JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Memasuki 1 Ramadan 1447 Hijriah, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam memaknai puasa bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai gerakan moral untuk memperkuat kesalehan sosial dan menjaga harmoni kebangsaan.
Pesan itu ia sampaikan bertepatan dengan awal Ramadan yang jatuh pada Kamis (19/2/2026).
Ia menegaskan, Ramadan tidak boleh berhenti pada ibadah personal seperti menahan lapar dan dahaga.
Sebaliknya, bulan suci harus menghadirkan dampak nyata di ruang publik—memperkuat solidaritas, menumbuhkan empati, dan merawat persaudaraan di tengah perbedaan yang menjadi kekayaan bangsa.
“Ramadan adalah momentum memperkuat kesalehan sosial dan merawat harmoni kebangsaan. Ini bukan sekadar ibadah individual, tetapi madrasah ruhani yang membentuk empati, kepedulian, dan tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” tegas Nasaruddin, Kamis (19/2/2026).
Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin juga menyoroti makna puasa sebagai latihan pengendalian diri. Menurut dia, puasa mengajarkan hidup proporsional dan menahan diri dari sikap berlebihan.
Nilai tersebut, lanjutnya, menjadi fondasi membangun masyarakat yang adil, tidak eksploitatif, dan berkelanjutan, termasuk dalam menjaga lingkungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ramadan mendidik kita bahwa hidup bukan tentang memuaskan seluruh keinginan. Kita diajak hidup seimbang. Pengendalian diri itulah fondasi keberlanjutan bangsa yang bermartabat,” ujarnya lugas.
Sikapi Perbedaan Awal Ramadan dengan Dewasa
Menag juga menyinggung dinamika perbedaan awal Ramadan 1447 H di tengah masyarakat. Ia meminta umat Islam menyikapinya dengan kepala dingin dan semangat ukhuwah.
Menurutnya, perbedaan metode penentuan awal bulan merupakan bagian dari khazanah dan kebhinekaan Indonesia.
“Jadikan perbedaan sebagai rahmat, bukan sekat. Jangan biarkan perbedaan hitungan merenggangkan hati. Justru di situlah kualitas toleransi kita diuji,” pesannya.
Lebih lanjut, Nasaruddin mengimbau masyarakat memperkuat solidaritas sosial selama Ramadan. Ia mengingatkan teladan Rasulullah SAW yang dikenal paling dermawan, terutama saat bulan puasa.
Karena itu, ia mendorong agar keberkahan Ramadan benar-benar dirasakan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan.
“Atas nama Menteri Agama Republik Indonesia, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Marhaban ya Ramadan. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan melimpahkan keberkahan bagi Indonesia tercinta,” tutupnya.
Mensetneg: Ramadan Momentum Introspeksi dan Perkuat Kebersamaan
Senada dengan Menag, Prasetyo Hadi mengucapkan selamat menunaikan puasa 1 Ramadan 1447 H. Ia mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momen introspeksi dan mempererat kebersamaan.
“Mari jadikan puasa sebagai sarana introspeksi dan memperkuat kehidupan yang rukun serta penuh berkah,” tulisnya, Kamis (19/2/2026).
Ia menegaskan, Ramadan melatih kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian sosial, sehingga menghadirkan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa. (red)
Editor : Hadwan





















