Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Australia pernah menjadi

Ilustrasi, Australia pernah menjadi "Jurassic Park" versi mamalia. Namun, 46.000 tahun lalu, semua raksasa itu lenyap. Apakah iklim yang membunuh mereka, atau kedatangan manusia dengan tombak kayu? Dok: Unsplash/Ondrej Machart.

SYDNEY, POSNEWS.CO.ID – Mundurlah ke masa 15 juta tahun yang lalu di benua Australia. Anda tidak akan menemukan koala lucu yang bisa dipeluk. Sebaliknya, Anda mungkin berhadapan dengan Diprotodon, marsupial raksasa seberat 2.700 kg, atau harus mendongak untuk menatap mata seekor kanguru setinggi tiga meter.

Ini adalah era Megafauna Australia. Setidaknya 55 spesies raksasa pernah merajai daratan ini, mulai dari ular raksasa, buaya purba, hingga wombat seberat 200 kg.

Namun, sekitar 46.000 tahun yang lalu, keheningan melanda. Secara tiba-tiba dalam skala geologis, semua raksasa ini lenyap dari muka bumi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa penyebabnya? Misteri ini telah membelah komunitas ilmiah menjadi dua kubu: mereka yang menyalahkan alam, dan mereka yang menunjuk hidung manusia.

Kedatangan Manusia: Kebetulan atau Penyebab?

Catatan arkeologi menunjukkan manusia mencapai Australia melalui Indonesia pada akhir Pleistosen. Pemukiman mereka meluas sekitar 45.000 tahun yang lalu—waktu yang sangat berdekatan dengan tanggal kepunahan megafauna yang dikonfirmasi oleh teknik penanggalan Optically Stimulated Luminescence (OSL).

Baca Juga :  Saat Miliarder dan Wisatawan Gantikan Astronaut Pemerintah

Namun, bukti fisik pembantaian sangat minim. Berbeda dengan Selandia Baru, di mana situs pembantaian burung raksasa Moa melimpah ruah, di Australia hampir tidak ada tulang megafauna yang menunjukkan bekas luka potong atau bakar.

“Senjata Aborigin saat itu hanya tombak kayu dan pentungan,” catat para skeptis. Bagaimana mungkin teknologi sederhana itu menumbangkan hewan sekuat gajah?

Alibi Iklim yang Lemah

Teori alternatif populer adalah perubahan iklim. Mungkin ada periode panas dan kering ekstrem?

Riset terbaru justru membantahnya. Pada 40.000-60.000 tahun lalu, iklim Australia tergolong moderat. Danau Eyre di Australia tengah bahkan membesar. Jika terjadi penggurunan, seharusnya fosil hewan ditemukan menumpuk di pesisir saat mereka mencari air. Kenyataannya, sebaran fosil merata di pedalaman dan pantai.

Faktanya, perubahan vegetasi justru terjadi setelah kepunahan. Tanaman yang bergantung pada hewan besar untuk menyebarkan biji mati karena mitra mereka telah tiada, bukan sebaliknya.

Baca Juga :  Psikologi Video Game: Otak Kita Mencintai Tantangan Virtual?

Teori Pembunuh Lambat: 30 Ekor per Tahun

Jika bukan perang terbuka dan bukan iklim, lalu apa? Jawabannya mungkin terletak pada matematika yang dingin.

Arkeolog Johnson mengajukan hipotesis yang mengerikan dalam kesederhanaannya. Menggunakan model komputer, ia menunjukkan bahwa manusia tidak perlu melakukan pembantaian massal untuk memusnahkan spesies.

Jika populasi 1.000 hewan raksasa diburu hanya sebanyak 30 ekor per tahun, spesies tersebut akan punah dalam waktu 520 hingga 700 tahun.

Mengingat megafauna (seperti albatros modern) berkembang biak lambat dan jarang, tekanan kecil namun konstan dari populasi manusia yang tumbuh perlahan sudah cukup untuk mendorong mereka ke jurang kepunahan. Fenomena “pengerdilan” (dwarfing) juga terjadi, di mana spesies yang lebih kecil, lebih cepat, dan lebih cepat bereproduksi berhasil bertahan hidup—menjelaskan mengapa kanguru modern jauh lebih kecil dari nenek moyangnya.

Mungkin, Aborigin tidak “berperang” melawan megafauna. Mereka hanya hidup berdampingan, namun koeksistensi itu sendiri, secara perlahan dan pasti, menjadi lonceng kematian bagi para raksasa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal
Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot
Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen
Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran
Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar
Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran
Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal
Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:18 WIB

Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar

Berita Terbaru

Peta baru industri hiburan interaktif. Krisis memori RAM global, kebijakan tarif impor, serta inflasi mengakhiri era konsol gaming murah 500 dolar AS secara permanen. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Krisis Memori dan Tarif Global Dorong Harga Gawai Gaming

Minggu, 2 Agu 2026 - 12:00 WIB

Lini tayangan terlengkap bulan Agustus. Disney+ menyajikan konten bervariasi mulai dari Pokemon, tayangan spin-off Star Wars, hingga siaran langsung e-sports. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Disney+ Merilis Lini Konten Agustus 2026 Mulai Pokemon

Minggu, 2 Agu 2026 - 11:00 WIB

Siasat baru pertahanan udara Ukraina. Zelenskyy mendesak Trump memediasi izin penggunaan jaringan Starlink untuk menggempur target di dalam wilayah Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agu 2026 - 10:00 WIB