Mengapa Tidur Adalah Proses Biologis Paling Aktif Manusia?

Minggu, 8 Februari 2026 - 21:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan sekadar fase istirahat. Sains modern membuktikan bahwa saat kita terlelap, otak justru bekerja keras melakukan restorasi sel, konsolidasi memori, hingga penguatan sistem imun. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bukan sekadar fase istirahat. Sains modern membuktikan bahwa saat kita terlelap, otak justru bekerja keras melakukan restorasi sel, konsolidasi memori, hingga penguatan sistem imun. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Manusia menghabiskan sepertiga hidupnya dalam keadaan tidur, namun misteri di baliknya baru mulai terungkap pada pertengahan abad ke-20. Dahulu, para ilmuwan kesulitan mempelajari tidur karena pengamatan fisik saja tidak memberikan data yang memadai.

Terobosan besar akhirnya muncul pada tahun 1950-an melalui penggunaan rekaman elektrosensefalogram (EEG). Alat ini memantau aktivitas listrik otak dan mengonfirmasi bahwa saat tidur, tubuh manusia sama sekali tidak dalam keadaan mati suri. Sebaliknya, otak justru menunjukkan aktivitas yang sangat dinamis dan terorganisir.

Restorasi Biologis dan Dampak Kurang Tidur

Secara biologis, manusia membutuhkan tidur untuk proses restorasi dan pemulihan. Saat mesin tubuh melambat, sumber daya energi beralih fokus untuk memperbaiki kerusakan jaringan dan meregenerasi sel. Oleh karena itu, tidur berperan penting dalam konsolidasi memori dan kemampuan berpikir manusia di siang hari.

Namun demikian, jika seseorang mengalami kekurangan tidur, kinerja fisiknya akan menurun secara drastis, terutama pada tugas-tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Bahkan, kurang tidur yang ekstrem dapat memicu perilaku kacau, ketidakteraturan bicara, hingga delusi dan halusinasi. Pasalnya, tanpa istirahat yang cukup, sistem saraf pusat kehilangan kemampuan untuk menyaring informasi secara efektif.

Baca Juga :  Trump Paksa Pemimpin Dunia Gabung Dewan Perdamaian

Vitalitas Fase REM dan Mimpi

Bagian paling penting dari tidur adalah mimpi, yang terjadi paling intens selama fase Rapid Eye Movement (REM). Manusia biasanya menghabiskan lebih dari dua jam setiap malam untuk bermimpi melalui beberapa periode yang terpisah.

Selain itu, bayi menghabiskan hingga 50 persen waktu tidur mereka dalam fase REM. Hal ini terjadi karena otak menggunakan fase REM untuk perkembangan saraf, pembelajaran, dan pengorganisasian informasi. Dengan demikian, REM bukan sekadar “bunga tidur”, melainkan kebutuhan esensial bagi fungsi kognitif dan perkembangan mental manusia sejak lahir.

Kaitan Tidur dengan Penyakit Kronis

Tidur memengaruhi hampir setiap bidang kedokteran karena perannya dalam mengatur hormon dan detak jantung. Sebagai contoh, serangan stroke cenderung lebih sering terjadi pada malam hari atau dini hari akibat perubahan fisiologis saat tidur. Selain itu, tidur juga berinteraksi dengan penyakit epilepsi; fase REM membantu mencegah penyebaran kejang, sementara tidur nyenyak terkadang justru memicu penyebarannya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Interaksi antara neuron pengatur tidur dan sistem imun juga sangat kuat. Saat melawan infeksi, tubuh melepaskan sitokin, yaitu zat kimia yang memicu rasa kantuk yang kuat. Dengan cara ini, tidur membantu tubuh menghemat energi yang dibutuhkan sistem kekebalan untuk menyerang virus atau bakteri yang masuk.

Baca Juga :  Krisis Stok Amunisi: Trump Tekan Kontraktor Pertahanan Percepat Produksi Pasca-Serangan Iran

Gangguan Tidur dan Kesehatan Mental

Masalah tidur juga muncul pada hampir semua penderita gangguan mental, termasuk depresi dan skizofrenia. Tentu saja, jumlah tidur yang didapat seseorang sangat memengaruhi gejala gangguan tersebut. Bagi penderita depresi tertentu, kurang tidur bisa menjadi terapi efektif, namun bagi yang lain, hal itu justru memperparah kondisi.

Di sisi lain, insomnia atau kesulitan tidur kronis menjadi penderitaan yang meluas di masyarakat modern. Meskipun banyak penderita insomnia mengecilkan waktu tidur mereka, catatan EEG sering menunjukkan pola tidur yang relatif normal. Meskipun demikian, pengelolaan tidur yang lebih baik tetap menjadi kunci utama untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan berbagai gangguan kesehatan.

Pada akhirnya, fakta bahwa kita menghabiskan sepertiga hidup untuk tidur sudah cukup menjadi alasan kuat bagi sains untuk terus mendalaminya. Walaupun kita telah memahami fungsi dasarnya, manusia masih jauh dari kata tuntas dalam menguak seluruh misteri yang tersimpan di balik pintu tidur.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prediksi Cuaca Jabodetabek Jumat 17 April 2026, Siang Cerah – Sore Hujan Disertai Petir
5 Tools Kecerdasan Buatan yang Wajib Anda Gunakan di 2026
Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung
Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total
Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya
PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa
Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran
Hery Susanto Resmi Ditahan Kejagung, Terseret Kasus Korupsi Nikel Rp1,5 Miliar

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 07:05 WIB

Prediksi Cuaca Jabodetabek Jumat 17 April 2026, Siang Cerah – Sore Hujan Disertai Petir

Jumat, 17 April 2026 - 07:04 WIB

5 Tools Kecerdasan Buatan yang Wajib Anda Gunakan di 2026

Kamis, 16 April 2026 - 18:20 WIB

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung

Kamis, 16 April 2026 - 17:13 WIB

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 April 2026 - 16:31 WIB

Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya

Berita Terbaru

Ilustrasi, Selamat tinggal masa transisi. Di tahun 2026, AI telah menjadi

INTERNASIONAL

5 Tools Kecerdasan Buatan yang Wajib Anda Gunakan di 2026

Jumat, 17 Apr 2026 - 07:04 WIB

Runtuhnya era Orban. Partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar meraih kemenangan telak dalam pemilu Hungaria 2026, mengakhiri kekuasaan panjang Viktor Orban dan menjanjikan kembalinya aliansi kuat dengan Uni Eropa serta NATO. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 Apr 2026 - 17:13 WIB