TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terbesar di dunia berdasarkan kapasitas potensial akhirnya beroperasi kembali. Pada hari Rabu (22/1), operator Jepang menyalakan reaktor di kompleks Kashiwazaki-Kariwa. Ini adalah momen pertama sejak bencana Fukushima 2011 memaksa industri tersebut tutup secara massal.
Juru bicara Tokyo Electric Power Company (TEPCO), Tatsuya Matoba, memberikan konfirmasi kepada AFP. Ia menyatakan bahwa pabrik di Prefektur Niigata itu “mulai beroperasi pada pukul 19.02.” Gubernur regional telah memberikan lampu hijau bulan lalu. Namun, langkah ini tetap membelah opini publik secara tajam.
Protes di Tengah Salju
Warga tidak menyambut langkah ini dengan pesta pora. Sebaliknya, mereka menggelar demonstrasi di tengah cuaca beku. Pada hari Selasa, puluhan pengunjuk rasa menerjang salju di dekat pintu masuk pabrik. Mayoritas dari mereka adalah warga lansia.
Yumiko Abe (73), seorang warga lokal, menyuarakan ketidakadilan yang penduduk rasakan. “Kashiwazaki memproduksi listrik untuk Tokyo. Jadi mengapa orang-orang di sini harus menanggung risiko? Itu tidak masuk akal,” tegasnya.
Survei bulan September menunjukkan resistensi kuat. Sekitar 60 persen warga menolak pengaktifan kembali. Sementara itu, hanya 37 persen yang mendukung.
Ambisi Energi AI dan Netralitas Karbon
Namun, kebangkitan nuklir adalah strategi vital bagi pemerintah Jepang yang miskin sumber daya alam. Perdana Menteri Sanae Takaichi telah menyuarakan dukungan penuh untuk sumber energi ini.
Pemerintah memiliki tiga tujuan utama. Pertama, mengurangi ketergantungan masif pada bahan bakar fosil impor. Kedua, mencapai netralitas karbon pada tahun 2050. Ketiga, memenuhi lonjakan kebutuhan energi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jepang saat ini adalah emiten karbon dioksida terbesar kelima di dunia. Batu bara, gas, dan minyak menyumbang hampir 70 persen listriknya pada 2023. Tokyo ingin memangkas angka ini menjadi 30-40 persen dalam 15 tahun ke depan. Mereka menargetkan nuklir menyumbang seperlima pasokan energi nasional pada 2040.
Tembok Tsunami 15 Meter dan Ketakutan Gempa
Kashiwazaki-Kariwa adalah unit pertama yang TEPCO jalankan sejak bencana 2011. Perusahaan ini juga mengoperasikan pabrik Fukushima Daiichi yang hancur lebur. Kini, pabrik itu sedang dalam proses penonaktifan yang memakan waktu puluhan tahun.
TEPCO melengkapi kompleks luas ini dengan tembok tsunami setinggi 15 meter demi meyakinkan publik. Mereka juga memasang sistem tenaga darurat yang ditinggikan dan berbagai peningkatan keselamatan lainnya.
Tetapi, warga tetap skeptis. Hampir 40.000 orang menandatangani petisi yang menyoroti risiko lokasi pabrik. Pabrik tersebut berdiri di atas zona patahan seismik aktif. Gempa kuat bahkan pernah menghantamnya pada 2007.
“Kami tidak bisa menghilangkan rasa takut gempa bumi lain akan menghantam kami secara tak terduga,” bunyi petisi tersebut. Warga seperti Chie Takakuwa (79) bahkan menilai evakuasi darurat sebagai hal yang “mustahil”.
TEPCO sendiri berjanji akan memverifikasi integritas fasilitas dengan hati-hati. Presiden TEPCO Tomoaki Kobayakawa menekankan, “Operator yang terlibat dalam tenaga nuklir tidak boleh sombong atau terlalu percaya diri.”
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















