Menaklukkan Polio: Sejarah Panjang Dari Paru-Paru Besi

Rabu, 25 Februari 2026 - 08:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Langkah kaki menuju kebebasan. Polio pernah menjadi teror musim panas yang melumpuhkan ribuan anak, namun melalui revolusi sains dan kampanye global, dunia kini berada di ambang sejarah pemusnahan virus secara total. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Langkah kaki menuju kebebasan. Polio pernah menjadi teror musim panas yang melumpuhkan ribuan anak, namun melalui revolusi sains dan kampanye global, dunia kini berada di ambang sejarah pemusnahan virus secara total. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Poliovirus merupakan organisme yang sangat kecil namun memiliki dampak yang sangat menghancurkan. Virus ini biasanya menyebar melalui kontak tangan yang kotor dan sebagian besar kasusnya terbatas pada saluran pencernaan.

Namun demikian, dalam sekitar satu persen kasus, virus ini membanjiri aliran darah dan menyerang sel saraf di sumsum tulang belakang. Kondisi ini memicu kelumpuhan khas yang menyerang anggota gerak atau otot pernapasan. Oleh karena itu, pada masa lalu, pasien sering membutuhkan alat pernapasan buatan yang legendaris, yakni “Paru-Paru Besi” (Iron Lung), untuk tetap bertahan hidup.

Teror Musim Panas dan Paru-Paru Besi

Pola penyebaran polio berubah secara drastis pada akhir abad ke-19 menjadi epidemi yang meledak setiap musim panas. Wabah besar pertama terjadi di Pantai Timur AS pada tahun 1916, yang menyebabkan 25.000 kasus kelumpuhan dan 6.000 kematian.

Akibatnya, kepanikan meluas di seluruh Amerika. Warga kaya berbondong-bondong meninggalkan kota setiap musim polio tiba. Krisis ini memicu lahirnya organisasi March of Dimes oleh Presiden Franklin D. Roosevelt, yang juga merupakan penyintas polio. Organisasi ini mengumpulkan dana besar untuk mendukung keluarga korban dan mendanai riset vaksin. Sebelum para peneliti menemukan vaksin, pasien harus menghadapi pengobatan yang berbahaya, mulai dari penyulutan punggung dengan besi panas hingga penggunaan “Paru-Paru Besi” yang memiliki tingkat kematian 70 persen akibat infeksi dada.

Baca Juga :  Candu Batubara dan Janji Mahal Teknologi Penangkapan Karbon

Rivalitas Salk vs Sabin: Perang Dua Strategi

Dunia sains mencatat persaingan sengit antara dua strategi vaksin untuk menghentikan polio:

  1. Jonas Salk (IPV): Menggunakan virus yang peneliti “bunuh” dengan formalin agar virus tidak lagi mampu bereplikasi. Petugas medis menyuntikkan vaksin ini ke otot dan memicu antibodi di dalam darah. Uji klinis massal pada 1954 yang melibatkan 1,8 juta anak mengukuhkan Salk sebagai pahlawan internasional.
  2. Albert Sabin (OPV): Menggunakan virus hidup yang telah mengalami mutasi di laboratorium agar tidak bisa menyerang saraf. Anak-anak menerima vaksin ini melalui mulut (oral) dan membangun kekebalan langsung di dinding usus, serupa dengan cara kerja virus alami.

Selanjutnya, vaksin Sabin akhirnya menggantikan vaksin Salk di banyak negara karena harganya yang lebih murah, lebih efektif, dan petugas lebih mudah mendistribusikannya secara massal. Meskipun memiliki risiko sangat rendah untuk bermutasi kembali menjadi varian yang melumpuhkan (1 berbanding 500.000), OPV tetap menjadi senjata utama dalam kampanye eradikasi global.

Baca Juga :  10 Tips Merawat Mobil Listrik agar Awet dan Tetap Bertenaga

Ambang Eradikasi: Diplomasi Sebagai Penentu

Pada tahun 1988, berbagai organisasi meluncurkan kampanye vaksinasi global dengan ambisi meniru keberhasilan pemusnahan cacar (smallpox). Hasilnya sangat mengesankan; jumlah kasus lumpuh turun drastis dari 300.000 menjadi hanya 200 kasus tahun lalu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun begitu, polio masih bertahan di tiga wilayah utama: Afghanistan, Pakistan, dan Nigeria Utara. Pasalnya, hambatan terbesar saat ini bukan lagi soal medis, melainkan ideologi anti-Barat. Para petugas vaksin sering menghadapi intimidasi, ancaman pembunuhan, bahkan pembunuhan secara nyata. Alhasil, pergerakan pengungsi memicu kemunculan kembali virus ini di negara-negara yang sebelumnya sudah bebas polio, seperti Suriah dan Lebanon.

Pada akhirnya, sains telah memberikan alat yang cukup untuk menghapus polio dari muka bumi. Namun, keberhasilan akhir pemusnahan virus ini tidak lagi hanya bergantung pada kedokteran, melainkan pada kemampuan diplomasi internasional untuk menjamin keamanan petugas di lapangan. Dunia kini menanti apakah kemauan politik global mampu menuntaskan bab terakhir dari sejarah penyakit yang melumpuhkan ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jakarta Dilanda Cuaca Panas, Dinkes Ungkap Risiko Kesehatan yang Mengintai
Prabowo Perintahkan Polri Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Arus Mudik 2026: 459 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta, 3,2 Juta Masih Tertahan
Cuaca Indonesia Minggu 15 Maret 2026, Jakarta hingga Surabaya Berawan dan Hujan
Diplomasi Rel dan Jembatan: Korea Utara Buka Kembali Jalur Logistik dengan China dan Rusia
Bupati Syamsul Auliya Rachman Jadi Tersangka, KPK Bongkar Setoran THR Rp610 Juta
Revolusi Jalur Langit: Jepang Bangun Tol Drone 40.000 Km di Atas Kabel Listrik
Mudik Lebaran 2026, Kapolda Metro Jaya Pastikan 1.647 Titik Pengamanan Siap

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 12:26 WIB

Jakarta Dilanda Cuaca Panas, Dinkes Ungkap Risiko Kesehatan yang Mengintai

Minggu, 15 Maret 2026 - 12:04 WIB

Prabowo Perintahkan Polri Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

Minggu, 15 Maret 2026 - 05:55 WIB

Arus Mudik 2026: 459 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta, 3,2 Juta Masih Tertahan

Minggu, 15 Maret 2026 - 05:09 WIB

Cuaca Indonesia Minggu 15 Maret 2026, Jakarta hingga Surabaya Berawan dan Hujan

Sabtu, 14 Maret 2026 - 20:13 WIB

Diplomasi Rel dan Jembatan: Korea Utara Buka Kembali Jalur Logistik dengan China dan Rusia

Berita Terbaru