JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mengapa pesan singkat yang tidak masuk akal sering kali menyulut amarah massal dalam sekejap? Di tahun 2026, meskipun tingkat literasi digital meningkat, penyebaran hoaks justru semakin agresif dan sulit untuk kita bendung.
Ilmu komunikasi menawarkan penjelasan klasik melalui Hypodermic Needle Theory. Oleh karena itu, memahami mekanisme “suntikan” pesan ini menjadi sangat penting agar kita tidak menjadi korban manipulasi opini yang dapat memecah belah masyarakat.
Sejarah Teori: Audiens sebagai Target Pasif
Harold Lasswell merumuskan teori ini pada era 1920-an setelah mengamati efektivitas propaganda selama Perang Dunia I. Para peneliti masa itu memandang media massa layaknya jarum suntik raksasa. Pasalnya, mereka percaya bahwa media mampu menembakkan pesan langsung ke dalam otak audiens tanpa ada perlawanan.
Sebagai salah satu contoh, siaran radio War of the Worlds pada tahun 1938 menyebabkan kepanikan massal di Amerika Serikat. Ribuan orang percaya bahwa alien sedang menyerang bumi hanya karena mendengarkan drama radio yang terdengar mirip berita asli. Dengan demikian, teori ini menetapkan premis bahwa media sangat perkasa, sementara manusia merupakan penerima informasi yang pasif dan mudah petugas kendalikan.
Kondisi Krisis: Saat Logika Menyerah pada Emosi
Mengapa teori ini seolah menemukan nyawa baru di era modern? Jawabannya terletak pada kondisi psikologis masyarakat saat menghadapi krisis, baik itu pandemi, gejolak ekonomi, maupun polarisasi politik.
Dalam situasi penuh ketidakpastian, otak manusia secara alami mencari informasi apa pun yang mampu meredakan kecemasan. Sayangnya, mekanisme ini sering kali mengabaikan verifikasi fakta. Alhasil, individu cenderung menelan mentah-mentah narasi yang selaras dengan rasa takut atau harapan mereka. Bahkan, emosi intensitas tinggi seperti kemarahan atau kejutan bertindak sebagai “pelicin” yang mempercepat masuknya pesan hoaks ke dalam keyakinan seseorang tanpa melalui proses filter logika yang sehat.
Kritik Modern: Apakah Kita Masih “Pasif”?
Banyak pakar komunikasi modern mengkritik Teori Jarum Hipodermik karena meremehkan kecerdasan manusia. Teori-teori baru seperti Uses and Gratifications berargumen bahwa audiens sebenarnya sangat aktif dalam memilih informasi yang ingin mereka konsumsi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun demikian, realitas di tahun 2026 menunjukkan sisi lain. Meskipun kita merasa aktif memilih, algoritma media sosial justru menciptakan “jarum hipodermik” yang jauh lebih canggih. Oleh sebab itu, kita tidak lagi petugas suntik secara massal dengan pesan yang sama, melainkan petugas suntik secara personal berdasarkan data perilaku kita. Personalisasi ini membuat pesan tersebut terasa sangat nyata dan personal, sehingga filter kritis kita justru semakin melemah karena merasa informasi tersebut “benar” bagi diri kita sendiri.
Membangun Tameng Literasi
Teori Jarum Hipodermik mungkin sudah berusia seabad, namun prinsip dasarnya tetap menghantui ruang digital kita. Kita tidak boleh lagi memandang diri kita sebagai penerima pesan yang kebal terhadap manipulasi.
Pada akhirnya, solusi utama bukanlah dengan mematikan teknologi, melainkan dengan memperkuat filter internal. Menumbuhkan kebiasaan untuk selalu mempertanyakan sumber, mencari penyeimbang opini, dan menahan diri sebelum membagikan informasi adalah langkah kecil yang krusial. Hanya dengan bersikap aktif dan kritis, kita dapat memastikan bahwa “jarum” disinformasi tidak akan pernah mampu menembus pertahanan logika kita demi menjaga integritas sosial bangsa di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















