Sejarah Cinta Benci Warga London pada Kereta Bawah Tanah

Rabu, 21 Januari 2026 - 07:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dulu dianggap

Ilustrasi, Dulu dianggap "penghinaan terhadap akal sehat", kini menjadi nadi kehidupan ibu kota Inggris. Inilah kisah 150 tahun The Tube, dari lokomotif uap yang menyesakkan hingga era digital Oyster Card. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Bagi warga London, sistem kereta bawah tanah mereka adalah hubungan cinta dan benci yang abadi. Mereka sering menyebutnya sebagai “bentuk penyiksaan ringan”, “tabung dua sen”, atau bahkan sistem “sel berbalut empuk”.

Namun, fakta berbicara lain. Sistem sepanjang 400 kilometer ini melayani lebih dari 1,3 miliar orang per tahun. Ia telah bertahan dari kebakaran, banjir, serangan teroris, hingga dua perang dunia. London Underground, atau “The Tube”, telah beroperasi selama lebih dari 150 tahun dan menjadi tulang punggung budaya Inggris.

Tapi, bagaimana ide gila membuat kereta di bawah tanah ini bermula?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ide Gila di Era Victoria

Pada awal abad ke-19, gagasan tentang jaringan kereta api rumit di bawah kota yang padat bukanlah sebuah inovasi, melainkan keputusasaan.

Jalanan London di era Victoria macet parah. Situasi makin runyam karena Komisi Kerajaan 1846 melarang perusahaan kereta api membangun stasiun di pusat kota. Semua jalur utama harus berhenti di pinggiran kota.

Kebutuhan untuk menghubungkan stasiun Paddington, Euston, dan King’s Cross menjadi mendesak. Charles Pearson, seorang visioner, mengajukan rencana terowongan rel Fleet Valley. Saat itu, The Times menyebut ide tersebut sebagai “penghinaan terhadap akal sehat”. Namun, Pearson tidak mundur.

Baca Juga :  Trump Ancam Tarif 50% bagi Negara Pemasok Senjata ke Iran

“Napas Buaya” dan Jenggot Masinis

Sejarah pun terukir pada tahun 1863. Metropolitan Railway resmi beroperasi, menghubungkan Paddington dan Farringdon. Lima tahun kemudian, jalur Metropolitan District Railway menyusul. Pihak swasta mendanai seluruh proyek awal yang kini kita kenal sebagai Zona 1 ini.

Namun, kondisi awal jauh dari nyaman. Penumpang hari ini mungkin mengeluhkan panasnya The Tube di musim panas, tetapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan penumpang pertama.

Bau di dalam terowongan begitu busuk. Seorang pegawai negeri sipil zaman itu menggambarkannya setara dengan “napas buaya”. Saking parahnya asap lokomotif uap yang mengepul di bawah tanah, perusahaan mengizinkan masinis memelihara jenggot lebat. Mereka berharap rambut wajah itu bisa berfungsi sebagai filter udara alami untuk melindungi paru-paru dari asap.

Meskipun bau dan pengap, jalur ini sukses besar. Lebih dari 11 juta penumpang memadatinya hanya pada tahun pertama.

Revolusi Listrik dan Peta Ikonik

Perubahan besar kedua datang pada akhir abad ke-19 dengan penemuan traksi listrik. Kereta tidak lagi membutuhkan terowongan dangkal untuk membuang asap uap. Insinyur kini bisa menggali jauh lebih dalam ke perut bumi.

Baca Juga :  Jepang Pamerkan Rudal Jarak Jauh Tipe 12 Jelang Penempatan di Kumamoto

Pada Desember 1890, jalur kereta listrik tingkat dalam pertama, City and South London Railway, resmi dibuka.

Sistem kepemilikan juga berubah. Awalnya, berbagai perusahaan swasta memiliki jalur yang berbeda-beda. Pada 1933, pemerintah menasionalisasi dan menggabungkan mereka di bawah Dewan Transportasi Penumpang London.

Tahun 1933 juga menjadi tahun bersejarah bagi desain. Harry Beck mempresentasikan diagram pertama peta Underground yang ikonik, yang desainnya masih menjadi standar peta transportasi dunia hingga hari ini.

Abad ke-21 membawa gelombang perubahan baru. Tahun 2003 menandai lahirnya kartu Oyster, kartu perjalanan nirkabel yang revolusioner. Pada tahun yang sama, otoritas melegalkan pengamen (busking) di stasiun.

Puncaknya terjadi pada 2016, ketika proyek raksasa jalur Crossrail baru bernama Elizabeth Line diumumkan, yang akhirnya dibuka untuk publik beberapa tahun kemudian.

Mungkin kritikus benar: The Tube terlalu sibuk, terlalu panas, terlalu mahal, dan terlalu kotor. Namun, tanpa “napas buaya” dan terowongan gelap ini, London tidak akan pernah menjadi pusat keuangan dan kuali peleburan budaya seperti sekarang. Ini adalah pencapaian luar biasa yang, terlepas dari segala kekurangannya, layak untuk dirayakan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen
Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran
Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar
Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran
Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal
Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer
Hamas Sepakati Peta Jalan Pelucutan Senjata di Gaza
Hakim Hukum Robert Bush 20 Tahun Penjara Akibat Penipuan

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:18 WIB

Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 09:30 WIB

Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal

Berita Terbaru

Krisis imigrasi terbesar Afrika-Eropa. Spanyol berhasil memulangkan puluhan ribu migran dari Ceuta di tengah ketegangan diplomatik Uni Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agu 2026 - 08:00 WIB

Pembelaan aturan digital anak. Pemerintah Australia mempertahankan kebijakan larangan media sosial anak di bawah 16 tahun meskipun delapan dari ten remaja masih aktif menggunakannya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran

Minggu, 2 Agu 2026 - 07:00 WIB