Trump Sebut Anggota Parlemen Muslim Gila dan Desak Deportasi

Jumat, 27 Februari 2026 - 10:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pesan dari Pyongyang. Kim Jong Un dan putrinya, Ju Ae, mengenakan jaket kulit yang identik saat mengawasi parade militer besar, memperkuat persepsi publik bahwa sang remaja sedang dipersiapkan sebagai pemimpin masa depan Korea Utara. Dok: Istimewa.

Pesan dari Pyongyang. Kim Jong Un dan putrinya, Ju Ae, mengenakan jaket kulit yang identik saat mengawasi parade militer besar, memperkuat persepsi publik bahwa sang remaja sedang dipersiapkan sebagai pemimpin masa depan Korea Utara. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump kembali memicu kontroversi rasial yang tajam di Amerika Serikat. Pada Rabu, ia menegaskan bahwa dua perwakilan Demokrat, Ilhan Omar dan Rashida Tlaib, seharusnya “direhabilitasi di institusi kejiwaan” dan dideportasi dari Amerika Serikat.

Langkah provokatif ini terjadi hanya sehari setelah suasana panas menyelimuti pidato kenegaraan (State of the Union). Oleh karena itu, ketegangan antara Gedung Putih dan sayap progresif Partai Demokrat kini mencapai titik terendah yang baru di tahun 2026.

Pemicu: Konfrontasi Saat Pidato Kenegaraan

Prahara bermula saat Trump memamerkan kebijakan penindakan keras terhadap imigrasi dalam pidatonya pada Selasa malam. Rashida Tlaib (Palestina-Amerika) dan Ilhan Omar (Somalia-Amerika) secara terbuka mengkritik klaim kesuksesan administrasi tersebut.

Keduanya meneriakkan kalimat “Anda membunuh warga Amerika” ke arah Trump dari kursi parlemen. Bahkan, Omar secara eksplisit melabeli presiden sebagai seorang “pembohong”. Aksi interupsi ini memicu kemarahan basis pendukung Republik dan menjadi viral di media sosial dalam hitungan jam.

Baca Juga :  Trump Timbang Serangan Militer ke Iran: Target Non-Militer

Serangan Personal melalui Truth Social

Trump merespons kritik tersebut dengan serangan personal yang sangat kasar melalui platform Truth Social. Ia mendeskripsikan kedua anggota Kongres tersebut memiliki mata yang merah dan melotot layaknya orang yang “sakit mental”.

“Secara jujur, mereka terlihat seperti orang yang harus segera dimasukkan ke institusi (RSJ),” tulis Trump. Ia menambahkan bahwa pemerintah harus mengirim mereka kembali ke negara asal secepat mungkin. Padahal, baik Omar maupun Tlaib merupakan warga negara Amerika Serikat yang sah dan dipilih secara demokratis oleh konstituen mereka di Minnesota dan Michigan.

Kecaman dari Oposisi dan Komunitas Muslim

Pemimpin Oposisi di DPR, Hakeem Jeffries, melabeli retorika Trump sebagai tindakan yang “xenofobia” dan “memalukan”. Sementara itu, Rashida Tlaib membalas melalui platform X dengan menyebut komentar Trump menunjukkan bahwa sang presiden sedang kehilangan kendali diri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lembaga advokasi Council on American-Islamic Relations (CAIR) juga menyuarakan protes keras. Deputi Direktur Nasional CAIR, Edward Ahmed Mitchell, menilai pernyataan Trump sangat rasis dan bigot. “Sangat rasis jika seseorang meminta legislator Muslim dikirim kembali ke negara asal leluhur mereka hanya karena mereka mengkritik tindakan kekerasan agen ICE terhadap warga sipil,” tegas Mitchell.

