KAIRO, POSNEWS.CO.ID – Langkah konkret menuju transisi pemerintahan di Jalur Gaza mulai terlihat. Saluran berita pemerintah Mesir, Al-Qahera News, melaporkan pada hari Kamis (15/1) bahwa seluruh 15 anggota komite teknokrat Palestina yang baru terbentuk telah tiba di Kairo.
Mereka segera memulai serangkaian pertemuan maraton sebagai persiapan akhir sebelum masuk ke wilayah kantong yang hancur tersebut.
Ali Abdel Hamid Shaath, seorang insinyur veteran dan mantan wakil menteri perencanaan di Otoritas Palestina, memimpin komite ini. Kedatangan mereka menyusul pengumuman utusan khusus presiden AS, Steve Witkoff, mengenai awal fase kedua perjanjian gencatan senjata Gaza.
Namun, perjalanan ini tidak mulus. Seorang sumber Mesir mengungkapkan kepada Xinhua bahwa “hambatan Israel” sempat menunda kedatangan mereka selama satu hari.
Dukungan Regional dan Dewan Perdamaian
Mesir, Qatar, dan Turki secara resmi mengumumkan pembentukan komite ini pada hari Rabu. Ketiga negara menggambarkan langkah ini sebagai perkembangan penting untuk meningkatkan stabilitas dan memperbaiki kondisi kemanusiaan yang kritis di Gaza.
Di sisi lain, pengamat memperkirakan Amerika Serikat akan segera mengumumkan pembentukan “Dewan Perdamaian”. Badan ini nantinya akan mengawasi pelaksanaan perjanjian gencatan senjata dan mendukung upaya rekonstruksi raksasa di Gaza.
Pengumuman ini menyusul pertemuan faksi-faksi Palestina di Kairo yang menegaskan kembali komitmen terhadap gencatan senjata. Mereka juga menyerukan agar Israel menghentikan agresinya dan membuka penyeberangan perbatasan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Realitas Berdarah di Lapangan
Meskipun diplomasi berjalan di Kairo, realitas di Gaza tetap suram. Mesir, Qatar, Turki, dan AS menengahi gencatan senjata yang rapuh ini, yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Namun, bentrokan di lapangan masih terus terjadi.
Otoritas kesehatan Gaza melaporkan pada hari Kamis bahwa konflik telah menewaskan setidaknya 451 orang dan melukai 1.251 lainnya sejak gencatan senjata resmi bermula.
Insiden terbaru terjadi di “Garis Kuning” (Yellow Line). Militer Israel menyatakan telah membunuh seorang militan Palestina di Gaza selatan yang melintasi garis tersebut dan mendekati tentara dengan cara yang mereka anggap sebagai “ancaman nyata”.
Sebaliknya, pejabat Palestina melaporkan kematian warga sipil akibat tembakan dan serangan udara Israel. Salah satu korban adalah seorang gadis muda yang tewas pada Kamis malam ketika serangan udara Israel menghantam dua rumah tinggal di Deir al-Balah.
Bahaya “Garis Kuning”
“Garis Kuning” telah menjadi titik konflik yang mematikan. Israel mendeskripsikannya sebagai penyangga keamanan untuk melindungi pasukan yang ditempatkan. Namun, warga Palestina dan kelompok hak asasi manusia membantahnya. Mereka mengatakan bahwa tentara sering kali menembak warga sipil saat mencoba mengakses rumah atau lahan pertanian mereka karena kurangnya penanda fisik yang jelas.
Secara keseluruhan, otoritas kesehatan Gaza mencatat bahwa jumlah korban tewas dari serangan Israel telah mencapai angka mengerikan: 71.441 jiwa, dengan 171.329 orang terluka sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















