:33 WIB

Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:18 WIB

LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Berita Terbaru