Misi Damai Abu Dhabi: Trump Tekan Ukraina Selesaikan Perang dalam Satu Bulan

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sengketa intelijen di Capitol Hill. Undang-Undang pengawasan asing Seksi 702 terancam kedaluwarsa setelah kelompok bipartisan menolak penunjukan Bill Pulte oleh Presiden Trump. Dok: Istimewa.

Sengketa intelijen di Capitol Hill. Undang-Undang pengawasan asing Seksi 702 terancam kedaluwarsa setelah kelompok bipartisan menolak penunjukan Bill Pulte oleh Presiden Trump. Dok: Istimewa.

JENEWA, POSNEWS.CO.ID – Diplomasi maraton untuk mengakhiri perang di Eropa Timur memasuki fase yang sangat mendesak. Perundingan bilateral yang berlangsung di Jenewa antara Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat resmi berakhir pada Kamis tanpa ada pengumuman hasil konkret.

Meskipun demikian, atmosfer di meja perundingan mulai bergeser. Ketua negosiator Ukraina, Rustem Umerov, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan pertemuan trilateral berikutnya menjadi sesi yang paling substantif.

Fokus pada Jalur Ekonomi dan Rekonstruksi

Dalam keterangannya melalui platform X, Umerov mengungkapkan bahwa delegasi memberikan perhatian khusus pada “jalur ekonomi” Ukraina. Tim ekonomi pemerintah Ukraina bersama mitra Amerika Serikat telah melakukan tinjauan mendetail terhadap dokumen pemulihan nasional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tim masing-masing akan terus menyempurnakan dokumen tersebut, dengan fokus pada rekonstruksi masa depan dan rencana investasi,” ujar Umerov. Langkah ini petugas nilai sebagai upaya Washington untuk memberikan “insentif perdamaian” yang nyata melalui keterlibatan sektor swasta Amerika dalam pembangunan kembali infrastruktur Ukraina yang hancur.

Baca Juga :  Simfoni Batu dan Besi: Menelusuri Evolusi Wajah Arsitektur Inggris Selama Seribu Tahun

Pertemuan Rahasia Rusia dan Target Abu Dhabi

Di hari yang sama, utusan khusus Presiden Rusia, Kirill Dmitriev, mengadakan pertemuan tertutup dengan perwakilan AS di sebuah hotel di Jenewa. Pertemuan yang berlangsung selama dua jam tersebut berakhir tanpa pernyataan resmi. Dmitriev menolak memberikan komentar saat meninggalkan lokasi.

Menanggapi dinamika tersebut, Presiden Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa perundingan trilateral kemungkinan besar akan berpindah lokasi ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada awal Maret. “Saat ini terdapat kesiapan yang lebih besar untuk format trilateral berikutnya. Kami berharap segala hal, termasuk jaminan keamanan nyata dan persiapan pertemuan tingkat pemimpin, dapat segera difinalisasi,” tegas Zelenskyy.

Tekanan “Satu Bulan” dari Donald Trump

Urgensi perundingan ini sangat dipengaruhi oleh sikap asertif Gedung Putih. Berdasarkan laporan internal, Presiden Donald Trump telah menyampaikan keinginan yang sangat eksplisit kepada Zelenskyy melalui pembicaraan telepon pada Rabu lalu.

Trump mendesak agar konflik ini berakhir secepat mungkin, dengan preferensi waktu dalam satu bulan ke depan. Namun, ambisi tersebut menghadapi tantangan realitas yang besar. Chen Yu, wakil direktur Eurasian Studies Institute di Tiongkok, menilai target satu bulan tersebut sangatlah sulit.

Baca Juga :  Bus Terbakar di Tol Kelapa Gading, Sopir Luka dan Kerugian Capai Rp 2 Miliar

Hambatan Donbas dan Pasukan Eropa

Chen Yu menjelaskan bahwa terdapat dua ganjalan utama yang membuat negosiasi tetap buntu. Pertama, wilayah sengketa di Donbas memiliki signifikansi yang terlalu besar bagi kedaulatan Ukraina, sehingga Kyiv enggan memberikan konsesi wilayah dengan mudah. Ukraina menuntut jaminan keamanan dari AS yang jauh lebih kuat daripada tawaran saat ini.

Kedua, Rusia menghadapi kendala besar dalam menerima usulan keterlibatan pasukan dari beberapa negara Eropa sebagai bagian dari mekanisme penjamin keamanan di Ukraina. Moskow menganggap kehadiran fisik militer Eropa di garis depan sebagai ancaman langsung terhadap zona pengaruh mereka. Putaran Abu Dhabi pada Maret mendatang akan menjadi ujian terakhir bagi kepemimpinan diplomatik Trump untuk melihat apakah jurang perbedaan ini mampu tertutup dalam waktu singkat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AS Gempur Iran Pasca Penembakan Helikopter Apache
Pesta Gay Viral di Karawang Jadi Alarm Pengawasan Tempat Hiburan Malam
Kamar Indekos Jadi Markas Sabu, Pasutri di Bekasi Diciduk Polisi
Sony Sonjaya Bongkar 26 Nama dalam Kasus Korupsi MBG
BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian
Presiden Lebanon Joseph Aoun Desak Jalur Diplomasi
Polda Metro Sikat 141 Curanmor, 317 Ditangkap – Muncul Pertanyaan Efektivitas Pencegahan
Paus Leo XIV Desak Penghormatan Migran dan Hukum Internasional

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 09:48 WIB

AS Gempur Iran Pasca Penembakan Helikopter Apache

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:48 WIB

Pesta Gay Viral di Karawang Jadi Alarm Pengawasan Tempat Hiburan Malam

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:24 WIB

Kamar Indekos Jadi Markas Sabu, Pasutri di Bekasi Diciduk Polisi

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:00 WIB

Sony Sonjaya Bongkar 26 Nama dalam Kasus Korupsi MBG

Rabu, 10 Juni 2026 - 06:53 WIB

BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian

Berita Terbaru

Ilustrasi, Ketegangan baru di Selat Hormuz. Amerika Serikat meluncurkan serangan balasan ke Iran setelah penembakan jatuh helikopter Apache di tengah ancaman pecahnya aliansi AS-Israel. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Gempur Iran Pasca Penembakan Helikopter Apache

Rabu, 10 Jun 2026 - 09:48 WIB

Kuasa hukum tersangka Sony Sonjaya, Krisna Murti. (Posnews/Ist)

NASIONAL

Sony Sonjaya Bongkar 26 Nama dalam Kasus Korupsi MBG

Rabu, 10 Jun 2026 - 08:00 WIB

Ilustrasi, Kondisi langit berawan di kawasan Jakarta saat BMKG memprediksi seluruh wilayah Jabodetabek mengalami cuaca berawan pada Rabu, 10 Juni 2026.
(Posnews/BMKG)

JABODETABEK

BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian

Rabu, 10 Jun 2026 - 06:53 WIB