VIRGINIA, POSNEWS.CO.ID – Bagi rakyat Amerika, Thomas Jefferson adalah raksasa sejarah. Ia adalah penulis utama Deklarasi Kemerdekaan, Presiden ketiga Amerika Serikat, dan sosok yang melipatgandakan luas negara melalui Pembelian Louisiana.
Namun, jika Anda membalik koin 5 sen (nickel) di saku Anda, Anda akan melihat sisi lain dari sang negarawan: sebuah bangunan berkubah dengan empat pilar.
Itu adalah Monticello. Bukan sekadar rumah, bangunan 33 kamar ini adalah manifestasi fisik dari kejeniusan, cita rasa seni, dan semangat ilmiah Jefferson.
Dibangun di atas gunung di Shadwell, Virginia, Monticello memakan waktu lebih dari 40 tahun untuk rampung. Jefferson tidak hanya mendesainnya; ia menumpahkan jiwanya di sana.
Kiblat ke Italia: Gaya Palladio
Jefferson sangat mengidolakan Andrea Palladio, arsitek Italia abad ke-16. Ia mengadopsi prinsip Palladio bahwa posisi bangunan adalah segalanya. Oleh karena itu, Jefferson membangun Monticello di puncak gunung dengan pemandangan yang menakjubkan.
Simetri adalah kunci. Monticello membanggakan pintu masuk berkolom dan ruang tengah dengan kubah yang megah. Jefferson percaya bahwa jika Amerika ingin menjadi bangsa yang kuat, ia harus mengambil yang terbaik dari masa lalu Eropa sambil menciptakan gayanya sendiri.
Namun, pembangunan rumah ini tidak berjalan mulus. Ide-idenya berubah drastis setelah ia bertugas selama lima tahun di Prancis sebagai perwakilan dagang AS.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekembalinya pada 1796, Jefferson menghancurkan lantai atas rumah lamanya dan merombak total strukturnya selama sebelas tahun. Batu bata diproduksi oleh budak-budaknya (ia memiliki sekitar 200 budak), kayu diambil dari lahannya sendiri, sementara kaca jendela dan furnitur mewah diimpor langsung dari Eropa.
Rumah Sang Penemu
Di balik kemegahan klasik, Monticello adalah rumah pintar (smart home) abad ke-19. Jefferson adalah seorang penemu yang produktif.
Karena musim panas Virginia bisa sangat menyengat, ia merancang kipas angin dan tirai khusus. Ia bahkan menyimpan balok es di ruang bawah tanah sepanjang tahun—sebuah kemewahan langka pada masa itu.
Inovasinya melampaui kenyamanan termal. Jefferson merancang meja yang bisa berputar dengan mudah, pintu yang terbuka secara otomatis, hingga skylight untuk pencahayaan alami.
Yang paling mengesankan adalah sistem katrol (dumbwaiter) antar-lantai yang ia gunakan untuk mengerek makanan, sebuah bukti efisiensi yang mendahului zamannya.
Warisan Intelektual
Di luar batu bata dan semen, Jefferson meninggalkan jejak intelektual yang abadi. Perpustakaan pribadinya yang raksasa ia sumbangkan kepada negara dan kini menjadi fondasi Library of Congress, salah satu perpustakaan paling terkemuka di dunia.
Di masa pensiunnya, ia mendirikan Universitas Virginia, merancang gedung-gedungnya, dan menyusun kurikulumnya. Ia menjadi rektor pertamanya, memastikan bahwa semangat pencerahan terus hidup.
Thomas Jefferson wafat pada 4 Juli 1826, tepat pada peringatan 50 tahun Deklarasi Kemerdekaan yang ia tulis. Ia pergi sebagai negarawan, filsuf, pendidik, dan arsitek. Monticello kini berdiri tegak sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, monumen abadi bagi seorang pria yang optimis, berpandangan jauh ke depan, dan sangat kreatif.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















