Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Perairan Sri Lanka

Sabtu, 7 Maret 2026 - 21:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konflik melintasi samudra. Kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan frigat terbaru Iran, IRIS Dena, di lepas pantai Sri Lanka. Peristiwa ini menandai eskalasi militer pertama yang melibatkan torpedo sejak Perang Dunia II. Dok: Istimewa.

Konflik melintasi samudra. Kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan frigat terbaru Iran, IRIS Dena, di lepas pantai Sri Lanka. Peristiwa ini menandai eskalasi militer pertama yang melibatkan torpedo sejak Perang Dunia II. Dok: Istimewa.

GALLE, POSNEWS.CO.ID – Perang antara Amerika Serikat dan Iran kini meluas hingga ke Samudra Hindia. Kapal selam bertenaga nuklir Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran, IRIS Dena, pada Selasa malam.

Lokasi kejadian berada di lepas pantai selatan Sri Lanka. Insiden berdarah ini membuktikan ancaman Presiden Donald Trump untuk menghancurkan struktur militer Teheran. Alhasil, frigat terbaru milik angkatan laut Iran tersebut kini karam di dasar laut bersama puluhan awaknya.

“Kematian Senyap” dan Rekaman Pentagon

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi serangan tersebut di Pentagon. Militer Amerika Serikat merilis cuplikan hitam-putih yang menunjukkan momen krusial serangan. Torpedo kelas berat Mark 48 terlihat menghantam lambung IRIS Dena dengan sangat presisi.

“Kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman,” ujar Hegseth. Ia melabeli penyerangan tersebut sebagai “kematian senyap”. Hegseth mengeklaim peristiwa ini sebagai penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo sejak Perang Dunia II. “Kita bertempur untuk menang, persis seperti saat era Departemen Perang dahulu,” tambahnya secara asertif.

Baca Juga :  Viral di Kendari, Napi Korupsi Keluar Rutan untuk Ngopi, Ini Sanksinya

Operasi Penyelamatan di Zona Ekonomi Eksklusif

Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, menyebut penjaga pantai menerima panggilan darurat pada Rabu fajar. Para awak kapal yang selamat mendeskripsikan ledakan dahsyat yang melumpuhkan sistem pertahanan kapal secara instan.

Oleh karena itu, Sri Lanka segera mengerahkan dua kapal angkatan laut guna melakukan pencarian. Tim medis menyelamatkan 32 orang dari total estimasi 180 kru di atas kapal. Juru bicara Angkatan Laut, Buddhika Sampath, melaporkan penemuan 87 jenazah di lokasi yang berjarak 81 kilometer dari Galle. Lokasi serangan berada di luar wilayah perairan teritorial, namun masih di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Sri Lanka.

Kritik atas Pelanggaran Hukum Internasional

Langkah militer Washington ini memicu perdebatan sengit mengenai legalitas perang. Wes Bryant, mantan ahli penargetan Angkatan Udara AS, melabeli serangan tersebut sebagai tindakan ilegal.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Ingin Percepat Pembangunan IKN, Target Fasilitas Negara Rampung 2028

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pasalnya, kapal tersebut sedang dalam perjalanan pulang dari latihan navigasi di Teluk Benggala. “Anda tidak bisa mengeklaim kapal ini sebagai ancaman segera jika ia tidak aktif menyerang,” tegas Bryant. Ia menilai kebijakan administrasi Trump sebagai contoh berbahaya dari pelampauan wewenang militer (military overreach).

Eskalasi Regional dan Front Turki

Di saat Samudra Hindia membara, konflik juga merembat ke wilayah anggota NATO. Turki melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal balistik Iran pada hari Rabu.

Selanjutnya, Garda Revolusi Iran (IRGC) bersumpah akan terus meluncurkan serangan balasan. Teheran mengincar berbagai fasilitas sekutu di seluruh Timur Tengah. Dengan penutupan Selat Hormuz yang sudah berjalan lima hari, dunia kini bersiap menghadapi krisis energi global yang lebih parah di sisa tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

9,1 Juta Warga Benggala Barat Kehilangan Hak Pilih Jelang Pemilu
Modus Tanya Alamat Berujung Pembacokan, Pelaku Begal Dibekuk
Polisi Ringkus 2 Pelaku Penjual Phishing Tools, Kerugian Tembus Rp350 Miliar
Buronan Narkoba 2 Wanita Diburu, Polisi Ungkap Peran Licin di Balik Layar
Tekanan Tiongkok Paksa Presiden Taiwan Batalkan Kunjungan ke Afrika
Aliansi Seoul-Washington: Komandan Militer AS Protes Dugaan Kebocoran Data Nuklir Korut
Kepentingan Bisnis di Atas Segalanya: Ceko Tolak Fasilitas Negara untuk Misi ke Taiwan
Gas Bocor Berujung Petaka, Ledakan Dahsyat Lukai Satu Keluarga di Pandeglang

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 19:53 WIB

9,1 Juta Warga Benggala Barat Kehilangan Hak Pilih Jelang Pemilu

Rabu, 22 April 2026 - 19:45 WIB

Modus Tanya Alamat Berujung Pembacokan, Pelaku Begal Dibekuk

Rabu, 22 April 2026 - 19:28 WIB

Polisi Ringkus 2 Pelaku Penjual Phishing Tools, Kerugian Tembus Rp350 Miliar

Rabu, 22 April 2026 - 19:10 WIB

Buronan Narkoba 2 Wanita Diburu, Polisi Ungkap Peran Licin di Balik Layar

Rabu, 22 April 2026 - 18:46 WIB

Tekanan Tiongkok Paksa Presiden Taiwan Batalkan Kunjungan ke Afrika

Berita Terbaru

Ilustrasi, Demokrasi di bawah ancaman. Revisi daftar pemilih yang kontroversial di Benggala Barat mengakibatkan penghapusan masif hak pilih minoritas, memicu tuduhan manipulasi sistemik dan kegagalan algoritma AI dalam mengenali identitas warga tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

9,1 Juta Warga Benggala Barat Kehilangan Hak Pilih Jelang Pemilu

Rabu, 22 Apr 2026 - 19:53 WIB