Ancaman Nuklir di Garis Depan: Kim Jong Un Pamerkan Senjata Ajaib 600mm

Kamis, 19 Februari 2026 - 12:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto, Ketegangan di Asia Timur meningkat. Korea Utara menuduh percepatan pengembangan rudal jarak jauh Jepang sebagai persiapan untuk melakukan

Foto, Ketegangan di Asia Timur meningkat. Korea Utara menuduh percepatan pengembangan rudal jarak jauh Jepang sebagai persiapan untuk melakukan "invasi ulang" di kawasan. Dok: Istimewa.

PYONGYANG, POSNEWS.CO.ID – Korea Utara kembali mengguncang stabilitas kawasan dengan memamerkan kekuatan militer terbarunya. Pemimpin tertinggi Kim Jong Un secara resmi memperkenalkan sistem peluncur roket ganda (MLRS) berukuran 600 mm yang mampu membawa hulu ledak nuklir taktis pada Kamis pagi.

Dalam pidatonya, Kim memuji sistem persenjataan tersebut sebagai mahakarya yang tidak memiliki tandingan di tingkat global. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa roket ini sangat ideal untuk melakukan “serangan khusus” guna menuntaskan misi strategis negara. Penggunaan istilah “serangan khusus” merupakan eufemisme yang sering Pyongyang gunakan untuk merujuk pada operasi serangan nuklir.

‘Senjata Ajaib’ dan Ancaman Eksistensial bagi Seoul

Sistem MLRS 600 mm ini memiliki daya hancur yang masif dan presisi tinggi. Kim Jong Un menjuluki sistem ini sebagai “senjata yang benar-benar indah dan menarik” yang berfungsi sebagai alat pencegah bagi musuh-musuh negara.

Namun demikian, para pengamat militer menyoroti posisi geografis yang sangat rawan. Seoul, ibu kota Korea Selatan, berada kurang dari 50 kilometer dari perbatasan antar-Korea. Pasalnya, dengan jangkauan tersebut, roket nuklir terbaru ini mampu meratakan pusat pemerintahan dan ekonomi Selatan dalam hitungan menit jika konflik pecah. Kim bahkan melontarkan ancaman tajam bahwa saat senjata ini beraksi, tidak akan ada kekuatan yang mampu mengharapkan perlindungan Tuhan.

Baca Juga :  Mengapa Perang Dagang Lebih Merugikan Daripada Perang Militer?

Motivasi Ekspor dan Uji Coba Presisi

Para analis menilai drive militer Tiongkok saat ini memiliki beberapa tujuan strategis. Selain itu, peningkatan pengujian rudal secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir bertujuan untuk menantang dominasi Amerika Serikat di Pasifik.

Selanjutnya, muncul spekulasi kuat bahwa Korea Utara sedang menguji kualitas alutsistanya sebelum melakukan ekspor besar-besaran ke Rusia. Melalui peningkatan kemampuan serangan presisi, Pyongyang berupaya memperkuat posisinya sebagai eksportir senjata utama bagi sekutunya di tengah ketegangan global yang meningkat.

Diplomasi Drone: Sinyal Lunak Kim Yo Jong

Di tengah pamer kekuatan militer yang agresif, muncul dinamika diplomasi yang mengejutkan dari pihak Utara. Adik perempuan Kim Jong Un yang sangat berpengaruh, Kim Yo Jong, menyatakan rasa apresiasinya terhadap sikap terbaru pemerintah Korea Selatan pada Kamis.

Baca Juga :  Peringatan Keras China di PBB: Cegah Jepang

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kim Yo Jong memuji Menteri Unifikasi Seoul, Chung Dong-young, yang secara resmi mengakui dan menyesali insiden masuknya drone pengintai ke wilayah udara Korea Utara bulan lalu. “Saya sangat menghargai keinginan Menteri Chung untuk mencegah terulangnya provokasi tersebut,” ujar Kim Yo Jong sebagaimana dikutip oleh KCNA. Langkah ini dipandang sebagai upaya deeskalasi sementara guna menjaga momentum sebelum agenda politik besar di Pyongyang dimulai.

Menatap Kongres Partai 2026

Rangkaian peresmian senjata dan manuver diplomasi ini menjadi pendahulu bagi Kongres Partai Buruh Korea yang dijadwalkan pada awal 2026. Ini merupakan pertemuan besar pertama dalam lima tahun terakhir bagi kepemimpinan Kim Jong Un.

Sebagai hasilnya, para menteri dan pejabat tinggi militer diprediksi akan merumuskan kebijakan ekonomi dan pertahanan jangka panjang yang lebih asertif. Dunia internasional kini memantau dengan cermat apakah perpaduan antara ancaman nuklir 600 mm dan diplomasi drone ini akan bermuara pada stabilitas baru atau justru eskalasi yang lebih berbahaya di Semenanjung Korea.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Arus Mudik 2026: 459 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta, 3,2 Juta Masih Tertahan
Cuaca Indonesia Minggu 15 Maret 2026, Jakarta hingga Surabaya Berawan dan Hujan
Diplomasi Rel dan Jembatan: Korea Utara Buka Kembali Jalur Logistik dengan China dan Rusia
Bupati Syamsul Auliya Rachman Jadi Tersangka, KPK Bongkar Setoran THR Rp610 Juta
Revolusi Jalur Langit: Jepang Bangun Tol Drone 40.000 Km di Atas Kabel Listrik
Mudik Lebaran 2026, Kapolda Metro Jaya Pastikan 1.647 Titik Pengamanan Siap
Strategi Tanpa Arah: Membedah Kekacauan Politik di Balik Serangan Militer AS ke Iran
Klaim Kemenangan Mutlak AS: Pete Hegseth Sebut Militer Iran Lumpuh Total di Hari ke-13

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 05:55 WIB

Arus Mudik 2026: 459 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta, 3,2 Juta Masih Tertahan

Minggu, 15 Maret 2026 - 05:09 WIB

Cuaca Indonesia Minggu 15 Maret 2026, Jakarta hingga Surabaya Berawan dan Hujan

Sabtu, 14 Maret 2026 - 20:13 WIB

Diplomasi Rel dan Jembatan: Korea Utara Buka Kembali Jalur Logistik dengan China dan Rusia

Sabtu, 14 Maret 2026 - 19:56 WIB

Bupati Syamsul Auliya Rachman Jadi Tersangka, KPK Bongkar Setoran THR Rp610 Juta

Sabtu, 14 Maret 2026 - 18:53 WIB

Revolusi Jalur Langit: Jepang Bangun Tol Drone 40.000 Km di Atas Kabel Listrik

Berita Terbaru