Baca Juga :  Pezeshkian Serukan Persatuan Iran di Tengah Krisis dan Tekanan Nuklir

Konteks Penembakan dan Kematian di Tahanan ICE

Serangan Trump terhadap legislator tersebut terjadi di tengah pengawasan ketat terhadap kinerja lembaga imigrasi federal. Sepanjang Januari 2026 saja, agen federal telah menembak mati dua warga sipil Amerika Serikat dalam operasi terpisah di Minnesota.

Selain itu, data menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan di pusat penahanan Immigration and Customs Enforcement (ICE). Sedikitnya delapan orang telah tewas di dalam tahanan ICE sejak awal tahun 2026, menyusul rekor 31 kematian pada tahun lalu. Aktivis hak asasi manusia menuduh Trump menggunakan tuduhan “fraud” di komunitas migran sebagai dalih untuk menciptakan lingkungan yang penuh ketakutan. Skandal ini memperuncing polarisasi di Amerika Serikat menjelang perayaan hari kemerdekaan ke-250 negara tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Kita Percaya Hoaks? Menakar Efek Jarum Hipodermik
Perang Ekonomi: AS Sasar Armada Bayangan Iran
Kim Jong Un dan Ju Ae Tampil Serasi dengan Jaket Kulit
Anak Riza Chalid Dihukum 15 Tahun, Hakim Bebankan Uang Pengganti Rp2,9 Triliun
Pramono Anung Siapkan LPDP Jakarta, Target 100 Penerima Beasiswa pada 2027
Krisis Demografi Jepang: Angka Kelahiran 2025 Sentuh Titik Terendah dalam 126 Tahun
Delegasi Kyiv dan AS Matangkan Rencana Pemulihan Ekonomi
Pegawai Bank Ditembak Saat Tidur di Tulang Bawang, Peluru Kaliber 22 Bersarang di Kaki

Berita Terkait

Jumat, 27 Februari 2026 - 12:17 WIB

Mengapa Kita Percaya Hoaks? Menakar Efek Jarum Hipodermik

Jumat, 27 Februari 2026 - 11:10 WIB

Perang Ekonomi: AS Sasar Armada Bayangan Iran

Jumat, 27 Februari 2026 - 10:06 WIB

Trump Sebut Anggota Parlemen Muslim Gila dan Desak Deportasi

Jumat, 27 Februari 2026 - 09:57 WIB

Kim Jong Un dan Ju Ae Tampil Serasi dengan Jaket Kulit

Jumat, 27 Februari 2026 - 08:42 WIB

Anak Riza Chalid Dihukum 15 Tahun, Hakim Bebankan Uang Pengganti Rp2,9 Triliun

Berita Terbaru

Ilustrasi, Suntikan opini yang mematikan logika. Melalui teori Jarum Hipodermik, kita membedah alasan psikologis di balik kerentanan manusia terhadap hoaks di tengah banjir informasi digital saat ini. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Kita Percaya Hoaks? Menakar Efek Jarum Hipodermik

Jumat, 27 Feb 2026 - 12:17 WIB

Penyempitan jalur minyak ilegal. Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap puluhan entitas dan kapal

INTERNASIONAL

Perang Ekonomi: AS Sasar Armada Bayangan Iran

Jumat, 27 Feb 2026 - 11:10 WIB

Pesan dari Pyongyang. Kim Jong Un dan putrinya, Ju Ae, mengenakan jaket kulit yang identik saat mengawasi parade militer besar, memperkuat persepsi publik bahwa sang remaja sedang dipersiapkan sebagai pemimpin masa depan Korea Utara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Sebut Anggota Parlemen Muslim Gila dan Desak Deportasi

Jumat, 27 Feb 2026 - 10:06 WIB

Foto, Pesan dari Pyongyang. Kim Jong Un dan putrinya, Ju Ae, mengenakan jaket kulit yang identik saat mengawasi parade militer besar, memperkuat persepsi publik bahwa sang remaja sedang dipersiapkan sebagai pemimpin masa depan Korea Utara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kim Jong Un dan Ju Ae Tampil Serasi dengan Jaket Kulit

Jumat, 27 Feb 2026 - 09:57 WIB