Langit Kabul Membara: Pasukan Taliban Balas Serangan Udara Militer Pakistan

Minggu, 1 Maret 2026 - 16:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pecahnya perang saudara sesama tetangga. Afghanistan mengerahkan pertahanan udara untuk menghalau jet tempur Pakistan di Kabul, menandai eskalasi militer terburuk di perbatasan sepanjang 2.600 kilometer. Dok: Istimewa.

Pecahnya perang saudara sesama tetangga. Afghanistan mengerahkan pertahanan udara untuk menghalau jet tempur Pakistan di Kabul, menandai eskalasi militer terburuk di perbatasan sepanjang 2.600 kilometer. Dok: Istimewa.

KABUL, POSNEWS.CO.ID – Suara ledakan dan rentetan senjata mesin memecah keheningan fajar di ibu kota Afghanistan pada Minggu pagi. Pasukan pemerintah Taliban secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka sedang menargetkan jet-jet tempur milik militer Pakistan yang melintas di langit Kabul.

Konfrontasi langsung ini terjadi di tengah memanasnya situasi keamanan regional. Kawasan tersebut saat ini juga sedang terguncang oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Oleh karena itu, pecahnya pertempuran antara dua negara bertetangga ini menambah lapisan ketidakpastian baru di perbatasan sepanjang 2.600 kilometer tersebut.

Baku Tembak di Ibu Kota: “Warga Tidak Perlu Cemas”

Saksi mata di Kabul melaporkan adanya kilatan cahaya dari artileri pertahanan udara yang menyasar objek di langit sebelum matahari terbit. Juru bicara administrasi Taliban, Zabihullah Mujahid, menegaskan bahwa militer Afghanistan mengambil tindakan tegas untuk melindungi kedaulatan udara mereka.

“Serangan pertahanan udara terlaksana di Kabul terhadap pesawat Pakistan. Penduduk Kabul tidak perlu merasa khawatir,” ujar Mujahid dalam pernyataan resminya. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat jatuhnya proyektil di wilayah perkotaan. Pihak perdana menteri dan militer Pakistan sendiri memilih untuk tetap bungkam saat media meminta konfirmasi terkait keberadaan jet mereka di wilayah musuh.

Baca Juga :  Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut

Operasi “Ghazab Lil Haq” dan Tuduhan TTP

Akar konflik bersenjata ini bersumber dari tuduhan lama Islamabad. Pemerintah Pakistan meyakini bahwa Afghanistan memberikan perlindungan bagi militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP). Kelompok tersebut selama ini meluncurkan pemberontakan sistematis di dalam wilayah Pakistan.

Sebaliknya, pemerintah Afghanistan secara konsisten membantah tuduhan tersebut. Mereka menegaskan tidak mengizinkan pihak mana pun menggunakan wilayahnya untuk menyerang negara lain. Sumber keamanan Pakistan melaporkan bahwa operasi militer bertajuk “Ghazab Lil Haq” atau “Murka demi Kebenaran” masih terus berlangsung. Bahkan, pasukan Pakistan mengeklaim telah menghancurkan sejumlah pos perbatasan dan kamp militer milik Afghanistan sebagai bentuk pembelaan diri yang sah.

“Perang Terbuka” di Tengah Krisis Iran

Intensitas pertempuran ini petugas nilai sebagai yang terberat dalam beberapa tahun terakhir. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, tidak ragu mendeskripsikan situasi saat ini sebagai kondisi “perang terbuka”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, Menteri Dalam Negeri Afghanistan, Sirajuddin Haqqani, memperingatkan bahwa konflik ini akan memakan biaya yang sangat mahal bagi kedua belah pihak. Haqqani mencatat bahwa Afghanistan sejauh ini baru mengerahkan pasukan garis depan dan belum melakukan mobilisasi militer secara penuh. Namun, posisi Iran sebagai penengah potensial kini menghilang. Pasalnya, Teheran sendiri sedang menghadapi agresi militer dari Amerika Serikat dan Israel yang bertujuan melumpuhkan kapasitas nuklir mereka.

Baca Juga :  Dilema Pentagon: AS Pertimbangkan Alihkan Pasokan Senjata Ukraina ke Timur Tengah

Desakan Gencatan Senjata dari Komunitas Global

Eskalasi militer yang sangat cepat ini memicu alarm bahaya bagi negara-negara besar. Arab Saudi, Rusia, Tiongkok, hingga Uni Eropa secara serentak mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri.

Selain itu, Qatar dan Arab Saudi menawarkan diri untuk memediasi proses gencatan senjata segera. Di sisi lain, Amerika Serikat menyatakan dukungannya terhadap hak Pakistan untuk mempertahankan diri dari ancaman terorisme. Masyarakat internasional kini berpacu dengan waktu guna membawa Taliban dan pemerintah Pakistan kembali ke meja perundingan. Tanpa adanya dialog yang substantif, Asia Selatan berisiko terseret ke dalam lubang konflik berkepanjangan yang akan melumpuhkan ekonomi dan keamanan kawasan di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung
Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total
Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya
PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa
Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran
Hery Susanto Resmi Ditahan Kejagung, Terseret Kasus Korupsi Nikel Rp1,5 Miliar
Bagaimana Perang Iran Memperkokoh Hegemoni Energi Hijau Tiongkok
Bareskrim Bongkar Jaringan Narkoba via Ojol, Lab Vape Etomidate di Jaktim Digerebek

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 18:20 WIB

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung

Kamis, 16 April 2026 - 17:13 WIB

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 April 2026 - 16:31 WIB

Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya

Kamis, 16 April 2026 - 16:04 WIB

PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa

Kamis, 16 April 2026 - 15:21 WIB

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Berita Terbaru

Runtuhnya era Orban. Partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar meraih kemenangan telak dalam pemilu Hungaria 2026, mengakhiri kekuasaan panjang Viktor Orban dan menjanjikan kembalinya aliansi kuat dengan Uni Eropa serta NATO. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 Apr 2026 - 17:13 WIB

Mencari kesatuan ekonomi. Para pemimpin keuangan G7 berkumpul di Washington guna menghadapi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global akibat blokade Selat Hormuz yang masih berlanjut di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Kamis, 16 Apr 2026 - 15:21 WIB