JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pertanyaan ini telah menghantui para filsuf, psikolog, dan pendidik selama ratusan tahun: Apa yang sebenarnya menentukan masa depan seorang anak? Apakah warisan genetik (nature) atau lingkungan tempat ia tumbuh (nurture)?
Faktanya, hari ini sebagian besar peneliti sepakat bahwa perkembangan anak melibatkan interaksi kompleks antara keduanya. Genetika mungkin memberikan peta jalan awal, tetapi lingkunganlah yang menentukan apakah instruksi tersebut akan terekspresikan, terbentuk, atau justru terbungkam.
Namun, ada misteri besar yang tersisa. Jika lingkungan begitu penting, mengapa saudara kandung yang tumbuh di rumah yang sama, dengan orang tua yang sama, dan sekolah yang sama, sering kali tumbuh menjadi individu yang sangat berbeda?
Aturan 50 Persen
Studi genetika kuantitatif memberikan jawaban statistik yang menarik. Secara umum, pengaruh genetik menyumbang sekitar 40 hingga 50 persen dari pembentukan karakter anak. Mulai dari waktu pubertas hingga temperamen dasar, jejak biologis orang tua tertanam kuat.
Lantas, bagaimana dengan sisanya? Di sinilah kejutan terjadi. Selama hampir satu abad, ilmuwan berfokus pada “lingkungan bersama” (shared environment)—pengalaman yang dialami bersama oleh saudara kandung, seperti status ekonomi keluarga atau lingkungan tetangga.
Ternyata, bukti menunjukkan bahwa pengaruh lingkungan bersama ini kurang dari 10 persen. Artinya, hal-hal yang orang tua terapkan secara seragam kepada semua anak mereka memiliki dampak yang relatif kecil dalam membuat kakak-beradik menjadi mirip satu sama lain.
Mitos Pola Asuh Keluarga
Temuan ini meruntuhkan asumsi lama. Sejak era Sigmund Freud, teori sosialisasi berasumsi bahwa lingkungan terdistribusi berdasarkan basis “keluarga per keluarga”. Akan tetapi, genetika perilaku modern membuktikan sebaliknya: lingkungan bekerja pada basis “anak per anak”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Inilah yang disebut sebagai “lingkungan yang tidak terbagi” (non-shared environment). Variabel ini menyumbang 40 hingga 50 persen sisanya dalam pembentukan anak.
Ini mencakup pengalaman unik yang hanya dialami oleh satu anak, meskipun ia tinggal di rumah yang sama. Misalnya, perlakuan berbeda dari orang tua, kelompok teman sebaya yang berbeda, guru yang berbeda di sekolah, atau bahkan kejadian acak seperti penyakit atau kecelakaan.
Teman Sebaya Lebih Kuat dari Orang Tua?
Riset dalam beberapa tahun terakhir menyoroti bahwa dampak dari orang tua sering kali mudah terinterupsi oleh pengaruh teman sebaya. Selain itu, variasi pengetahuan yang anak dapatkan dari budaya luar semakin meningkat.
Akibatnya, “nurture” atau asuhan bukanlah entitas tunggal. Jika genetika menjelaskan mengapa saudara kandung memiliki kemiripan, maka lingkungan yang tidak terbagilah yang menjelaskan mengapa mereka berbeda.
Peneliti Turkheimer dan Waldron (2000) mencatat bahwa pengaruh lingkungan unik ini mungkin beroperasi secara idiosinkratik atau acak. Oleh karena itu, tantangan sains berikutnya adalah membedah mekanisme misterius ini untuk memahami bagaimana pengalaman personal yang spesifik dapat mencetak individu yang unik, terlepas dari DNA yang mereka bawa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















