TEHERAN/LONDON, POSNEWS.CO.ID – Pada Kamis, 8 Januari, ponsel Dr. Ahmadi (nama samaran) mulai bergetar di sebuah kota menengah di Iran. Pesan-pesan panik masuk dari rekan-rekannya di unit gawat darurat.
Awalnya, polisi menghadapi demonstran dengan pentungan dan senapan pelet. Luka-lukanya masih bisa tertangani. Namun, situasi berubah drastis dalam semalam.
Keesokan harinya, gelombang pasien datang dengan luka tembak jarak dekat dan tusukan parah. Targetnya spesifik dan brutal: dada, mata, dan alat kelamin. Akibatnya, banyak korban yang tidak selamat.
Di tengah pemadaman internet total yang rezim terapkan, Ahmadi menyadari bahwa tidak ada yang tahu gambaran nasional yang sebenarnya. Oleh karena itu, ia mengambil risiko besar dengan membentuk jaringan rahasia berisi lebih dari 80 profesional medis di 12 provinsi.
Data yang mereka kumpulkan menyingkap sebuah horor yang tak terbayangkan: skala kekerasan negara ini jauh melampaui apa yang dunia ketahui.
Estimasi Mengerikan: 30.000 Nyawa Melayang
Selanjutnya, Ahmadi dan rekan-rekannya sepakat pada satu kesimpulan: angka kematian resmi adalah “peremehan yang parah”.
Setelah membandingkan data lapangan dengan baseline rumah sakit, mereka memperkirakan jumlah korban tewas bisa melebihi 30.000 orang. Angka ini jauh di atas klaim pemerintah (3.000) atau bahkan estimasi kelompok hak asasi manusia HRANA (22.000).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kematian yang terdaftar secara resmi kemungkinan mewakili kurang dari 10% dari jumlah kematian yang sebenarnya,” simpul jaringan dokter tersebut.
Seorang dokter di Teheran menggambarkan trauma yang ia alami kepada The Guardian: “Saya berada di ambang kehancuran psikologis. Mereka telah melakukan pembunuhan massal terhadap orang-orang. Tidak ada yang bisa membayangkan… Saya hanya melihat darah, darah, dan darah.”
Truk Es Krim dan Kuburan Massal
Sementara itu, aparat melakukan upaya penyembunyian mayat secara sistematis dan mengerikan. Kesaksian dari staf kamar mayat dan penggali kubur mengungkap kekacauan logistik akibat banyaknya jenazah.
Di satu kamar mayat, staf menghadapi beberapa truk yang penuh sesak dengan mayat. Jumlah tersebut jauh melebihi kapasitas pendingin. Ketika pekerja mencoba melacak ke mana mayat-mayat itu pergi setelah penolakan, mereka menemukan bahwa jenazah-jenazah itu lenyap. Jejaknya mengarah pada satu dugaan kuat: dafn-e dast-e jam’i atau penguburan massal.
Saksi mata di pemakaman Behesht-e Sakineh, Karaj, memberikan laporan yang senada.
“Pada 10 dan 11 Januari, mereka membawa ratusan mayat yang dikatakan tidak diklaim dan tidak teridentifikasi,” ungkap Reza, seorang saksi mata.
Petugas mengangkut jenazah-jenazah ini menggunakan truk pikap kecil, truk daging, bahkan mobil van es krim untuk menghindari kecurigaan. Reza menggambarkan pemandangan horor di mana mayat-mayat tersebut “saling menempel begitu erat hingga butuh tenaga untuk memisahkannya,” dengan darah yang masih segar.
Bahkan, staf pemakaman mengaku menerima perintah untuk mengubur mayat-mayat ini di lubang massal. “Saya takut melakukannya… orang-orang pada akhirnya akan datang mencari anggota keluarga mereka yang hilang,” ujar seorang staf yang ketakutan.
Eksekusi di Ranjang Rumah Sakit
Lebih jauh lagi, kekejaman tidak berhenti di jalanan. Laporan medis mengungkap indikasi kuat eksekusi di luar hukum yang terjadi di fasilitas kesehatan.
Petugas medis di dua kota berbeda menerima mayat dengan luka tembak jarak dekat di kepala. Yang mengejutkan, kateter, selang nasogastrik, atau selang endotrakeal masih menempel pada mayat-mayat ini.
“Ini sangat mencurigakan,” kata Dr. Ahmadi. “Biasanya, perawat melepas instrumen medis setelah kematian. Keberadaan alat-alat ini menunjukkan bahwa individu-individu ini meninggal saat masih dalam perawatan medis aktif.”
Analisis foto jenazah yang mengenakan baju rumah sakit dengan kateter terpasang dan lubang peluru di dahi menguatkan dugaan bahwa aparat menembak mati pasien yang sedang dirawat.
Menghapus Memori
Akhirnya, Dr. Ahmadi menyimpulkan bahwa semua ini bukan sekadar tindakan keras acak. Sebaliknya, ini adalah operasi terencana.
Mekanismenya mencakup menakut-nakuti pasien agar tidak ke rumah sakit, menghilangkan jenazah dari jalur forensik standar, dan membatasi kemampuan staf medis mencatat penyebab kematian.
“Mereka membentuk sistem yang mereka rancang bukan hanya untuk menekan protes,” pungkas Ahmadi, “tetapi untuk menekan ingatan.”
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















