WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, kini berada di persimpangan diplomatik yang pelik. Kementerian Luar Negeri Jepang mengonfirmasi pada hari Selasa (21/1) bahwa Takaichi telah menerima undangan langsung dari Presiden AS Donald Trump.
Secara spesifik, tawaran tersebut meminta Jepang bergabung dengan badan internasional baru usulan Trump. Badan ini bertujuan mengawasi rekonstruksi Jalur Gaza yang hancur akibat perang.
Menanggapi hal itu, seorang pejabat kementerian menyatakan bahwa Takaichi sedang mempertimbangkan tawaran tersebut dengan serius. Ia tengah menimbang apakah akan mengambil bagian dalam apa yang Trump sebut sebagai “Dewan Perdamaian” (Board of Peace).
Namun, langkah ini bukan tanpa risiko. Pasalnya, badan tersebut telah memicu kontroversi global. Sejumlah pihak khawatir peran dewan ini dapat meluas ke konflik lain. Lebih jauh lagi, mereka cemas badan ini pada akhirnya akan menjadi alternatif tandingan bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ambisi Global Trump dan Pertemuan Davos
Sebelumnya, pada pekan lalu, Trump mengumumkan pembentukan dewan ini sebagai bagian dari fase kedua rencana 20 poin pimpinan AS untuk Gaza. Trump menunjuk dirinya sendiri sebagai ketua dewan.
Jangkauan undangannya terbilang masif. Media Israel melaporkan bahwa Trump telah mengirimkan undangan ke lebih dari 60 negara—termasuk Israel, Rusia, negara-negara Eropa, dan Arab—hingga hari Selasa.
Sebagai contoh, para pemimpin dunia seperti Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Rusia Vladimir Putin termasuk dalam daftar tamu VIP. Spekulasi pun berkembang bahwa pertemuan perdana dewan ini mungkin akan berlangsung di sela-sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pekan ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun demikian, tidak semua pemimpin menyambutnya dengan hangat. Ajudan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengisyaratkan bahwa bosnya “tidak mungkin berpartisipasi” pada tahap ini.
Sementara itu, China mengambil sikap hati-hati. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menolak berkomentar mengenai partisipasi Beijing. Ia hanya mengonfirmasi singkat dalam konferensi pers bahwa negaranya “telah menerima undangan Amerika Serikat.”
Aturan Main: “Tiket Emas” $1 Miliar
Selanjutnya, detail piagam dewan yang bocor mengungkapkan struktur kekuasaan yang sangat terpusat. Dokumen tersebut menyatakan bahwa Trump harus menyetujui segala keputusan. Selain itu, ketua memiliki wewenang mutlak untuk memilih negara yang diundang.
Mengenai durasi keanggotaan, piagam membatasi masa jabatan negara anggota selama tiga tahun atau kurang. Namun, ketua dapat memperbaruinya sewaktu-waktu.
Terakhir, poin yang paling menarik perhatian adalah klausul “tiket emas”. Piagam tersebut menetapkan penghapusan batasan masa jabatan bagi negara anggota yang berkontribusi lebih dari $1 miliar (sekitar Rp 15,7 triliun) ke kas dewan. Akibatnya, klausul ini memicu perdebatan sengit mengenai komersialisasi diplomasi perdamaian di bawah kepemimpinan Trump.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















