Pakistan Tawarkan Diri Jadi Tuan Rumah Perundingan AS-Iran di Tengah Eskalasi Total

Selasa, 31 Maret 2026 - 17:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Upaya terakhir meredam api. Pakistan secara resmi menawarkan diri untuk memfasilitasi

Ilustrasi, Upaya terakhir meredam api. Pakistan secara resmi menawarkan diri untuk memfasilitasi "perundingan bermakna" antara Amerika Serikat dan Iran guna mengakhiri blokade energi dan menghindari perang darat yang kian nyata di tahun 2026. Dok: Istimewa.

ISLAMABAD, POSNEWS.CO.ID – Pakistan kini mengambil peran sentral dalam upaya diplomatik guna mengakhiri krisis besar di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Ishaq Dar mengumumkan bahwa Islamabad siap memfasilitasi “perundingan bermakna” antara Washington dan Teheran dalam beberapa hari mendatang.

Dalam konteks ini, Pakistan berupaya mencari jalan keluar permanen bagi perang yang telah melumpuhkan ekonomi global. “Pakistan merasa terhormat untuk memfasilitasi penyelesaian yang langgeng bagi konflik yang sedang berlangsung ini,” tegas Dar setelah bertemu dengan para menlu regional.

Kebuntuan Diplomasi: Syarat Menyerah vs Perlawanan

Meskipun Pakistan menawarkan diri sebagai mediator, posisi Amerika Serikat dan Iran tampak semakin mengeras. Oleh karena itu, pencapaian kesepakatan damai menjadi sangat sulit karena tuntutan maksimalis dari kedua belah pihak.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, secara tegas menolak pesan negosiasi Amerika Serikat yang dianggap sebagai jebakan. Bahkan, ia menuduh Washington sedang mempersiapkan invasi darat di balik kedok diplomasi. “Selama Amerika mencari penyerahan diri Iran, respon kami adalah kami tidak akan pernah menerima penghinaan,” ujar Qalibaf dalam pesan nasionalnya.

Baca Juga :  PM Takaichi Desak Presiden Iran Jamin Keamanan Pelayaran Global di Selat Hormuz

Hujan Rudal: 140 Serangan Udara dalam 24 Jam

Di medan tempur, militer Israel justru semakin mengintensifkan gempurannya. Hingga Minggu malam, jet tempur Israel telah meluncurkan lebih dari 140 serangan udara ke wilayah tengah dan barat Iran. Akibatnya, situs peluncuran rudal balistik dan fasilitas penyimpanan logistik Teheran mengalami kerusakan parah.

Terlebih lagi, konflik ini telah merembet ke sektor industri sipil di negara tetangga. Pabrik aluminium besar di Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan hancur akibat serangan udara selama akhir pekan. Oleh sebab itu, UEA kini menuntut reparasi atau ganti rugi dari pihak Iran atas kerusakan infrastruktur vital tersebut.

Marinir AS Tiba dan Risiko Perang Darat

Situasi keamanan semakin genting dengan kedatangan ribuan Marinir Amerika Serikat di Timur Tengah pada hari Jumat. Pasukan ini tiba menggunakan kapal serbu amfibi sebagai bagian dari pengerahan kontingen besar ke wilayah Teluk. Selain itu, laporan menyebutkan bahwa Pentagon mulai mempersiapkan skenario operasi darat yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu di dalam wilayah Iran.

Baca Juga :  Puncak Arus Balik Nataru 2026, Penumpang Internasional Wajib Isi Aplikasi All Indonesia

Meskipun demikian, Presiden Donald Trump kini menghadapi pilihan sulit antara melakukan eskalasi militer lebih lanjut atau menempuh jalur keluar melalui negosiasi. Kebijakan perang yang kian tidak populer ini mulai membebani suara Partai Republik menjelang pemilihan sela bulan November mendatang. Sejumlah demonstran di kota-kota besar AS mulai turun ke jalan untuk memprotes keterlibatan militer tersebut.

Krisis Kemanusiaan dan Dampak Ekonomi

Biaya manusia dari perang ini kian memilukan seiring meluasnya operasi militer ke Lebanon Selatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sedikitnya 52 tenaga medis telah tewas dalam konflik ini. Di sisi lain, serangan balasan Iran ke wilayah Beer Sheva, Israel, memaksa otoritas setempat mengeluarkan peringatan bahaya bahan kimia bagi warga sipil.

Pada akhirnya, kestabilan ekonomi dunia bergantung pada nasib navigasi di Selat Hormuz. Iran mulai memberikan sedikit celah dengan mengizinkan 20 kapal berbendera Pakistan untuk melintas. Dengan demikian, keberhasilan pertemuan di Islamabad nantinya akan menentukan apakah gestur kecil ini dapat berkembang menjadi perdamaian yang permanen di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia
Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang
Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik
Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel
WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global
Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas
Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita
SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:00 WIB

Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Berita Terbaru

Misi merajut kembali aliansi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi India untuk memulihkan hubungan yang sempat retak akibat sengketa tarif dan perbedaan pandangan strategis terkait kawasan Asia Selatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Sanksi diplomatik Paris. Pemerintah Prancis resmi melarang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memasuki wilayahnya sebagai respons atas sikap kontroversialnya terhadap aktivis bantuan Gaza. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat internasional. Dok: (AP Photo/Moses Sawasawa)

KESEHATAN

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB