Realisme Defensif: Mengejar Kekuatan Secukupnya demi Stabilitas Global

Rabu, 11 Maret 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keamanan melalui moderasi. Melalui lensa Realisme Defensif Stephen Walt dan Robert Jervis, kita memahami mengapa ambisi kekuasaan yang berlebihan justru menjadi bumerang yang menghancurkan keamanan sebuah negara. Dok: Istimewa.

Keamanan melalui moderasi. Melalui lensa Realisme Defensif Stephen Walt dan Robert Jervis, kita memahami mengapa ambisi kekuasaan yang berlebihan justru menjadi bumerang yang menghancurkan keamanan sebuah negara. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tengah hiruk-pikuk perlombaan senjata di Pasifik dan krisis militer di Timur Tengah tahun 2026, muncul perdebatan fundamental: apakah keamanan sejati lahir dari dominasi mutlak atau dari keseimbangan yang terukur?

Para penganut Realisme Defensif menawarkan jawaban yang menenangkan namun sangat strategis. Oleh karena itu, kebijakan luar negeri yang bijaksana seharusnya tidak bertujuan untuk menaklukkan dunia, melainkan untuk memastikan bahwa tidak ada pihak lain yang memiliki insentif untuk menyerang.

1. Jebakan Kekuatan: Mengapa Agresi Memicu Aliansi Lawan?

Stephen Walt melalui karyanya The Origins of Alliances memperkenalkan teori penyeimbangan ancaman (Balance of Threat). Menurutnya, negara-negara tidak hanya bereaksi terhadap kekuatan fisik murni, tetapi terhadap ancaman yang mereka persepsikan.

Pasalnya, ketika sebuah negara mengejar kekuatan militer secara berlebihan, negara-negara tetangga akan merasa terancam. Alhasil, mereka akan segera membentuk aliansi tandingan guna membendung ambisi tersebut. Sebagai contoh, upaya ekspansi agresif Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan justru mendorong lahirnya pakta AUKUS dan penguatan kemitraan strategis AS-Jepang-Filipina. Dalam logika defensif, mengejar kekuasaan yang terlalu besar justru menciptakan lingkungan internasional yang lebih memusuhi dan berbahaya bagi negara tersebut.

Baca Juga :  Xi Jinping Telepon Lula: China dan Brasil Siap Jadi Kekuatan Konstruktif

2. Mempertahankan Status Quo: Keamanan di Atas Ekspansi

Berbeda dengan Realisme Ofensif yang menganggap negara sebagai “pencari kekuasaan” (power seekers), Realisme Defensif melihat negara sebagai “pencari keamanan” (security seekers). Fokus utamanya adalah menjaga Status Quo atau tatanan yang ada saat ini.

Selanjutnya, Robert Jervis menekankan bahwa sebagian besar pemimpin dunia sebenarnya menginginkan stabilitas. Mereka menyadari bahwa biaya untuk mengubah tatanan dunia melalui perang sering kali jauh lebih besar daripada keuntungan yang mereka dapatkan. Oleh sebab itu, negara yang cerdas akan memprioritaskan diplomasi dan pertahanan wilayah ketimbang melakukan petualangan militer di tanah asing yang berisiko menguras sumber daya ekonomi nasional.

3. Teknologi Pertahanan dan Logika Pencegahan (Deterrence)

Peran teknologi militer dalam menciptakan perdamaian menjadi poin krusial dalam pemikiran Jervis. Ia memperkenalkan konsep keunggulan defensif-ofensif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara teknis, jika teknologi pertahanan (seperti sistem rudal pencegat atau benteng digital) lebih kuat daripada teknologi penyerangan, maka risiko perang akan menurun.

  • Efek Gentar (Deterrence): Memiliki senjata nuklir atau pertahanan siber yang canggih bertujuan agar musuh menyadari bahwa biaya serangan akan berakhir pada kehancuran kedua belah pihak.
  • Transparansi Militer: Realisme Defensif mendorong adanya komunikasi guna mengurangi kesalahpahaman. Jika negara mampu membuktikan bahwa persenjataannya murni untuk bertahan, maka “Dilema Keamanan” dapat diredam.
Baca Juga :  Good Design Indonesia 2025 Apresiasi 51 Produk Terbaik, 8 di Antaranya Tembus G-Mark Jepang

Dengan demikian, stabilitas global di tahun 2026 sangat bergantung pada kemampuan negara-negara besar untuk meyakinkan dunia bahwa kekuatan mereka adalah tameng, bukan pedang.

Kesimpulan: Moderasi sebagai Strategi Tertinggi

Realisme Defensif mengingatkan kita bahwa ketamakan dalam kekuasaan adalah musuh utama keamanan. Pada akhirnya, perdamaian abadi mustahil tercapai jika setiap negara terobsesi menjadi hegemon.

Tantangan bagi pemimpin seperti Donald Trump, Xi Jinping, dan Friedrich Merz adalah bagaimana membangun kekuatan nasional tanpa merusak tatanan global. Melalui kebijakan yang moderat, transparan, dan fokus pada perlindungan kedaulatan, dunia memiliki kesempatan lebih besar untuk menghindari “Tragedi Kekuatan Besar”. Stabilitas bukan lahir dari kelemahan, melainkan dari kekuatan yang petugas gunakan secara bijaksana dan bertanggung jawab.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Natalius Pigai Siapkan Program Nasional HAM untuk Jurnalis di Indonesia
Polda Metro Tegaskan Kematian Pensiunan JICT Ermanto Usman Murni Perampokan
Retorika vs Realita: Membedah Dualisme Pesan Washington dalam Perang Iran
Babak Baru Beijing-Pyongyang: Mengamankan Pengaruh di Tengah Bayang-Bayang Trump dan Rusia
Perang Dingin Baru: Unipolaritas, Bipolaritas, dan Mana yang Lebih Stabil?
Realisme Neoklasik: Membedah Faktor Domestik di Balik Respon Negara Terhadap Tekanan Global
Memahami Realisme Ofensif dan Ambisi Hegemoni Regional
Dilema Keamanan Nuklir: Saat Upaya Bertahan Hidup Justru Memicu Perlombaan Senjata

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 22:28 WIB

Natalius Pigai Siapkan Program Nasional HAM untuk Jurnalis di Indonesia

Rabu, 11 Maret 2026 - 21:59 WIB

Polda Metro Tegaskan Kematian Pensiunan JICT Ermanto Usman Murni Perampokan

Rabu, 11 Maret 2026 - 21:28 WIB

Retorika vs Realita: Membedah Dualisme Pesan Washington dalam Perang Iran

Rabu, 11 Maret 2026 - 20:27 WIB

Babak Baru Beijing-Pyongyang: Mengamankan Pengaruh di Tengah Bayang-Bayang Trump dan Rusia

Rabu, 11 Maret 2026 - 20:07 WIB

Perang Dingin Baru: Unipolaritas, Bipolaritas, dan Mana yang Lebih Stabil?

Berita Terbaru