Rakyat Jepang Berikan Suara di Tengah Skandal dan Salju Tebal

Minggu, 8 Februari 2026 - 13:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penyelamatan di zona merah. Pemerintah Jepang memulai operasi evakuasi warga dari empat negara Teluk menggunakan pesawat carter khusus guna menghindari dampak perang AS-Israel terhadap Iran. Dok: Istimewa.

Penyelamatan di zona merah. Pemerintah Jepang memulai operasi evakuasi warga dari empat negara Teluk menggunakan pesawat carter khusus guna menghindari dampak perang AS-Israel terhadap Iran. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Proses pemungutan suara untuk pemilihan umum majelis rendah Jepang resmi mulai berlangsung pada Minggu pagi. Sebanyak 1.284 kandidat kini bersaing ketat untuk memperebutkan 465 kursi di parlemen.

Fokus utama pemilu kali ini adalah nasib koalisi pemerintahan Partai Demokrat Liberal (LDP). Publik akan menentukan apakah administrasi Perdana Menteri Sanae Takaichi tetap berlanjut atau kekuatan oposisi akan berhasil memblokir langkah tersebut. TPS di seluruh negeri akan tutup pada pukul 20.00 waktu setempat; petugas memprediksi penghitungan suara akan berlangsung hingga larut malam.

Struktur Kursi dan Peta Persaingan

Parlemen Jepang mengalokasikan 465 kursi majelis rendah melalui dua mekanisme berbeda. Sebanyak 289 kursi berasal dari daerah pemilihan tunggal. Sementara itu, sistem representasi proporsional di 11 blok regional akan menentukan 176 kursi lainnya.

Beberapa jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa koalisi LDP masih berpeluang mengamankan mayoritas kursi. Namun, aliansi oposisi baru, Centrist Reform Alliance, mulai menunjukkan perlawanan meskipun kehilangan pijakan dibandingkan periode sebelumnya. Selain itu, tingginya jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters) membuat publik masih sulit memprediksi hasil akhir pemilu ini.

Skandal Dana Gelap dan Ujian Takaichi

Perdana Menteri Sanae Takaichi mengambil langkah berani dengan membubarkan parlemen pada 23 Januari lalu. Langkah ini menandai pembubaran parlemen pertama di awal sesi reguler dalam 60 tahun terakhir. Bahkan, Takaichi bersumpah akan segera mundur jika koalisinya gagal mempertahankan mayoritas kursi.

Namun, keputusan ini memicu kritik tajam dari berbagai pihak. Para penentang menilai Takaichi lebih mementingkan pertimbangan politik daripada pengesahan anggaran tahun 2026. Selain itu, skandal dana gelap yang terus menghantui LDP menjadi faktor utama ketidakpastian dalam pemilu kali ini. Oleh karena itu, integritas partai penguasa menjadi sorotan utama di bilik suara.

Baca Juga :  Langit Kabul Membara: Pasukan Taliban Balas Serangan Udara Militer Pakistan

Kendala Cuaca dan Partisipasi Pemilih

Selain isu politik, kendala alam juga membayangi proses demokrasi di Jepang. Ini merupakan pemilihan majelis rendah pertama yang berlangsung pada bulan Februari sejak tahun 1990. Saat ini, salju tebal terus mengguyur wilayah pesisir Laut Jepang.

Kondisi cuaca ekstrem tersebut memicu kekhawatiran mengenai gangguan transportasi bagi para pemilih. Bahkan, pihak berwenang memperingatkan adanya risiko keselamatan bagi warga yang menuju tempat pemungutan suara. Situasi ini berisiko menekan tingkat partisipasi pemilih (voter turnout) secara nasional. Akibatnya, hasil pemilu mungkin akan sangat bergantung pada mobilisasi basis massa di menit-menit terakhir sebelum petugas menutup pemungutan suara.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara
Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Berita Terbaru