KAIRO, POSNEWS.CO.ID – Estimasi menunjukkan lebih dari satu miliar orang menyaksikan Piala Dunia 2014, menjadikannya acara TV terbesar dalam sejarah manusia. Sepak bola bukan lagi sekadar olahraga; ia adalah industri bernilai triliunan dolar yang menembus batas geografis dan ekonomi.
Buktinya nyata. Di Lembah Omo, Ethiopia, penggembala yang memiliki sedikit harta mengenakan kaos Arsenal atau AC Milan. Di Sinai yang terik, remaja menggiring bola buatan sendiri, bermimpi keluar dari kemiskinan dengan menjadi bintang lapangan. Namun, di Mesir, “permainan indah” ini memiliki sisi gelap yang berkelindan dengan politik kekuasaan dan perjuangan kelas.
Meskipun sepak bola umumnya memutar roda ekonomi, kota Kairo justru sering “lumpuh” saat pertandingan besar berlangsung. Warga setempat berkelakar bahwa waktu terbaik untuk berbelanja menyeberangi kota adalah saat laga final antara dua raksasa: Al Ahly dan Zamalek.
Pelarian dari Realitas Pahit
Psikolog mengajukan dua alasan mengapa sepak bola begitu memikat: partisipasi dalam kemenangan dunia yang lebih besar dan rasa memiliki yang kuat. Bagi rakyat Mesir, ini sangat relevan.
Dalam 50 tahun terakhir, populasi Mesir meledak sementara kualitas hidup—kecuali bagi segelintir orang yang beruntung—merosot tajam. Ketidakadilan, korupsi, dan tirani menekan rata-rata warga Mesir. Namun, selama 90 menit sekali atau dua kali seminggu, mereka melupakan kesengsaraan itu dalam pertandingan sepak bola.
Penggemar percaya bahwa di lapangan, setidaknya masih ada aturan main, meskipun wasit tidak selalu adil dan perilaku suporter bisa menjadi fanatik serta berbahaya.
Perang Kelas di Lapangan Hijau
Di Mesir, loyalitas klub bukan sekadar pilihan warna jersi, melainkan pernyataan kelas dan politik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Al Ahly, yang berdiri pada 1907, membanggakan identitasnya sebagai “klub rakyat”. Klub ini memiliki sejarah revolusioner anti-Inggris dan bahkan menjadikan Gamal Abdel Nasser, presiden yang dicintai rakyat, sebagai presiden kehormatan klub.
Sebaliknya, Zamalek (berdiri 1911) secara historis mengizinkan orang asing bermain dan berafiliasi dengan kaum elit Mesir yang bersekutu dengan Raja Fuad dan Farouk. Bahkan, klub ini sempat bernama Farouk pada tahun 1950-an. Perseteruan di lapangan adalah cerminan ketegangan sosial di luar stadion.
Alat Politik dan Tragedi Berdarah
Banyak pihak menuduh Hosni Mubarak, presiden yang berkuasa hingga 2011, menggunakan sepak bola untuk mengalihkan perhatian massa dari kondisi negara yang genting. Ia memanfaatkannya untuk memicu sentimen nasionalis melawan negara lain, seperti Aljazair.
Keluarga Mubarak pun tak ketinggalan. Media sering memotret putra-putranya yang kaya raya saat bersosialisasi dengan bintang sepak bola, sementara pemilik klub menggelontorkan dana untuk kampanye Mubarak. Rumor menyebutkan bahwa bahkan setelah jatuhnya kekuasaan, ia masih mendapat dukungan dari para bintang lapangan dan miliarder di balik klub.
Namun, angin berbalik. Selama revolusi 2011, kelompok suporter fanatik Al Ahly yang dikenal sebagai Ultras mengambil peran aktif dalam demonstrasi di Tahrir Square yang menggulingkan Mubarak.
Harga yang harus mereka bayar sangat mahal. Pada Februari 2012, dalam pertandingan di Port Said, serangan brutal menimpa Ultras. Sebanyak 74 orang tewas dalam kerusuhan tersebut. Ultras mengklaim bahwa gabungan suporter lawan dan aparat keamanan menyerang mereka sebagai “hukuman” atas peran mereka dalam revolusi.
Wajah Baru Sepak Bola Mesir
Kini, sepak bola Mesir membutuhkan peremajaan radikal. Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2014 dan kekerasan yang terus terjadi membuat banyak warga Mesir beralih mendukung tim-tim Eropa.
Kekerasan pertandingan dan pergolakan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya telah menggerus basis dukungan lokal. Namun, setiap penggemar tahu satu hal pasti: ketika kehidupan di Mesir kembali manis, stadion-stadion lokal akan kembali bergemuruh menyambut momen-momen ajaib.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















