Timur Tengah Membara: Iran Tutup Selat Hormuz

Selasa, 3 Maret 2026 - 10:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lumpuhnya urat nadi energi dunia. Iran resmi menutup Selat Hormuz dan bersumpah menghentikan seluruh ekspor minyak regional, sementara konfrontasi fisik merenggut nyawa tentara Amerika Serikat dan meluas ke wilayah Lebanon. Dok: Istimewa.

Lumpuhnya urat nadi energi dunia. Iran resmi menutup Selat Hormuz dan bersumpah menghentikan seluruh ekspor minyak regional, sementara konfrontasi fisik merenggut nyawa tentara Amerika Serikat dan meluas ke wilayah Lebanon. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Dunia kini menghadapi krisis energi paling menakutkan di era modern. Iran resmi menyatakan penutupan Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi kunci ekspor minyak dunia, sebagai respon atas agresi militer Amerika Serikat dan Israel.

Penasihat senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ebrahim Jabari, menegaskan posisi Teheran melalui siaran televisi negara. Ia memperingatkan bahwa pasukan angkatan laut Iran akan membakar kapal mana pun yang mencoba melanggar penutupan tersebut. “Kami tidak akan membiarkan minyak keluar dari kawasan ini,” tegas Jabari pada Senin.

Kelumpuhan Logistik dan Kematian Tentara AS

Langkah ekstrem Iran ini segera melumpuhkan rantai pasok global. Raksasa pelayaran dunia, termasuk Maersk dan MSC, secara serentak menghentikan transit melalui selat tersebut karena lonjakan biaya asuransi dan risiko serangan nyata.

Di sisi lain, Amerika Serikat mencatatkan kerugian personel pertama dalam operasi militer kali ini. Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa sedikitnya enam tentara Amerika tewas dalam serangkaian serangan balasan Iran. Salah satu serangan fatal menghantam pusat operasi sementara di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait. Selain itu, muncul laporan teknis yang memalukan; militer Kuwait secara tidak sengaja menembak jatuh tiga jet tempur AS karena kesalahan identifikasi radar di tengah kekacauan koordinasi lapangan.

Baca Juga :  WHO Lawan Balik: Tedros Sebut Alasan AS Keluar Tidak Benar

Protes Anti-Perang Mengguncang Washington

Di dalam negeri, Presiden Donald Trump menghadapi gelombang penolakan yang semakin besar. Ribuan warga Amerika Serikat turun ke jalan di berbagai kota besar guna memprotes operasi militer terhadap Iran.

Para pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan “Hands Off Iran” dan mendesak penghentian segera kampanye militer. Jajak pendapat terbaru dari CNN menunjukkan bahwa 59 persen warga Amerika tidak menyetujui langkah serangan udara yang Trump perintahkan. Meskipun begitu, Trump menegaskan bahwa ia tidak menutup kemungkinan pengiriman pasukan darat. Ia memprediksi kampanye militer ini akan berlangsung selama empat hingga lima minggu ke depan.

Meluasnya Front Perang ke Lebanon

Konfrontasi kini tidak lagi terbatas pada wilayah Iran. Pada Senin, kelompok Hezbollah di Lebanon meluncurkan hujan roket dan drone ke wilayah utara Israel sebagai bentuk solidaritas atas kematian Ayatollah Ali Khamenei.

Serangan Hezbollah secara spesifik menargetkan situs pertahanan rudal di selatan Haifa. Sebagai respons, militer Israel meluncurkan serangan udara dan laut besar-besaran ke posisi Hezbollah di Beirut Selatan dan wilayah Lebanon Selatan. Otoritas Lebanon melaporkan sedikitnya 52 orang tewas akibat gempuran Israel tersebut. Alhasil, perang regional yang banyak pihak khawatirkan kini telah menjadi realitas yang meluluhlantakkan stabilitas Mediterania Timur.

Diplomasi PBB dan Angka Korban Jiwa

Di panggung diplomasi, utusan Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mendesak Dewan Keamanan untuk mengutuk serangan AS-Israel sebagai kejahatan perang. Iravani melabeli tindakan sekutu sebagai bentuk agresi ilegal terhadap kedaulatan negara anggota PBB.

Hingga saat ini, data dari Bulan Sabit Merah Iran menunjukkan sedikitnya 555 orang tewas di dalam wilayah Iran akibat bombardir udara. Sementara itu, Israel mencatatkan 11 korban jiwa akibat serangan balasan Teheran. Dunia kini menanti apakah kekuatan global mampu memediasi gencatan senjata sebelum Selat Hormuz menjadi kuburan bagi perdagangan internasional dan memicu depresi ekonomi global di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Warga AS di Iran Terancam Jadi Alat Tawar Politik Pasca-Serangan Udara
Krisis Ganti Rugi $130 Miliar: Pengadilan AS Tolak Permohonan Trump
Remaja 18 Tahun Bacok Ibu Kandung di Tana Toraja, Emosi Tak Ada Makanan
KPK Siap Hadiri Sidang Praperadilan Yaqut soal Korupsi Kuota Haji di PN Jaksel
KPK OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Diamankan di Jawa Tengah – OTW Jakarta
Kemenag Gelar Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H pada 19 Maret 2026, Libatkan BMKG dan BRIN
MUI Desak Indonesia Keluar dari Board of Peace, PGI Sebut Langkah RI Blunder
Bareskrim Polri Ringkus Penghubung dan Pemasok Sabu Jaringan Ko Erwin di Apartemen Mewah

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 13:17 WIB

Warga AS di Iran Terancam Jadi Alat Tawar Politik Pasca-Serangan Udara

Selasa, 3 Maret 2026 - 12:04 WIB

Krisis Ganti Rugi $130 Miliar: Pengadilan AS Tolak Permohonan Trump

Selasa, 3 Maret 2026 - 11:46 WIB

Remaja 18 Tahun Bacok Ibu Kandung di Tana Toraja, Emosi Tak Ada Makanan

Selasa, 3 Maret 2026 - 11:29 WIB

KPK Siap Hadiri Sidang Praperadilan Yaqut soal Korupsi Kuota Haji di PN Jaksel

Selasa, 3 Maret 2026 - 11:16 WIB

KPK OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Diamankan di Jawa Tengah – OTW Jakarta

Berita Terbaru